Jika Pesantren Modern lnternasional (PMI) Dea Malela menjadi salah satu lokus penting pembicaraan tentang isu-isu nasional dan internasional, tidak mengherankan PMI Dea Malela dirancang untuk menjadi lebih daripada sekadar institusi pandidikan Islam, tetapi juga sebagai lokus pemukiman di sebuah desa kawasan Indonesia bagian-tengah, persisnya di jalan lintas Sumbawa-Lunyuk km 40, Pamangong, Sumbawa [Tengah], Nusa Tenggara Barat.

Dengan Iokasinya yang dikelilingi bukit dan hutan primer, PMI Dea Malela berbeda dengan banyak pesantren dewasa ini di Pulau Jawa atau Sumatera. Banyak pesantren di pulau-pulau ini kini berada di wilayah semi urban atau urban. Oleh karena itu, kian banyak pesantren yang tidak lagi bisa diasosiasikan sebagai bagian dan dunia rural atau pedesaan.

Perjalanan ke Malela dan Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin, Sumbawa Besar, memerlukan waktu dengan mobil sekitar satu setengah jam, melewati jalan berbelok-belok di sisi bukit dan jurang yang dalam. Jalan ke pesantren sudah dikeraskan, walaupun ada bagian-bagian yang rusak dikarena juga dilindas truk-truk besar sebuah perusahaan tambang berlokasi tidak jauh. Baik sisi bukit maupun sisi jurang yang dalam dipenuhi hutan primer dan sekunder.

Sepanjang perjalanan tidak terlihat banyak permukiman penduduk-dusun atau desa. Juga tidak ada warung untuk tempat berhenti menikmati makanan atau minuman. Lingkungan alam yang indah sepanjang perjalanan sangat potensial untuk pariwisata- kini khususnya wisata pendidikan pesantren.

Dea Malela. lni adalah kosakata atau persisnya nama vernakular-nama lokal. Pemilihan nama ini menunjukkan vernakulansasi Islam yang pernah sangat intens sepanjang sejarah lslamisasi berbagai suku dan wilayah di kepulauan nusantara. Melalui proses vernakularisasi inilah Islam menjadi embedded dengan warga, komunitas, dan budaya lokal.

PMI Dea Malela memakai istilah ‘internasional’ dinamanya, maka nama yang dinahbiskan pada Dea Malela juga adalah sosok kosmopolitan. Riwayat kehidupannya melintasi Gowa-Makasar; Tana Samawa (Sumbawa); Batavia, dan Simon’s Town, Afrika Selatan.

Dea Malela adalah gelar Ismail asal Gowa Makassar. Bersama ayahnya Abdulkadir Jailani yang lebih terkenal dengan gelar Dea Koasa, Dea Malela dalam usia 18 tahun (1746) berlayar ke Tana Samawa. Di sana keduanya sudah ditunggu Lalu Angga bergelar Tuan Dea untuk menyiarkan Islam. Mereka adalah tipikal penyebar Islam yang berpindah dari satu tempat lain untuk menyebarkan Islam.

Bisa dipastikan ketiganya bukan hanya penyiar Islam, melainkan juga ulama yang aktif dalam intelektualisme Islam. Hal terakhir ini dapat dilihat dari sumber-sumber Afrika Selatan yang mencatat riwayat kehidupan mereka

Muslim Directory: Your Gateway to Islam in South Africa mencatat sebagai berikut: “For hundred years residents of Simons Town had known the existence of two holy shrines [karamat] situated just above Runciman’s Drive… While the precise identity of these awliya could never be verified, regular visitors have been unanimous in their opinion that buried in these graves are indeed ‘the friends’ of Allah. Typical of all karamats, the area has always been enveloped in aura of calm and tranquility.”

Dua aulia yang makamnya di Afrika Selatan disebut keramat, tidak lain adalah Dea Malela dan ayahnya Dea Koasa, seperti selanjutnya dituturkan sumber Afrika Selatan tadi:

“It was only earlier this century that a translation of a kitaab, passed from one generation to generation, revealed with any define certainty the identity of awliya buried here. Written in ancient Sumbawase [language], the kitaab identities these awliya as Imam Abdul Kariem bin Imam Jalil bin Imam Islam of Sumbawa in Indonesia. (a.k.a./also known as] Tuan Ismail Dea Malela and Tuan Dea Koasal.”

“In 1969, a second part of the ‘mystery’ was put to rest by a UCT [University of Cape Town] student, certain Mr Muller who conducted his these[s] on the Muslim community in Cape Town and specifically this area in Simon’s Town. His research findings revealed what oral history had claimed for centuries-that Tuan Ismail Dea Malela and his son [sic. Should be read his father] Tuan Dea Koasa are of royal descent. His research cites the kitaab as the most valuable piace of evidence linking the families of the Dea royal family in Pemagong, Sumbawa, Indonesia and Sultan Kaharuddin to the Dea royal family in Simon’s Town”.

Pembacaan selintas sumber-sumber Afrika Selatan tentang Dea Malela dan ayahnya Dea Koasa mengungkapkan, keduanya adalah bagian penting dari sejumlah ulama dan pejuang Islam yang diasingkan kolonial Belanda ke wilayah Cape Town Sejak dijajah Belanda [1652). kawasan ini menjadi tempat pengasingan ulama asal kepulauan nusantara-termasuk yang sudah banyak dikaji para penulis, Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari [wafat 1699) yang diasingkan ke Cape Town pada 2 April 1694, di mana dia kemudian disebut sebagai the Founder of Islam in South Africa. (mf)

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Republika, Kamis, 13 Desember 2018.

Share This