Salah satu faktor penentu kemajuan bangsa adalah tampilnya pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan kuat dan efektif. Di antara model kepemimpinan paling dirindukan saat ini adalah pemimpin heroik autentik, karena diharapkan mampu memberi solusi dalam mengelola segenap sumber daya NKRI demi terwujudnya visi dan misi bangsa yang berdaulat, bermartabat, berdikari, berkemajuan, berkesejahteraan, serta berkeadilan sosial.

Hadirnya figur pemimpin bangsa yang heroik autentik semakin dinantikan karena aneka persoalan bangsa saat ini sangat kompleks. Pertumbuhan ekonomi stagnan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin terpuruk. Daya beli masyarakat menurun. Korupsi berjamaah cenderung meningkat. Kasus rasuah antara pengusaha dan pejabat publik yang terkena OTT (operasi tangkap tangan) tetap marak.

Serbuan tenaga kerja asing nyaris tidak terbendung. Peredaran narkoba merajalela. Bencana alam: gempa bumi, tsunami, likuifaksi, banjir, tanah longsor, dan lainnya datang silih berganti. Utang luar negeri juga menggunung. Penegakan hukum dirasakan masih tebang pilih dan belum memenuhi rasa keadilan.

Dalam The Heroic Leader: Managing for Mission,Edward J Peck (2015) menyatakan, pemimpin heroik itu tampil menginspirasi masa depan bangsa dengan solusi cerdas dan berani mengambil risiko.Pemimpin heroik autentik mencari dan mengekstraksikan emas, bukan menunggu kesempatan emas. Pemimpin heroik autentik itu selalu berpikir cerdas, kreatif, melayani, dan berani mengambil risiko, termasuk risiko tidak populer. Jika rakyat yang dipimpinnya melakukan kesalahan dan mengalami kesulitan, pemimpin heroik autentik melakukan refleksi, terus belajar, dan menginisiasi perubahan ke arah lebih baik.

Transformasional, Bukan Transaksional

Jiwa dan karakter kepahlawanan itu penting dimiliki pemimpin, karena pemimpin memang harus memiliki kualitas keberanian, tekad, altruisme, pengambilan risiko, dan pengorbanan diri. Pemimpin heroik autentik selalu menunjukkan kinerja perjuangan tulus dan tanggung jawabnya yang besar demi membela kepentingan rakyat dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Pemimpin heroik autentik tidak akan memakai “topeng pencitraan” untuk membodohi rakyat. Pemimpin heroik autentik tampil dengan integritas, kompetensi, dan kualitas pribadi yang jujur, amanah, cerdas, terbuka, dan komunikatif.

Dalam Heroic Leaders and Despotic Tyrants How Power and Status Shape Leadership, Anika Stuppy and Nicole L. Mead (2016) menandai pemimpin heroik autentik sebagai pribadi yang menjadikan kekuasaan dan kewenangannya untuk melakukan perubahan dan kebaikan masyarakat yang dipimpinnya, tidak mementingkan partai dan golongannya, apalagi menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri tanpa malu.
Sebagai contoh kepemimpinan heroik, Abraham Lincoln, mantan Presiden AS, melakukan “blusukan” ke seluruh negeri pada masa-masa sulit, bekerja tanpa pamrih untuk menginspirasi banyak orang, dan melakukan konsolidasi konflik demi integrasi USA. Dengan kata lain, pemimpin heroik autentik itu memiliki kepemimpinan transformasional, bukan transaksional. Pemimpin itu menggerakkan, menginspirasi, serta melakukan perubahan ke arah kebaikan dan kemajuan, bukan bertransaksi dengan para “investor kekuasaannya” demi kepentingan pribadi, pendukung, atau partainya.

Pemimpin heroik autentik menunjukkan kualitas keberanian dalam pengendalian diri untuk tidak diintervensi dan didikte oleh siap apun, dengan tetap rendah hati, mau mendengarkan masukan, aspirasi, dan denyut nadi suara rakyat. Pemimpin heroik autentik menampilkan kesalehan kepemimpinannya dengan berlaku jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, merakyat, dan melayani sepenuh hati.

Kepemimpinan heroik autentik juga terlihat saat pemimpin hadir melayani dan memberi solusi bagi rakyat, terutama di saat memerlukan bantuan, perlindungan, pemihakan, dan pelayanan. Dengan kata lain, spirit transformasional dalam mengemban amanah kepemimpinan nasional menjadi orientasinya, bukan mendahulukan sikap “aji mumpung” transaksionalnya.

