Di pinggir jalan kota-kota bisa ditemukan anak-anak. Berpakaian lusuh. Di lampu merah. Di dalam gerobak kumuh; di antara barang-barang bekas: botol-botol plastik, kardus, atau besi tua. Di depan mall. Di terik matahari. Di deras hujan. Di waktu sekolah.

Mereka mengais rezeki demi menyambung hidup. Ngamen, ojek payung, jadi badut, atau menjajakan barang. Pagi, siang, hingga malam. Berselimut udara malam, bintang, dan cahaya bulan.

Masa depan mereka seperti apa? Entahlah. Banyak orangtua surplus anak, tetapi defisit uang. Mudah melahirkan meskipun sulit keuangan. Mungkin mereka percaya falsafah: banyak anak banyak rezeki. Faktanya anak-anak terlantar dan tereksploitasi. Menanggung beban berat: bekerja saat anak-anak seusianya belajar dan bermain di sekolah.

Negara ke mana? Banyak anak-anak putus sekolah. Sebagian tidak merasakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-kanak (TK). Tidak punya rumah (homeless). Sebagian tinggal di rumah-rumah kumuh. Di pinggir rel kereta. Di samping gedung-gedung tinggi (pencakar langit). Rumah tanpa pendingin ruangan yang terbuat dari kayu dan seng. Hidup berdesakan di antara gang-gang kecil. Beberapa tinggal di apartemen kelas bawah.

Program Keluarga Berencana (KB): dua anak cukup, tak cukup berhasil. Keluarga kaya dan menengah di kota-kota memiliki sedikit anak, sementara keluarga miskin banyak anak. Maaf, tukang becak, ojek, dan sopir, memiliki banyak anak tetapi semuanya berpendidikan rendah. Rata-rata menikah muda. Dunia terbalik.

Keluarga kelas menengah tidak semuanya memberi anak pendidikan yang baik. Sekolah atau pesantren modern kelas menengah. Alam pikiran mereka: pendidikan bukan prioritas; bukan juga investasi masa depan. Haji, rumah, dan kendaraan bagus lebih utama daripada pendidikan anak. Asal sekolah, asal kuliah, atau bahkan tidak perlu kuliah. Langsung kerja saja seperti orangtua agar cepat menghasilkan uang. Kuliah menghabiskan uang padahal belum tentu berhasil.

Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan beragam beasiswa dari Pemda belum efektif mengikis anak-anak putus sekolah. Perlu ketegasan pemerintah merazia anak-anak di jalanan. Mengedukasi para orangtua. Penghapusan anak-anak yang mengemis dan mengais rezeki di jalanan (kebijakan jalanan bebas anak). Memang tidak akan semudah kebijakan kota bebas plastik, misalnya.

Mental dan mindset orangtua adalah kunci. Beberapa anak berhasil kuliah meskipun orangtuanya tukang becak, buruh cuci, atau orangtua (ibu) tunggal (single parent). Rumus sukses mereka adalah kombinasi motivasi dan doa orangtua, kecerdasan, dan keuletan anak. Kemiskinan dan kepahitan menjadi motif untuk maju dan sukses. Bukan sebaliknya, pasrah atas keadaan dan menyerah kalah.

Tanpa pendidikan yang baik maka anak-anak akan mewarisi kemiskinan. Turun temurun dalam kesusahan. Jangankan yang miskin, si kaya pun akan menjadi miskin tanpa memberi pendidikan anak yang baik. Pendidikan yang baik bukan sekedar ijazah, tetapi keterampilan khusus dan sikap pembelajar, mandiri, kreatif, kerjasama, dan tidak mudah putus asa.

Dr Jejen Musfah MA, Ketua Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Majalah Suara Guru Pengurus Besar Persatuan Guru Indonesia (PB PGRI) Edisi Mei-Juni 2019. (lrf/mf)

Share This