(Catatan perjalanan ke Mauritania)

Oleh Prof. Dr. Amany Lubis, MA

Pada 21-23 Januari 2020 saya mendapat undangan dari African Scholars Against Extremism untuk menghadiri Konferensi Internasional yang dihadiri para ulama dari berbagai penjuru dunia di Mauritania, Afrika. Saya mewakili Muslimah Indonesia untuk berbicara mengenai perdamaian dan toleransi di Afrika. Sebagai anggota Board of Trustees dari Forum for Promoting Peace in Muslim Societies yang berpusat di Abu Dhabi. Saya berusaha untuk hadir pada kegiatan kerja sama yang dilakukan di negara mana pun. Saya juga sebelumnya sudah pernah hadir bersama Peace Forum ini di Tokyo, Washington DC, London, Rabat, Marrakesh, dan Abu Dhabi.

Saya berangkat pada hari Ahad, 19 Januari 2020, tengah malam dari Jakarta menuju Mauritania, Afrika Utara, pukul 00.25 menaiki pesawat Qatar Airways menuju Doha selama 9.10 jam perjalanan. Setelah transit satu setengah jam, saya take off ke Casablanca untuk kembali melanjutkan perjalanan selama 8.15 jam. Di kota terakhir ini saya transit selama 10 jam dan beristirahat di sebuah hotel. Dengan perbedaan waktu delapan jam lebih awal antara Jakarta dan Casablanca, Maroko, perjalanan dilanjutkan ke Nawaksyut, Mauritania. Saya berangkat pada pukul 22.50 waktu setempat dan tiba pukul 01.00 dini hari (Senin, 20 Januari 2020) di kota Nawaksyut. Subhanallah, saya berarti telah melewati dua hari perjalanan dari Jakarta untuk menuju kota tujuan akhir tersebut.

Perjalanan berlangsung sekira kurang satu setengah jam dari Doha. Pesawat yang saya tumpangi melintas di atas Muscat, Ibu Kota Kesultanan Oman. Saya juga sempat melihat dari peta perjalanan melalui monitor TV pesawat bahwa kami berada di atas wilayah udara Kesultanan Oman, melintasi Ra’s al-Jimsh, Ramlat al-Wahiba, dan Wadi al-Batha. Saya teringat kota Muscat ini karena Sultan Qabus bin Said, Kepala Negara Oman, baru saja wafat di usia 80 tahun setelah memerintah selama 50 tahun sejak 1970. Sultan Qabus berhasil membangun negerinya dan memberi contoh pendekatan damai kepada semua pihak yang sedang bertikai secara politik.

Dari udara ternyata kota Muscat terlihat besar. Penduduknya ramai di tengah hamparan sahara dan di tepi pantai Teluk Arab yang berhadapan dengan Selat Hurmuz, Iran. Karena malam hari, terlihat lampu terang-benderang di tengah gelapnya sahara dan laut. Tapi pesawat Qatar tidak terbang di atas wilayah Emirat karena sedang ada konflik politik.

Saya berkunjung ke Mauritania selain untuk menghadiri acara koneferensi, juga memperkenalkan UIN Jakarta kepada warga setempat. Saya mengajak para pelajar dan mahasiswa di kota tersebut agar mereka mau melanjutkan kuliah di UIN Jakarta. Hal ini dilakukan karena UIN Jakarta sangat terbuka untuk kerja sama dengan Mauritania dan Nigeria. Apalagi UIN Jakarta sebelumnya sudah bekerja sama dengan Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Ibn Tufai dan Dar al-Hadis al-Hasaniyah di Maroko, dan Universitas al-Zaitunah di Tunisia. UIN Jakarta sebenarnya sudah lama memiliki mahasiswa asal Nigeria, tapi jumlahnya tidak banyak. Mahasiswa Afrika banyak yang memperoleh beasiswa dari Libya, Sudan, dan Mesir, serta ada 24 mahasiswa dari Gambia, termasuk dua mahasiswa asal Guinea Bissau. Mahasiswa bisa belajar di UIN Jakarta untuk jenjang S1, S2, dan S3.