Dimensi Kepemimpinan Heroik

Dalam Defining a New Type of Organizational Leadership: The Heroic Leader (1999) Ira J Morrow membuat indikator kepemimpinan heroik dengan lima dimensi utama: karakter, orientasi kerja, pengambilan risiko, efektivitas komunikasi, dan dampak organisasi. Pemimpin heroik autentik memiliki karakter kuat sebagai pribadi yang jujur, dapat dipercaya, tegas, bertindak benar, tidak berpolitik kebohongan, ksatria, terbuka, dan berani memohon maaf jika melakukan kesalahan. Karakter kepemimpinannya dipertaruhkan pada integritas moral dan loyalitasnya pada kepentingan nasional.

Dalam bekerja, pemimpin heroik autentik tidak hanya menunjukkan etos kerja ikhlas, cerdas, keras, dan kreatif, tetapi juga selalu mengedepankan orientasi pelayanan publik yang adil, transparan, serta berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Bukan hanya segelintir yang disejahterakan. Orientasi kerja pemimpin heroik autentik adalah kemaslahatan, kemanfaatan, dan kemajuan bangsa.

Kepemimpinan heroik autentik juga ditunjukkan melalui keberanian pemimpin mengambil risiko dari kebijakan publik apa pun, tanpa sedikit pun keraguan. Pemimpin heroik autentik rela berkorban jiwa, raga, dan harta benda demi kedaulatan bangsa dan negara. Hal yang dipikirkan dan dipedulikan adalah kemaslahatan bangsa, bukan politik kekuasaan dan orientasi duniawi. Orientasi kerjanya diukur dengan seberapa program-program pembangunan itu memberi kemudahan, peningkatan produktivitas, dan kesejahteraan rakyat.

Efektivitas komunikasi publik dalam menggerakkan roda kepemimpinan dan pemerintahan juga mutlak dimiliki pemimpin heroik. Kejujuran, kearifan, dan kesantunan dalam berkomunikasi dengan rakyat merupakan “harga mati” pemimpin heroik autentik. Pemimpin heroik autentik pantang berbohong, menebar hoaks, memprovokasi, dan mengadu domba rakyatnya sendiri. Komunikasi efektif pemimpin heroik autentik ditunjukkan dalam berbahasa Indonesia (dan asing) yang dapat menggerakkan, memotivasi, menginspirasi, dan memberi teladan baik bagi rakyatnya dalam berkarya, berinovasi, dan berkreasi.

Sedangkan dampak organisasi yang diberikan pemimpin heroik autentik adalah kemajuan dan kesejahteraan dalam berbagai bidang: sosial ekonomi, agama, budaya, pendidikan, hukum, dan sebagainya. Pemimpin heroik autentik selalu berpikir bagaimana mewariskan legasi masa depan bangsa yang lebih baik, misalnya, dengan tidak mewariskan utang yang semakin membebani APBN dan rakyat. Sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai, toleran, serta rukun tanpa gaduh dan ricuh dapat diwujudkan. Ideologi NKRI dijaga dan dijalankan. Harapan-harapan baru yang menginspirasi perubahan dan kemajuan terus digelorakan bak pahlawan mengobarkan “api perjuangan” untuk kemerdekaan dan kedaulatan NKRI.

Singkatnya, pemimpin heroik autentik tidak hanya menghargai, mengapresiasi, dan mengambil inspirasi dari para pahlawan bangsa dalam berjuang dan rela berkorban demi kedaulatan bangsanya. Akan tetapi, pemimpin heroik autentik itu benar-benar tampil dengan integritas pribadi yang bisa diteladani dalam mengemban amanah kepemimpinan bangsa.

Sungguh kita merindukan pemimpin heroik autentik yang berkarakter dan bervisi profetik di tengah riuh rendah tahun politik. Masa depan NKRI akan berjaya dan berperadaban agung jika kepemimpinan heroik autentik transformasional diutamakan daripada kepemimpinan oportunistik transaksional. Sebab kepemimpinan politik oportunistik dan transaksional hanya akan menyandera, membelenggu, dan merugikan masa depan bangsa. (mf)

Dr Muhbib A Wahab MA, Ketua Prodi Magister PBA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1352489/18/pemimpin-heroik-autentik-1541525510/, Rabu, 7 November 2018.

Share This