Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta, Wakil Ketua Umum IMLA Indonesia

Belum lama ini seorang pengamat intelijen menyatakan secara ngawur bahwa salah satu ciri teroris itu bahasa Arab. Tuduhan, stigmatisasi, provokasi, dan fitnah keji ini jelas tidak beralasan, karena tidak berbasis fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sehari setelah pernyataan itu dipublikasikan, saya mengkonter opini sesat dan menyesatkan itu dengan opini, “Stigma Tak Logis di Pernyataan Bahasa Arab Ciri Teroris”, pada Harian Republika: https://www.republika.co.id/berita/qz617f282/stigma-tak-logis-di-pernyataan-bahasa-arab-ciri-ciri-teroris (9/9/2021).

Tidak berselang lama sebelum kasus tersebut, salah seorang murtadin, youtuber, M. Kace, juga diduga kuat telah dengan sengaja melakukan penghinaan dan penistaan terhadap Islam dan kitab kuning. Dalam banyak postingannya, Kace mengganti lafazh Allah dalam salam umat Islam dengan “Yesus”, menuduh Nabi Muhammad SAW itu pengikut jin dan dikerumuni jin. Selain itu, para santri juga sangat tersinggung dengan pernyataannya bahwa kitab kuning itu menyesatkan dan menimbulkan paham radikal.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkonter dan meluruskan para penista Islam dan bahasa Arab. Melalui tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk belajar memetik hikmah dan nilai kearifan untuk tetap mencintai Islam dan bahasa Arab, meskipun banyak orang membenci keduanya. Islam dan bahasa Arab merupakan dua entitas yang memiliki relasi sangat kuat, bahkan mustahil dipisahkan. Karena, selama umat Islam masih membaca, mengkaji, dan memahami Alquran dan sunnah Nabi SAW, pasti berada dalam puasaran bahasa Arab. Menjadi Muslim itu memang tidak identik menjadi seperti orang Arab, tetapi mengerti dan menguasai bahasa Arab bagi Muslim itu merupakan modal intelektual dan spiritual yang sangat berharga.

Salah satu kunci untuk dapat membuka rahasia makna dan kemukjiztan Alquran adalah bahasa Arab. Tanpa memahami gramatika, balaghah, dan stilistika bahasa Arab, mustahil ayat-ayat Alquran dapat dipahami dengan benar, baik, dan mendalam. Keagungan bahasa Arab bukan hanya karena “ditetapkan dan dilantik” –meminjam istilah Emha Ainun Nadjib—menjadi bahasa Alquran, tetapi juga karena berbagai alasan logis dan sosiologis. Dalam perspektif linguistik, bahasa Arab itu merupakan bahasa rumpun Semit tertua yang eksistensinya “dirawat, dijaga, dan dikokohkan” oleh Alquran yang mendapatkan garansi pemiliharaan dari Allah SWT (QS al-Hijr/15:9)

Umat Islam meyakini bahwa pemeliharaan Allah SWT dari segala usaha untuk merubah, memalsukan, dan mendistorsi Alquran tidak akan pernah berhasil, karena –berbeda dengan kitab suci agama lain yang cenderung mengalami manipulasi dan distorsi dari tangan-tangan jahil manusia—Alquran banyak dibaca, dihafal, dikaji, ditafsirkan, dan diamalkan oleh umat Islam. Bahkan empat kali ayat Alquran menegaskan: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qamar/54:17, 22, 32, dan 40). Oleh karena itu, sejak diturunkan di masa Nabi SAW hingga saat ini dan mendatang, para penghafal Alquran  itu  selalu bermunculan. Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa salah satu bentuk kemukjizatan Alquran adalah dimudahkannya untuk dipelajari dan dihafalkan oleh siapapun yang mau mempelajari dan menghafalkannya.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Alquran yang berbahasa Arab ini dimudahkan untuk dipelajari, dihafalkan, dan juga diajarkan? Apa motivasi utama yang menggerakkan banyak orang mempelajari Alquran? Agar bahasa Alquran itu dipahami dan dikuasai, dan umat Islam semakin mencintai kitab sucinya, meneladani sunnah Nabinya, dan menjadikan Islam sebagai agama kasih sayang bagi semesta raya, bagaimana mengembangkan pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran? Bukankah di masa-masa awal perluasan wilayah kekuasaan Islam, bahasa Arab dipelajari dan dikonstruksi keilmuannya seperti nahwu, sharaf, balaghah, tajwid, dan sebagai bentuk Khidmah (service, pengabdian) terhadap Alquran, antara lain, karena menguatnya kebutuhan umat Islam non-Arab untuk dapat memahami sumber ajaran Islam?