Alhamdulillah, di hari pertama di Nawaksyut, saya berjumpa dengan Rektor Universitas al-Ulum al-Islamiyyah Prof. Dr. Muhammadu Lamurabit Ajid dari kota al-Uyun yang berjarak 800 kilometer dari Nawaksyut. Ia berada di Nawaksyut dalam rangka menghadiri Konferensi Internasional tentang peran ulama Afrika dalam peneguhan toleransi dan menghilangkan peperangan di Afrika. Insya Allah pada 23 Januari 2020 saya akan diundang ke Kantor Universitas ini di Nawaksyut, sehingga kami bisa bertukar pikiran untuk mengembangkan kampus dari berbagai seginya.

Pada Senin, 20 Januari 2020, saya berkesempatan mengunjungi sebuah pusat bisnis bagi kaum perempuan Mauritania. Ketuanya adalah Madam Fatimat. Perannya di tahun 1993 adalah mengusulakn kepada Presiden Mauritania pada saat itu agar perempuan diberi kesempatan memiliki toko dengan cara membeli tanah dari pemerintah. Ternyata ide ini diterima dan proyek pembangunan komplek pertokoan itu pun selesai pada 1997. Sejak itu, ia mengepalai asosiasi pengusaha perempuan dan berada di bawah binaannya lebih dari 500 pengusaha dan pedagang perempuan. Ia ingin betul melakukan transaksi dagang dengan berbagai pihat di Indonesia. Mereka perlu semua produk dari Indonesia, mulai tekstil, pakaian, tas, sepatu, kerajinan, perabot, meubeler, hingga kayu.

Pembukaan Konferensi  yang berlangsung Selasa, 21 Januari 2020, diawali dengan sambutan Menteri Urusan Islam Mauritania. Konferensi Internasional bertemakan “Peran Ulama Afrika dalam Menyebarkan Toleransi dan Moderasi” itu untuk menghentikan ekstremisme dan pembunuhan.

Tujuan Konferensi di antaranya peneguhan ulang dari ulama Afrika bahwa peran Islam besar di Afrika dan penerapan prinsip Islam yang digariskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga perdamaian.

Sambutan Syaikh Abdillah bin Bayyah menegaskan bahwa ulama di Aftika harus mengenal permasalahan masyarakat di Afrika dan memberikan solusi yang tepat dengan mempertimbangkan perbedaan etnik, agama, dan sosial-budaya. Pandangan agama dari para ulama diharapkan dapat menjelaskan penerapan wasatiyat Islam dan toleransi yang dimasksud Islam. Kewajiban ulama adalah mempertahankan prinsip Islam untuk semua anggota masyarakat, bukan menerima pandangan sempit yg mengantar pada ekstrimisme.

Perdamaian dan hidup harmonis bersama umat beragama semua adalah tujuan dari konferensi ini. Diperlukan ide alternatif untuk menyatukan langkah demi perdamaian guna menghadapi tindak kekerasan dan pembunuhan. Salam dalam Islam bukan hanya untuk sesama umat Islam, tapi salam juga ditujukan kepada semua orang. Salam di Afrika harus mencakup keharmonisan dan hidup damai bagi semua etnik dan pengikut agama. Di bawah pohon besar Afrika, petani dan penggembala berteduh, sehingga kehidupan akan berlangsung untuk kebaikan bersama. Kebenaran yang diungkap oleh para ulama memiliki sifat universalitas dan cenderung pada kebaikan yang hakiki. Toga dan tomas Afrika harus mengedepankan cara yang damai daripada menekankan perbedaan. Peace Forum selalu mencanangkan perdamaian dan toleransi, sehingga Emirat mencetuskan Tahun Perdamaian pada 2019. Segala bentuk kekerasan dan sikap kebencian yang mengantar pada perang harus segera dihentikan.

