Gedung FPsi, BERITA UIN Online – Ketidakadilan terhadap kaum perempuan hingga kini masih kerap dialami. Bahkan kekerasan terhadap perempuan juga masih dominan terjadi, bukan hanya di ranah domestik tapi juga di ranah publik. Untuk itu persoalan kesetaraan gender mutlak dilakukan, sehingga peran perempuan sama dengan laki-laki.

Demikian pemikiran yang mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Women and Youth Empowerment” yang digelar Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta Gedung Fakultas Psikologi, Rabu (12/6/2019). Seminar Nasional yang dibuka Rektor UIN Jakarta Amany Lubis digelar dalam rangka Milad ke-62 UIN Jakarta. Bertindak sebagai narasumber Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan Nina Nurmila dan Kasubdit Pengembangan Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Mustadin Taggala.

Dalam paparannya, Nina Nurmila memprihatinkan maraknya praktik kekerasan terhadap perempuan dan ketidakadilan gender yang terjadi di era demokrasi sekarang ini. Menurut doktor lulusan Melbourne University ini, ada lima indikator terjadinya ketidakadilan gender, yaitu diskriminasi, subordinasi, marjinalisasi, multiple burden (beban ganda), dan stereotype.

“Meningkatnya  data kekerasan terhadap perempuan, secara positif dapat diartikan bahwa saat ini orang sudah berani melapor ketika terjadi kekerasan. Mereka sudah tidak takut lagi untuk melaporkan kekerasan atau ketidakadilan yang dialami. Namun, di sisi lain, kita juga prihatin karena kekerasan  tersebut banyak terjadi di ruang public,” ucap Guru Besar UIN Bandung tersebut.

Terkait dengan peran perempuan, Nina berpandangan bahwa menjadi ibu rumah tangga itu merupakan peran, bukan kodrat perempuan. Karena peran, maka urusan domestik rumah tangga bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Karena itu, baik laki-laki maupun perempuan harus bisa mengurus urusan domestik rumah tangga.

“Jadi bukan perempuan saja yang harus berjibaku mengurus urusan domestik rumah tangga. Laki-laki juga harus memiliki andil mengurusi urusan rumah tangga, seperti memasak, menyeterika, mencuci piring dan sebagainya,” tandas alumni Pondok Pesantren Pabelan, Magelang, Jawa Tengah, tersebut.

Namun, kata Nina, seiring dengan pemahaman terhadap kesetaraan gender, perempuan hebat tidak cukup hanya hebat  mengurusi urusan rumah tangga saja, tetapi juga dituntut hebat dalam urusan publik.

Supaya perempuan  menjadi  berdaya, baik di urusan domestik maupun publik, ada tiga kondisi yang harus dipenuhi. Tiga kondisi tersebut adalah berpendidikan tinggi, memiliki akses terhadap informasi, dan kemampuan memanfaatkan informasi untuk mengakses berbagai kesempatan dan peluang karir yang memerlukan kompetensi.

Lebih lanjut Nina mengatakan bahwa tren  sekarang ini banyak perempuan yang menjadi kepala keluarga dan pencari nafkah. Faktor penyebanya antara lain suami tidak bekerja, perceraian atau ditelantarkan suami. Uniknya, di antara kaum perempuan itu sampai membuat asosiasi bernama Perkumpulan Perempuan Kepala Keluarga (PEKA). Saat ini ada sekitar 15 persen  perempuan di Indonesia yang menjadi kepala keluarga.

Sementara itu, Mustadin lebih menyoroti persoalan gender di Indonesia dalam konteks pemuda. Salah satu permasalahan pemuda saat ini adalah perilaku merokok.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, Mustadin mengatakan, jumlah pemuda di Indonesia saat ini mencapai sekira 62 juta jiwa (24.07 persen) dari total 254  juta jiwa populasi Indonesia. Dari jumlah tersebut, ada 26.44 persen pemuda  yang merokok. Padahal, rokok sangat beresiko terhadap kematian.

“Dari segi gender, ada perbedaan yang signifikan antara perokok laki-laki dan perempuan. Sebanyak 51.47 persen laki-laki merokok dan hanya 0.81 persen perempuan yang merokok,” jelasnya.

Terkait dengan tingkat pendidikan, menurut Mustadin, perempuan lebih banyak yang menyelesaikan pendidikan tinggi dibanding laki-laki. Ada  sekitar 11.37 persen  perempuan dan hanya 8.09 persen laki-laki yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Padahal, pada tingkat SMA sederajat, ada sekitar 38.11 persen laki-laki tamat SMA dan sekitar 35.64 persen perempuan yang tamat SMA. Artinya, laki-laki tamatan SMA masih banyak yang tidak meneruskan ke pendidikan tinggi dibanding perempuan. (zm/ns)

Share This