Ruang Diorama, BERITA UIN Online— Para dosen-peneliti perguruan tinggi dituntut bekerja lebih keras dan berupaya lebih optimal dalam menuliskan karya akademik layak publikasi jurnal terindeks Scopus. Berfikir inovatif dinilai jadi keharusan selain mengedepankan kerjasama.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Paresh Kumar Narayan, Paresh Kumar Narayan, Alfred Deakin Professor of Finance pada Deakin University saat menjadi pembicara workshop penulisan artikel bagi para dosen-peneliti PTKIN. Workshop bertajuk ‘Writing Strategy for National and International  Scientific Journal’ di Ruang Diorama, Kamis (14/11/2019).

Workshop sendiri merupakan bagian dari kegiatan International Public Seminar & Workshop Academic Writing pada Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-6. Kegiatan diinisiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Jakarta dan BI Institute didukung Ikatan Ahli Ekonomi Islam.

Narayan menuturkan, aktivitas publikasi karya akademik makin kompetitif karena menjadi ikut menjadi standar komunitas akademik. “Karenanya, dibutuhkan kerja keras. Dibutuhkan ikhtiar lebih optimal,” katanya.

Selain itu, dengan kecenderungan perkembangan ilmu pengetahuan, kegiatan penulisan karya akademik juga perlu dilakukan secara kolaboratif. Hal ini penting dalam memberikan pengalaman publikasi bagi para penulis lainnya.

Berangkat dari pengalamannya sebagai penulis sekaligus editor jurnal internasional terindeks SCOPUS, Presiden Asia-Pacific Applied Economics Association atau APAEA ini berbagi tips agar para dosen-peneliti berhasil mempublikasikan tulisannya. Secara teknis, misalnya, sebuah paper yang bagus bisa terlihat sejak pendahuluannya.

“Pendahuluan yang bagus, menjelaskan apa yang menjadi temuan utama tulisan? Sejauhmana temuan dalam riset bisa berkontribusi pada literature? Lalu apa kontribusinya? Apakah hasil riset Anda itu kuat?” katanya lagi

Narayan menambahkan, tidak sedikit paper yang diajukan para dosen-peneliti sebuah perguruan tinggi ditolak diterbitkan oleh sebuah jurnal. Hal ini diakibatkan sejumlah kelemahan yang jarang disadari seperti teknis tulisan kurang tepat, persoalan bahasa, idenya yang bagus tidak cukup tepat menyasar main area topik risetnya.

“Lainnya, literature review yang lemah, ketiadaan teori pendukung, terlalu banyak statistik” katanya. (adt/zm)

Share This