Setiap kali menjejakkan diri dalam moda transportasi MRT, selalu terasa ada aura keadaban yang muncul. Tulisan singkat ini mencoba membacanya dalam cara pandang ilmu kota (kotalogy), yang salah satu pondasinya pada adalah Teori Sosial berbasis Sosiologi, Ekonomi, Politik, Ilmu Budaya, dan Semiologi.  Melalui proses hibridasi ilmu pengetahuan ini, kita bisa mengupas realitas secara detil dan mendalam.

Partikularitas pemahaman kadang menjadikan cara pandang kita egois dan tumpul. Di sinilah kotalogy menjadi penting dipergunakan untuk memahami obyek masalah, khususnya kota sebagai entitas yang melekat di dalam tubuhnya beragam ilmu pengetahuan sekaligus masalanya sendiri. Sebelum ada MRT, kita semua bisa dikatakan cukup sulit mengatasi persoalan perpindahan rutin masyarakat di Jadebotabek, dan juga kota-kota besar lainnya.

Berbagai pendekatan dan cara dikemukakan. Beberapa analisis dijelaskan terutama dampak kerugian dari kemacetan. Nilainya, menurut sebuah perhitungan, mencapai puluhan bahkan ratusan trilyun pertahun. Lalu apakah saat ini kemacetan sudah teratasi? Tentu saja belum. Sebab MRT baru satu lajur saja: Lebak Bulus sampai Bunderan HI. Tetapi apa yang ditunjukkan oleh MRT saat ini antara lain bahwa proses perpindahan moda transportasi manusia sudah menunjukkan arah yang benar. Bahkan dalam konteks sosial-budaya, MRT bukan hanya menawarkan perjalanan. Lebih jauh, MRT menawarkan perspektif baru menjalani kehidupan sebagai manusia komuter dengan semangat komunitarian. Sebab dalam setiap perjalanan MRT, kita bisa melakukan banyak hal lain, yang menjadi ciri manusia sosial. Misalnya kita bisa pergi secara bersama-sama, melakukan aktivitas lain yang bermanfaat selama di jalan, dan sebagainya.

Tentu semua daftar ini masih bisa ditambah, terutama dengan sesuatu yang sangat penting: ketepatan waktu! MRT, sebagaimana kita ketahui, adalah produk peradaban baru yang dihadirkan untuk kota-kota Indonesia. MRT dicita-citakan untuk mengatasi problem akut kota di Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, mengenai sistem transportasi. Sebab dalam MRT saat ini bukan hanya sebagai tawaran solutif bagi aktivitas perpindahan manusia, yang kemudian menjadi salah satu biang macet itu. Tetapi lebih jauh adalah produk riil yang memvisualisasikan fase peradaban masyarakat.

Kedua, MRT juga merupakan citra kesuksesan pembangunan kota. Sebab di tengah situasi yang hampir stuck. Dengan adanya moda transportasi ini, menyimbolkan pesan bahwa “jika kreatif, maka masih banyak peluang untuk memperbaiki keadaan”. MRT adalah contohnya. Masyarakat seperti menaruh harapan baru, sehingga produktivitas untuk meningkatkan kesejahteraan warga dengan sendirinya tumbuh signifikan.

Ketiga, proses MRT yang memerlukan energi bangsa yang besar, ditambah kesabaran publik yang kena imbas dari pembangunannya, menunjukkan bahwa nilai-nilai kota sudah ada pada rel yang benar. Pembangunan MRT sendiri ibaratnya merupakan latihan bersama antara masyarakat, pemerintah, pekerja, para ahli konstruksi, desainer, dan beragam keahlian lain yang sama-sama saling berkolaborasi, bersinergi untuk menghasilkan solusi.

Keempat, melalui MRT transformasi perubahan perilaku bisa terjadi. Contoh kecil, mereka yang biasanya kurang memperhatikan ketepatan waktu, dengan adanya MRT, hal itu bisa teratasi. Sehingga secara perlahan mereka ini akan terdidik untuk menepati waktu yang ada tanpa alasan yang sangat standar: macet. Apa yang tengah menggeliat ini, tentu akan menghasilkan luapan energi besar. Energy besar ini jika tidak dialirkan secara benar dan tepat, akan memberikan resiko yang tinggi bagi kemanusiaan sendiri. Oleh karena itu, pemerintah, berkaca dari MRT ini, harus segera mengagendakan pembangunan MRT lain yang akan menghubungkan seluruh entitas di Jakarta.

Dr Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Sosiologi Perkotaan dan Ketua Prodi S2 KPI FDIK UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sumber: kotalogy.com, 15 Januari 2020. (lrf/mf)

Share This