Sejak dilaksanakannya Muktamar Muhammadiyah dan Muktamar Nahdlatul Ulama pada 2015 lalu, perbincangan tentang wacana, konsep Islam Wasathiyyah mulai menguat. Wacana Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan yang digaungkan kala itu perlu diimbangi dengan praktik Islam Wasathiyyah. Peran lembaga seperti universitas diperlukan untuk mengaktualisasi Islam Wasathiyyah dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Mohammad Hashim Kamali (2015) dalam karyanya The Middle Path of Moderation in Islam: The Qur’anic Principle of Wasathiyyah tidak lagi menggunakan istilah ‘Islam Wasathiyyah’ yang lazim digunakan di Indonesia. Melalui karyanya, ia memperkenalkan ‘jalan tengah moderasi Islam’ yang didasarkan pada prinsip al-Qur’an tentang wasathiyyah.

Untuk menggali apa makna moderasi beragama di Indonesia, khususnya di UIN Jakarta, reporter BERITA UIN Online, Siti Heni Rohamna, mewawancarai Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga Andi Faisal Bakti d ruang kerjanya, Jumat (1/3/2019). Berikut petikannya:

Bagaimana pandangan Anda terkait moderasi beragama yang saat ini kembali digemakan?

Moderasi Islam bukan lagi hal baru dalam kontestasi beragama. Al-Qur’an dan hadis telah lama memperkenalkan Islam Wasathiyyah yang kini sering disebut dengan istilah populer moderasi Islam.

Dalam hadis disebutkan “khoirul umuri ausatuha,” sebaik-baiknya perkara itu yang ada di tengah-tengah. Melalui konsep ini, umat Islam di dunia diajak untuk selalu bersikap moderat—mengambil jalan tengah. Tidak mengadopsi paham agama yang ekstrim, merujuk pada sikap radikal, dan menjaga toleransi beragama.

 Sejauh ini bagaimana citra Islam di mata dunia?

Islam sebagai agama rahmatan lil-‘alamin harus tetap sesuai dengan konteks zaman. Moderasi Islam dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang. Dalam aspek geografis, Islam bisa berbaur di tengah peradaban dunia. Islam sekarang ini berada dalam taraf middle east di berbagai belahan dunia.

Di samping berkembangnya agama dan kepercayaan lain, sekarang ini Islam menduduki agama dengan pemeluk terbesar kedua di dunia. Konteks sekarang memang berbeda. Dulu Islam masih kurang pengakuan di negara Barat. Agama lain seperti Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu jauh lebih dikenal dibanding Islam.

Pascamerebaknya isu ‘Nine Eleven’ (9/11 atau 11 September) di Amerika Serikat, agama Islam kian dikenal di negeri Paman Sam tersebut. Peristiwa itu membuat masyarakat kian geram. Kemarahan yang menyulut emosi membuat mereka mulai mencari informasi tentang Islam dan Al-Qaeda. Aksi pembajakan pesawat komersial American Airlines begitu tragis hingga berhasil menewaskan kurang lebih 3.000 orang.

Berangkat dari rasa penasaran itu, orang Barat mulai memahami dan lambat laun menerima Islam sebagai agama yang plural. Mereka menyadari, sejatinya Islam mampu menerima semua perbedaan yang ada di setiap agama. Terlebih jika berbicara tentang filsafat sebagai arena mencari kebenaran. Kalangan Filsuf beranggapan, filsafat dan Islam adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Hal itu dikarenakan filsafat Islam memiliki coraknya sendiri.

 Adakah hubungan antara moderasi beragama dan penguatan ekonomi kerakyatan?

Dalam konteks moderasi beragama, politik dianggap penyebab utama memanasnya kondisi sosial masyarakat—segregasi sosial. Aksi yang dilakukan Al-Qaeda juga tak lepas dari aspek politik yang mengatasnamakan agama. Untuk memberantas stigma tersebut perlu digalakkan penguatan ekonomi Islam. Hal tersebut bisa terwujud jika generasi muda di tingkat universitas dilatih sedari dini untuk mempelajari entrepreneurship.