Ulama adalah agen perubahan karena dia diharapkan dapat mendekatkan antara yang ideal dari prinsip agama dan realita masyarakat. Ulama harus mampu menjadi pembaharu bagi konsep dan penerapan perdamaian dan toleransi. Kewajiban ulama di antaranya harus mampu menjelaskan pemikiran yang keliru di tengah masyarakat bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Pemaknaan jihad harus diperluas agar mencakup pembangunan masyarakat dan negeri, bukan hanya dengan soal perang.

Markaz Toleransi di Nawaksyut

Adam Janks dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam bahasa Perancis menyatakan bahwa dunia masih menggunakan senjata dalam penyelesaian masalah, sehingga masih ada pembunuhan massal di mana-mana. Perhatian PBB selama ini cukup besar serta berharap kepada para ulama dan tokoh masyarakat untuk menyelesaikan permasalah secara damai, meninggalkan senjata, dan permusuhan. Aspek kemanusiaan harus dikedepankan agar semua mendapatkan haknya untuk hidup di dunia ini secara terhormat dan bermartabat. Ekstremisme berbahaya karena kekerasan dan pembunuhan menjadi cara untuk menbuktikan keberadaan mereka. Tindak terorisme tidak hanya dituduhkan kepada umat Islam, tapi juga di berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang agama dan kepercayaan. Perkembangan sains dan teknologi kini harus diarahkan untuk kesejahteraan dan pembangunan yang berkelanjutan. Dari sini upaya jahat tidak akan memperoleh tempat di tengah masyarakat. Prinsip saling menghormati dan persaudaraan telah dicontohkan oleh Muhammad bin Abdullah SAW. Untuk itu, kami berterima kasih kepada Presiden Mauritania yang telah menghimpun ulama Afrika dan tokoh dari berbagai pelosok dunia untuk meluruskan pemikiran dari kekerasan menjadi perdamaian. Syaikh Abdullah bin Bayyah sangat mengetahui bahaya kejahatan yang akan mengantarkannya pada pembunuhan.

Selama konferensi berlangsung saya coba mencatat beberapa pemikiran pejabat negara yang hadir dan menyampaikan pandangannya di forum tersebut. Di antaranya Menteri Awqaf Mesir, Syaikh Mukhtar Jumuah. Menurut dia, berkumpulnya para ulama di Mauritania guna menyatakan tidak untuk pembunuhan dan terorisme. “Kita menyatakan ya untuk negara dan tidak untuk keberadaan ektremisme,” katanya.

Dia juga menegaskan bahwa terorisme tidak memiliki tanah air, agama, dan bangsa. Untuk itu, semua ulama harus menolak penisbatan terorisme terhadap agama tertentu. Penjaga keamanan bangsa adalah maqshid syar’i dan para ulama berkewajiban membantu kepala negara yang adil untuk memberantas terorisme. Tugas ulama adalah membuktikan bahwa gerakan ekstremisme jauh dari ajaran agama. Bahaya pemikiran harus dibalas dengan pemikiran yang memiliki argumentasi kuat. Negara akan kuat apabila pengkhianatan dan ekstremisme dihadapi bersama. Kemudian membangun negeri dan menyejahterakan masyarakat.

Sementara Menteri Agama Burkina Faso, Abu Bakar Dakole, mengatakan bahwa bangsa Mauritania adalah bangsa besar yang terkenal sebagai negeri yang menghormati ilmu, menguasai syair, dan contoh dalam kepemimpinan. Bangsa Afrika mengakui peran bangsa Mauritania dalam penyebaran Islam di Afrika. Cara yang digunakan dalam menyebarkan ajaran Islam dapat diterima oleh semua karena ulama Mauritania tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Atas nama bangsa Burkina Faso, ia mengucapkan terima kasih atas jasa Mauritania di Afrika dan Emirat yang telah menyatukan masyarakat dunia untuk berdamai dan menghormati kemanusiaan.

