Malang, BERITA UIN Online – Perhelatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset (Pionir) IX Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia yang digelar di kampus UIN Malang, Jawa Timur, resmi ditutup, Sabtu (21/7/2019) malam. Acara penutupan dilakukan Sekretaris Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Imam Syafe’i yang ditandai penyalaan kembang api.

UIN Malang dalam ajang dua tahunan itu dinyatakan sebagai juara umum dan berhak memegang piala bergilir Menteri Agama RI. Piala juara umum tersebut lalu diserahterimakan dari Sekretaris Dirjen Pendis Imam Syafe’i kepada Rektor UIN Malang Abdul Haris. Sebelumnya, piala juara umum dipegang oleh UIN Banda Aceh selaku tuan rumah pada Pionir VIII tahun 2017.

Rektor UIN Malang Abdul Haris dalam laporannya menyebutkan, Pionir IX diikuti oleh 3.200 peserta, 700 official, dan 58 pimpinan kontingen (PTKIN). Pionir mempertandingkan sebanyak 38 mata lomba meliputi cabang olahraga, seni, ilmiah, dan riset.

Hasil akhir gelaran Pionir IX, UIN Malang menempati urutan pertama dari 10 besar kontingen peserta berdasarkan perolehan medali emas terbanyak. Medali yang diperoleh UIN Malang sebanyak 22 keping, terdiri atas 10 emas, 5 perak, dan 7 perunggu.

Selanjutnya di urutan kedua diraih UIN Surabaya dengan perolehan medali sebanyak 12 keping (7 emas, 2 perak, 3 perunggu), ketiga UIN Bandung sebanyak 18 medali (5 emas, 3 perak, 10 perunggu), keempat UIN Riau sebanyak 10 medali (5 emas, 2 perak, 3 perunggu), kelima UIN Yogyakarta sebanyak 10 medali (5 emas, 2 perak, 3 perunggu), keenam UIN Jakarta sebanyak 10 medali (4 emas, 4 perak, 2 perunggu), ketujuh IAIN Tulung Agung sebanyak 10 medali (4 emas, 3 perak, 3 perunggu), kedelapan IAIN Metro Lampung sebanyak 5 medali (3 emas, 2 perak), kesembilan UIN Palembang sebanyak 8 medali (3 emas, 1 perak, 4 perunggu), dan kesepuluh STAIN Bengkalis sebanyak 4 medali (3 emas, 1 perak).

Imam Syafe’i dalam sambutan penutupan sangat mengepresiasi penyelenggaraan Pionir yang digelar tahun ini. Bagi kontingen, katanya, Pionir bukan sekadar ajang adu prestasi atau menjadi juara tetapi juga mampu menyekesaikan semua perlombaan dengan baik.

Kepada para peserta, ia juga berpesan agar mahasiswa PTKIN menjadi kandang jago, bukan jago kandang. Prestasi mahasiswa PTKIN suatu saat akan menjadi jago dunia. Namun, ia mengingatkan, untuk meraih prestasi dunia tersebut setiap mahasiswa harus bekerja keras, tidak enak-enak alias tidak berkeringat.

“Anak jerapah saat baru lahir tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi supaya bisa bangkit dan berjalan, anak jerapah lalu ditendang ke sana-sini oleh ibunya,” ucapnya bertamsil.

Hal yang sama juga dilakukan terhadap mahasiswa PTKIN. Menurut Imam, mahasiswa PTKIN harus “ditendang-tendang“ agar bangkit semua, sehingga PTKIN pun menjadi kandang jago di dunia internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Imam Syafe’i memberikan apresiasi terhadap dua juara pertama lomba musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ) kategori putra dan putri dengan mengundangnya ke kantor pusat Kementerian Agama di Jakarta. Kedua pemenang itu putra berasal dari kontingen UIN Surabaya, Jawa Timur, dan putri berasal dari IAIN Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

“Saya janji qari dan qari’ah yang juara akan undang ke kantor Kemenag di Jakarta untuk bertemu dengan Menteri Agama. Semua biaya transportasi dan akomodasinya saya tanggung,” katanya. (ns)

Share This