Prof. Dr. Suwendi, M.Ag.
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta resmi mengukuhkan Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag. sebagai Guru Besar bidang Pemikiran Pendidikan Islam pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam momen bersejarah tersebut, akademisi kelahiran Indramayu pada 23 April 1976 ini menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Dari Subkultur ke Rekognisi Negara: Transformasi Pesantren dalam Arsitektur Sistem Pendidikan Nasional”, yang membedah perjalanan panjang pengakuan negara terhadap otonomi kultural pesantren melalui pisau analisis teori rekognisi Axel Honneth serta merumuskan tiga instrumen kebijakan strategis: prinsip “satu rumah banyak kamar”, rezim Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jalur pendidikan formal pesantren (Pendidikan Diniyah Formal, Satuan Pendidikan Mu'adalah, dan Ma'had Aly), serta skema multi-entry multi-exit.
Rekam jejak intelektual Prof. Suwendi dibangun melalui perpaduan tradisi kepesantrenan—mulai dari Pesantren Al-Fatah Wotbogor Indramayu, Pesantren Raudlatuth Thalibin Babakan Ciwaringin Cirebon, hingga Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat—dengan pendidikan tinggi formal di IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak jenjang Sarjana (1998), Magister (2000), hingga meraih gelar Doktor (2008). Ketajaman analisis kebijakan pendidikannya juga ditempa melalui pengabdian birokrasi selama tiga belas tahun di Kementerian Agama Republik Indonesia (2011–2023), termasuk menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Direktorat PTKI, Analis Kebijakan Ahli Madya Setditjen Pendidikan Islam, serta keterlibatan langsungnya dalam tim perumus penetapan Hari Santri, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, dan RUU Sisdiknas.
Kini, selaku Guru Besar Sekolah Pascasarjana sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta, karya-karyanya konsisten mengupas sejarah dan kebijakan pendidikan Islam, khitah pesantren, integrasi ilmu, hingga kecendekiaan digital (digital scholarchy), sehingga pengukuhan guru besar ini tidak hanya menjadi puncak capaian akademik personal, melainkan juga kian memperkokoh kontribusi strategis UIN Jakarta dalam merancang arsitektur kebijakan pendidikan Islam dan nasional yang inklusif serta berkeadilan di Indonesia.


















