Kembali ke New York. Inilah hari-hari menjelang dan kemudian juga hari H pada 13 April 2019. Hari pemberian suara di Timur Laut Amerika Serikat yang menjadi wilayah yurisdiksi New York yang mencakup 13 negara bagian AS. Yang memiliki warga Indonesia terbanyak kedua setelah wilayah barat AS khususnya California.

PPLN New York mencatat 11,518 pemilih dalam DPT. Sebagian besar pemilih (10.103) memberikan suara melalui pos. Sisanya sebanyak 1.032 mencoblos di KJRI New York. Sebelumnya juga di Philadelphia (Negara Bagian Pennsylvania) dan Dover (Negara Bagian New Hampshire), sebanyak 725 orang memilih di TPS dan 754 orang memilih lewat Kotak Suara Keliling (KSK).

Hari pencoblosan di KJRI New York tanggal 13 april 2019. Sejak pagi jalan dan gedung KJRI terlihat dipenuhi warga yang terus berdatangan sampai menjelang tengah malam. Banyak di antara mereka yang memiliki hak pilih datang tidak hanya dari wilayah New York dan New Jersey, tetapi juga dari tempat-tempat yang lebih jauh seperti Boston.

Pemilih di KJRI terlihat antusias. Barisan antrean 68 Street, mengular ke arah Sentral Park pada satu sisi dan Fifth Avenue di sisi lain. Menghabiskan seluruh pemilih, KJRI membuka dua TPS sampai lewat tengah malam memasuki Ahad pagi 14 April.

Penulis resonansi ini berbincang dengan empat mahasiswa program S-2 yang datang dari Boston. Ada yang kuliah di Universitas Harvard, Fletchet, dan Boston. Mengendarai malam sebelumnya, pagi-pagi mereka telah sampai KJRI New York.

Mereka sebetulnya bisa memberikan suara di Doner, New Hampshire, dua hari lalu, yang jaraknya lebih dekat dari Boston. Tetapi, mereka lebih senang mendatangi TPS di KJRI New York sambil jalan-jalan,“ ujar Konjen Abdul Kadir Jailani.

Banyak antara pemilih adalah generasi milenial, yang banyak menuntut ilmu dalam berbagai bidang sejak dari tingkat SMA, S-1, S-2, sampai S-3. Namun, banyak juga antara pemilih bertahun-tahun hidup diaspora di Amerika Serikat dan jarang sekali pulang ke Tanah Air.

Namun, baik generasi milenial yang sebagian besar bisa diduga kembali ke Tanah Air setelah menuntut ilmu telat, namun mereka yang telah lama menetap di bumi Amerika cukup well informed dengan perkembangan politik seputar pemilu 2019 (Pileg dan Pilpres). Dinamika politik dengan cepat dan mudah dapat mereka ikuti.

Kecintaan mereka dengan Tanah Air apalagi peristiwa politik besar, seperti Pilpres terlihat masih kuat, bahkan mungkin mengalami semacam revilatisasi. Hidup di negeri orang terbukti tidak pernah melunturkan semangat dan kecintaan pada Indonesia.

Pada satu segi, kebangkitan semangat keindonesiaan agaknya merupakan salah satu konsekuensi tidak terelakkan dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Kini perbedaan waktu antara New York dan Jakarta 11 atau 12 jam seolah tidak lagi penting. Pesan instan dalam waktu yang sama secara virtual menghubungkan warga yang dipisahkan oleh jarak yang jauh.

Kontestasi yang hangat antara dua paslon capres dan cawapres di Tanah Air juga mewarnai percakapan di antara pemilih Indonesia di perantauan. Beberapa pemilih dengan pilihan berbeda di rumah makan Uni Jaya di Woodside, Queens, sehari sebelum pencoblosan, dengan bersemangat yakin bahwa paslon masing-masing bakal memenangkan Pilpres 2019 di New York.

Bahkan, antusiasme juga terlihat dalam pembicaraan hangat tentang politik menjelang di antara jamaah Indonesia di masjid al-Hikmah milik Indonesia seusai sholat Jumat (12/4). Namun, perbincangan jauh dari ketegangan, sebaliknya banyak disertai candaan dan ledekan.

Peningkatan antusiasme memberikan suara di kalangan warga Indonesia di Amerika, seperti juga terlihat banyak diaspora lain di negara Asia, Eropa, dan Australia tampaknya juga terkait dengan kontestasi edeologis itu terdapat kalangan pada setiap kubu yang menganggap Pilpres 2019 sebagai zero-zum-game.

Ingatlah kembali isu tentang pertarungan ideologi Pancasila versus ideologi Khilafah atau antara “Pro PKI” versus “Pro Islami”. Kontestasi ideologis yang dibayangkan sementara kalangan jelas terlalu simplitis. Politik Indonesia dengan segala kecenderungan ideologis yang terlibat persaingan dan kontestasi untuk disederhanakan secara biner dan oposisiona.

Di tengah perbedaan itu yang penting adalah menjaga Indonesia untuk tetap aman dan bersatu, hanya dengan begitu negara ini dapat terus melangkah lebih maju lagi.

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Opini Republika, Kamis 18 April 2019. (lrf/mf)

Share This