Student Center, BERITA UIN Online– Setahun pasca kepergian Danarto, salah satu sastrawan nasional, tiga sastrawan berkumpul di Hall Student Center UIN Jakarta, Senin (29/4/2019), untuk mengenang kepergiannya. Tiga sastrawan tersebut yaitu, Sapardi Djoko Darmono, Radhar Panca Dahana, dan Abdullah Wong.

Setahun yang lalu, penulis kumpulan cerpen Godlob itu meregang nyawa setelah tertabrak motor saat hendak menyeberang jalan di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.

Radhar Panca Dahana dengan pepatah Jawa ilmu kelakone kanthi laku, mengungkap rahasia dari karya sastra Danarto yang kompleks, sufistik, namun juga membumi dengan realitas kehidupan rakyat.

“Apa yang tidak dimiliki oleh kita, termasuk kalangan seniman adalah intensitasnya dalam menjalani kehidupan. Keprihatinannya di dalam memahami dan menjalani kehidupan, karena ingin memahami itu dan menyelamatkan umat manusia,” jelas Pendiri Perhimpunan Pengarang Indonesia ini.

Ketika membandingkan Danarto dengan pengarang hari ini, Radhar menyebut banyak pengarang yang fancy, parfumnya wangi, karena bergelar, punya status di politik atau artis, tiba-tiba karyanya laku dan laris hanya bermodal permainan kata, namun karyanya tidak berisi dan tidak akan dicatat dalam sejarah sastra.

“Danarto tidak bisa hanya bermain di atas buku, dia mengurung diri dalam keadaan menderita karena ingin merasakan penderitaan masyarakat, rakyat, manusia. Ia hidup marjinal yang artinya di pinggir tebing. Kalau tidak waspada akan jatuh ke kegelapan dan kekufuran,” ujar Radhar.

Menurut Radhar, Danarto membuat banyak terobosan dalam bidang sastra. Misalnya ketika di akhir tahun 60an banyak sastrawan realis, Danarto justru memunculkan aliran non-realis. Danarto memiliki kecenderungan menggugat realitas lewat karya berpikir yang berbeda.

“Danarto punya keberanian memahamkan dengan cara yang berbeda, sementara sekarang kita ikut apa kata mainstream, tidak berani berbeda dan harus ikut kubu,” tegas Radhar.

Walau sering Danarto menciptakan satu ekspresi yang kasar dan dekil, Radhar menyebut ada pesan di dalamnya dimana seharusnya para pembaca tidak berlaku demikian dan sebaiknya bagaimana berlaku.

Abdullah Wong menyebut bahwa karya sastra terdahulu ditulis oleh orang yang berdarah-darah dan tertatih-tatih. Dalam budaya yang di zaman kiwari yang serba instan dan gampang, menurut Abdullah, karya Danarto akan terus aktual.

“Saya pernah menemukan satu kasus, anak SD tidak tahu nasi berasal darimana akibat budaya serba instan. Melaui karya seperti Danarto yang bukan hanya ditulis di situasi sulit, tapi juga oleh orang yang terlunta-lunta hidupnya, kita bisa memunculkan kembali peradaban dalam membaca realitas,” ujar penulis Novel Mada ini.

Sementara, Sapardi Djoko Darmono menyebut bahwa masing-masing penyair dan sastrawan punya pembacanya dan tidak perlu dibanding-bandingkan.

“Masing-masing lain, jangan dibandingkan, kalau bisa baca semua,” tegas Sapardi.

Sapardi memahami bahwa kemampuan tiap pembaca berbeda-beda, dan memaklumi apabila banyak generasi muda yang tidak mengenali dan bisa menangkap karya Danarto.

“Kalau tak bisa menangkap Danarto tidak apa-apa, masing-masing karya menuntut pengetahuan, kecerdasan, pengalaman yang berbeda-beda,” pungkas Penulis Syair Hujan di Bulan Juni ini.

Sumber: https://www.gatra.com/detail/news/412975/millennials/mengenang-setahun-kepergian-sastrawan-danarto, Senin, 29 April 2019. (lrf/mf/Ahmad Jilul Qurani Farid)

Share This