Hal senada juga diungkapkan Penasehat Presiden Guinea dan pejabat di Organisasi Konferensi Islam (OKI). Dalam sambutannya dengan bahasa Arab yang fasih ia mengimbau semua ulama dan cendekiawan untuk membela kebenaran dan menghilangkan kebencian yang sekarang terlihat di dunia, khususnya di Afrika. Banyak kebohongan yang disebar di tengah masyarakat, perselisihan, kekerasan, dan pembunuhan atas nama agama. Upaya ini terbukti tidak akan berhasil membangun peradaban. Hal yang akan menciptakan peradaban, menurutnya, adalah tanggung jawab untuk membangun, mengindahkan keadilan dan kemanusiaan serta menghilangkan rasa takut dan kebodohan di semua komunitas. Untuk itu, katanya, semua ulama perlu bersatu dan mengupayakan optimisme untuk mengalahkan terorisme dan melakukan kegiatan positif yang membangun.

Ia juga menegaskan bahwa melalui pembangunan ekonomi, politik, sosial-budaya, maka Afrika akan menjadi maju. Semua menanti deklarasi dari para ulama yang dihasilkan dari Konferensi ini. Selain juga diharapkan akan ada peningkatan kesadaran di Afrika, khususnya untuk meninggalkan kekerasan dan menerapkan perdamaian serta toleransi sebagaimana diperjuangkan oleh guru dan ulama semua, yaitu Syaikh Abdullah bin Bayyah.

Presiden Mauritania, Abdullah Walad Al-Syaikh al-Ghaswani, dalam sambutannya mengatakan, Mauritania menyambut baik diadakannya Konferensi tersebut yang menandakan bahwa Republik Islam Mauritania adalah negeri damai dan toleransi. Ia mengucapkan terima kasih kepada Syaikh Bin Bayyah atas diselenggarakan Konferensi Ulama di Nawaksyut. Lima negara pesisir Samudra Atlantik telah bertekad untuk memberantas ekstrimisme dan terorisme karena bertentangan dengan Islam dan kemanusiaan.

Seusai sambutan dari berbagai pejabat negara terkemuka, acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Konferensi secara resmi serta penyampaian pandangan dari para peserta secara panel dan dalam beberapa sesi.

Sesi panel pertama berjudul “Tantangan Ekstremisme dan Perdamaian di Afrika”. Para pembicara adalah Mufti Liberia, Rektor Universitaz Al-Zaitunah dan tokoh toleransi di Ghana, Direktur Ifta’ Mesir, Dr Munjiyah al-Suwelhi, dari Tunisia, dan penanggap terakhir dari ulama Mauritania.

Ringkasan presentasi masing-masing pembicara adalah di antaranya adalah Liberia berpenduduk 12 persen berasal dari orang Islam. Namun demikian, umat Islam di sana menuntut haknya secara damai. Pembicara dari Tunisia menjelaskan bahwa masuknya Islam ke benua Afrika dilakukan secara damai tanpa peperangan. Islam pertama masuk di Mesir dan menyebar di Afrika Utara di Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, kemudian dilanjutkan ke Mauritania, Senegal, dan seluruh kawasan Afrika Tengah hingga Afrika Selatan. Di Afrika tidak dikenal penerapan agama secara fanatik dan yang dikenal sebagai ekstremisme.

Dr Ahmad Mamduh, Dir Ifta’ di Dar al-Ifta’ Mesir, mengatakan, hadis Nabi Muhammad SAW yang mengimbau umat Islam untuk mengucapkan Salam kepada semua orang. Hal ini juga merupakan perintah ajaran Islam untuk bertindak damai dan toleran.

Sementara Dr Munjiah menyatakan bahwa sunnatullah dalam proses penciptaan manusia adalah perbedaan, dan ciptaan Allah merupakan suatu harmoni kehidupan di alam semesta. Untuk itu, sebutnya, tidak dibenarkan membunuh manusia yang sudah dimuliakan Allah. (al/ns)

Share This