Modal utama dalam memajukan ekonomi ialah kepercayaan. Melihat kondisi sekarang, masyarakat mulai percaya dengan budaya ekonomi keislaman. Hal itu dibuktikan dengan tumbuh suburnya bank syariah di samping berkembangnya bank konvensional. Secara tidak langsung, fenomena itu mengatakan, ada ketertarikan antara ekonomi dan Islam yang sudah bisa diterima seluruh elemen publik.

Demi mendukung penguatan ekonomi, pengarusutamaan ilmu komunikasi juga perlu digencarkan. Pengelolaan media Islam yang produktif dan kreatif bisa menjadi solusi. Menyambut Revolusi 4.0, dengan tampilan virtual yang menarik, masyarakat Indonesia juga harus siap. Utamanya seluruh elemen di universitas yang nantinya akan menjadi pemimpin masa depan.

Apa saja langkah yang akan dilakukan untuk menjadikan UIN Jakarta sebagai kiblat moderasi beragama dunia?

Sudah sejak lama UIN Jakarta dikenal sebagai universitas Islam nomor satu di Indonesia. Dalam menghadapi isu moderasi beragama, saya memiliki program yang akrab dijuluki “empat kali dua” yang didasarkan pada prinsip dua arah, yakni take and give.

Pertama, program yang akan dicanangkan mengadakan studi banding bagi dosen-dosen UIN Jakarta untuk menjadi juru bicara sekaligus pembimbing di universitas luar negeri. Begitu juga sebaliknya, dosen dari universitas asing boleh menjalani studi banding di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) nomor satu ini. Pembelajaran Indonesian Islamic Studies perlu digalakkan juga di luar negeri.

Kedua, membangun UIN Jakarta menjadi universitas riset. Langkah ini dilakukan dengan mengirim dosen UIN Jakarta untuk melakukan penelitian di luar negeri. Seperti mempelajari budaya Timur Tengah. Timbal baliknya, peneliti dari negara asing dipersilakan menjalani risetnya di UIN Jakarta.

Ketiga, program pemberdayaan bagi mahasiswa berprestasi. Utamanya yang menjadi lulusan terbaik di tiap fakultas. Gagasan lulusan terbaik itu sangat cemerlang. Jika diasah sedikit saja mereka sudah bisa bereksplorasi melebihi target. Program ini dirancang untuk mencetak pemimpin masa depan yang berkualitas.

Mereka yang menjadi lulusan terbaik akan dikuliahkan di luar negeri atau diberi pelatihan intensif untuk menjadi pemimpin masa depan. Berkaca dari pengalaman, orang-orang besar memang lahir dari program yang dicetak oleh para pemikir cerdas. Dulu Andi pernah mengikuti program pelatihan intensif bersama 150 orang lainnya. Sekarang terbukti teman pelatihannya itu menjadi orang hebat semua.

Menjadi mahasiswa berprestasi tidaklah mudah. Untuk itu, karya dan dedikasi mereka harus diapresiasi setinggi-tingginya. Setiap sekali wisuda, para lulusan terbaik akan didata dan diangkat derajatnya.

Keempat, program pemberdayaan bagi seluruh sivitas akademika. Mulai dari staf hingga mahasiswa. Akan diadakan berbagai pelatihan. Seperti pelatihan Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Arab, yang diaudit melalui Pusat Pengembangan Bahasa UIN Jakarta.

Terakhir, dalam memaknai moderasi beragama, seluruh elemen masyarakat memang harus bangkit. Seperti perintah Allah “qum” dalam QS. Al-Muddassir. Ya ayyuhal muddassir, Qum fa-andzir. Dalam ayat ini dimaknai, umat Islam harus bangkit. Jangan sampai terbelenggu dalam kejayaan masa lalu. Wa rabbaka fakabbir, wa tsiyabaka fa tahhir. Bersihkanlah pakaianmu, artinya bukan ekstrimis, bukan sosialis. Warrujza fahjur. Dan tinggalkanlah segala perbuatan keji. Konsep tersebut harus diterapkan dalam konteks zaman ini. Demi mewujudkan moderasi beragama, umat Islam memang harus bangkit.(ns)

Share This