Jakarta, BERITA UIN Online– Rencana beroperasinya pembukaan cabang kampus asing di Indonesia pada tahun ini dipastikan molor. Menristekdikti Mohamad Nasir mengungkapkan, kampus asing yang membuka cabang di Indonesia baru bisa membuka rekrutmen mahasiswa angkatan pertama pada 2019.

Di antara yang membuat molor adalah regulasi teknisnya belum siap. ’’Sekarang tahap harmonisasi. Semoga selesai secepatnya,’’ kata Nasir di Jakarta Minggu (5/8/2018) sebagaimana dilansir dari radartasikmalaya.com.

Menurut dia, sejumlah kampus asing serius membuka cabang di Indonesia. Pihaknya saat ini sedang memproses pengajuan izin pembukaan cabang kampus tersebut. Kata dia, ada dua kampus asal Australia yang berniat membuka kelas atau cabang di Indonesia. Terkait nama kampusnya, belum disampaikan resmi oleh Kemenristekdikti.

Namun di antara yang santer dikabarkan adalah University of Melbourne dan Royal Melbourne Institute of Technology University (RMIT University). Kemudian kampus lain yang berniat membuka cabang di Indonesia adalah Cambridge Univeristy dan Imperial Collage London.

’’Kampus asing yang berkualitas yang boleh buka di Indonesia,’’ katanya.

Selain itu dikabarkan ada kampus dari Tiongkok yang berniat pula membuka cabang di Indonesia.

Nasir mengatakan pemerintah sejatinya ingin cabang kampus asing itu mulai menerima mahasiswa baru tahun ini. Tetapi ternyata selain aturan teknisnya belum keluar, kampus asing tersebut butuh sejumlah persiapan. Di antaranya, menjalin kerjasama dengan dosen-dosen lokal yang memiliki kualitas akademik bereputasi internasional.

Menurut dia, maraknya kampus asing di Indonesia nantinya tidak boleh dimaknai sebagai ancaman bagi kampus lokal. Dia bahkan menyebutkan kampus lokal harus terus berpacu mengejar kualitas akademik terbaik. Bagi kampus yang sudah mendapatkan akreditasi institusi A misalnya, tidak boleh berhenti di situ saja.

’’Kejar akreditasi internasional,’’ tuturnya.

Terkait dengan lokasi kampus asing yang membuka cabang di Indonesia, Nasir mengatakan sebagai awalan di Jakarta terlebih dahulu. Selain itu Kemenristekdikti juga berencana membuka kawasan ekonomi khusus atau special economy zone terkait keberadaan kampus asing.

Sementara itu, pengamat pendidikan UIN Jakarta Dr Jejen Musfah MA menuturkan, ada manfaat keberadaan kampus asing tersebut. Di antaranya adalah terkait penghasilan atau gaji. Dia mengatakan banyak dosen yang sebelumnya bekerja di kampus luar negeri, merasa turun penghasilannya ketika bekerja di kampus Indonesia. (mf/wan/agm/jpg)

Share This