Oleh: Jajang Jahroni (Ketua LP2M UIN Jakarta)

Menulis Buku Harian

Di banyak pesantren santri pada umumnya memiliki buku harian. Di buku harian, ia dapat menulis apa saja, mulai dari perasaan suka atau jatuh cinta kepada lawan jenis, sampai daftar kebutuhan yang harus dibeli setiap bulannya. Sewaktu masih menyantri saya termasuk orang yang menikmati kebiasaan ini. Meskipun tidak begitu disiplin dengan mengisinya setiap hari, paling tidak saya menuliskan hal-hal yang saya anggap layak untuk ditulis. Suka kepada lawan jenis, karena pada saat itu usia tengah pubertas, adalah alasan utama untuk menulis. Terkadang menulis puisi atau apa saja, yang penting perasaan ini sedikit tertumpahkan.

Sementara itu seorang teman betul-betul berdisiplin dalam mengisi buku diarinya. Sebelum tidur, dengan cahaya meremang, saya melihat ia mulai menulis. Katanya, kalau belum menulis ia tidak bisa tidur. Terhadap orang-orang tertentu yang dianggap istimewa—tidak selalu lawan jenis—para santri mempersilakannya menulis, atau saling mengisi buku diari. Apa saja boleh, termasuk kesan dan pesan terhadap si empunya buku, dan kata-kata agar masing-masing tidak saling melupakan bila sudah berpisah nanti.

Tentang tulis menulis di buku harian, seorang teman bercerita bahwa buku hariannya tak ubahnya seorang teman baginya. Kepadanya ia bisa menumpahkan apa saja. Sedih, kesal, gembira, marah, maupun kecewa. Pada tanggal anu, bulan anu dan tahun anu, sekian tahun yang lalu, ceritanya, buku hariannya penuh dengan warna tinta yang membleber sehingga sulit untuk membaca tulisannya. Ceritanya, beberapa tahun sebelumnya ia berjanji pada dirinya sendiri agar pada tanggal dan hari itu, ia bisa menghafal al-Qur’an seluruhnya. Namun ternyata target itu tidak tercapai. Alih-alih bersuka cita, pada hari itu ia menangis sejadi-jadinya. Buku hariannya menjadi saksi.

Mungkin tak banyak yang menyadari bahwa kebiasaan menulis di buku harian atau diari memiliki peran penting dalam latihan menulis. Meskipun kebiasaan ini sudah lama ada—Pangeran Ahmad Djajadiningrat dari Serang pada awal abad ke-20 menulis memoarnya tentang pesantren dalam Het Leven in Pesantren (Hidup di Pesantren)—namun kebiasaan ini tidak pernah melembaga. Karena itu ada baiknya kepada para kyai dan guru-guru pesantren untuk paling tidak menganjurkan pada santri mereka untuk menulis di buku harian. Latihan ini pasti akan dirasakan manfaatnya justru ketika si santri keluar dari pesantren.

Kebiasaan untuk menulis di buku harian sebenarnya satu langkah menjadi seorang penulis. Banyak penulis yang memulai karirnya dengan rajin menulis di buku harian. Kebiasaan ini pula yang tampaknya merangsang penulis muda santri untuk melahirkan gender teenlit (teenager literatur) atau sastra remaja.

Menuju Tradisi Tulisan

Dari pembicaraan di atas, adalah keliru pandangan sementara kalangan yang menyebutkan bahwa pesantren hanya mengembangkan tradisi lisan (oral tradition), dan tidak mengenal tradisi tulisan (written tradition). Pandangan ini tidak didasarkan pada pengamatan yang mendalam tentang bagaimana kaum santri mengembangkan tradisi menulisnya. Memang ada persoalan, kaum santri pada umumnya tidak menerbitkan karya-karyanya dan menyebarkannya secara luas. Masalah ini berkaitan dengan keyakinan bahwa ilmu bukanlah hal yang harus dipamerkan. Jelas sekali mereka mencampuradukkan pengertian menerbitkan dan pamer. Ini tentu sangat disayangkan. Karena itu, sampai sekarang karya-karya kaum santri tidak banyak berubah dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Di samping keengganan untuk menerbitkan karya-karya mereka, faktor politik juga mempengaruhi produktivitas kaum santri. Seperti diketahui, pesantren pada umumnya berafiliasi ke Nahdhatul Ulama. Ketika NU bermain politik pada kurun 1950-an sampai 80-an, semua kyai NU dibuat sibuk oleh politik. Mereka tidak banyak waktu lagi untuk menulis. Tidak hanya menulis, pesantren pun banyak yang terbengkalai. Namun ketika NU memutuskan untuk kembali ke khittah perjuangannya sebagai organisasi jam’iyyah diiniyah, tradisi yang ditinggalkannya tersebut kembali diakrabi. Pada dasawarsa 80-an bermunculan kolumnis muda NU yang menulis di berbagai surat kabar baik lokal maupun nasional dan sejumlah karya kaum santri diterbitkan secara luas.

Karya-karya tertulis memegang peran penting dalam transmisi ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Pesantren sebenarnya memiliki tradisi yang luar biasa dalam hal menulis. Ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah karya bermutu tinggi yang dilahirkan oleh para ulama. Bila pada masa lalu pesantren bisa, sekarang pun harusnya bisa. (sam/zm)

Share This