Bahasa Arab Alquran

Para ahli bahasa Arab sepakat bahwa bahasa Arab Alquran merupakan bahasa paling fasih, paling indah, bernilai sastra tinggi, bergaya bahasa menarik, dan mengandung makna yang luas dan mendalam. Tidak ada bahasa di dunia yang memiliki kemampuan menampung dan memberi nuansa makna (semantik) seperti bahasa Arab. Dalam Maqalat fi al-Lughah wa al-Adab, Tammam Hassan menilai bahasa Arab itu sangat unik dan menarik, karena salah satu keistimewaannya adalah ekonomis, hemat kata, tetapi padat dan luas makna. Banyak konstruksi sebuah kata yang mengandung banyak makna ketika distrukturkan dalam berbagai kalimat yang jelas. Kata “dharaba”, misalnya, artinya tidak tunggal yakni memukul, tetapi juga dapat berarti: bergerak, bepergian, mendirikan (tenda), menutup  (telinga, kepala), membagi (bilangan), membuat (perumpamaan), memegang, meniup, menyengat, menyerang, menggempur, dan sebagainya.

Sedemikian ekonomisnya, sehingga diformulasikan sebuah kaidah semantik Arab: “Ta’addud al-ma’ani li mabna wahid” (Terdapat multikmakna dari sebuah kata). Oleh sebab itu, belajar bahasa Arab Alquran menghendaki penguasaan konteks teks maupun konteks sosial-kultural, konteks internal maupun konteks eksternal. Jadi, kemultimaknaan sebuah kata sangat ditentukan oleh struktur kalimat dan konteks yang mengiringi penggunaan kata itu. Sebagai contoh, kata /ma/ makna gramatikal dan semantiknya tidak hanya “apa” untuk menanyakan sesuatu, seperti: “Ma ismuka”? (Apa/siapa namamu?), tetapi juga dapat berarti tidak (negasi), makna maushuliyyah (relative pronouns), ta’ajjubiyyah (interjection), menyatakan kekaguman, mashdariyyah (seperti /an/), syarthiyyah (conditional), dan sebagainya.

Bahasa Arab sebagai bahasa Alquran juga bukan semata-mata karena Rasululullah SAW itu orang Arab dan kaumnya adalah bangsa Arab, melainkan banyak faktor dan hikmah dapat dijadikan pelajaran linguistik mengapa Alquran diturunkan dalam bahasa Arab. Dalam konteks ini, Alquran menjelaskan bahwa “Sesungguhnya Kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS az-Zukhruf/43:3). Senada dengan ayat ini, “Sesungguhnya, Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS Yusuf/12:2). Selain itu, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fushshilat/41:3). Menurut Ibn Katsir, bahasa Arab itu merupakan bahasa paling agung dan mulia (asyraf al-Lughat) dengan karakteristik yang istemewa dan sempurna.

Sebagai bukti kesempurnaan Alquran, dapat diverifikasi bahwa tidak akan pernah ada bacaan yang sebanding atau dapat menandingi Alquran dari sisi kedalaman makna maupun keindahan tata bahasa. Menurut M. Quraisy Shihab, Alquran terbebas dari keterbatasan ruang dan waktu. Walaupun turun di masa Nabi Saw dan menggunakan Bahasa Arab, namun inspirasi Alquran akan selalu relevan sampai kapanpun, di manapun dan bagi masyarakat di belahan dunia manapun. Paling tidak ada dua alasan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa Alquran. Pertama, karena Alquran diturunkan pertama kali di Tanah Arab. Kedua, karena bahasa Arab adalah media komunikasi manusia yang memiliki kosa kata sangat banyak. Bahasa Arab memiliki  lebih dari 12 juta kosakata. Makin banyak kosakata yang dimiliki suatu bahasa, maka bisa semakin jelas dan luas pengertian, makna, dan pesan yang dikandungnya. Ketiga, ini pendapat penulis, bahasa Arab Alquran itu sangat logis, rasional, dan kontekstual, tidak mengandung sedikitpun kecacatan atau kekeliruan, baik dari segi gramatika, semantik, maupun stilistik dan pragmatiknya. “Ialah Alquran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS az-Zumar/39:28)

Menurut Izzath Uroosa, dalam Learning Arabic Language of the Qur’an, bahasa Arab adalah bahasa yang sangat indah. Bagi orang beriman, Alquran membuka dunia baru di mana kejahatan harus ditolak dan kebajikan harus dipromosikan. Seballiknya, orang-orang yang tidak beriman dapat merasakan efek magis (magical effects) dari Alquran, tetapi tidak ingin mengubah hidup mereka. Bahasa Al-Qur’an berbeda dengan bahasa Arab modern. Oleh karena itu, dua aliran bahasa wahyu Ilahi yang sama membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda.

Pembelajaran Berbasis Alquran

Para linguis Arab bersepakat bahwa Alquran merupakan poros studi Islam, sumber utama kajian, penelitian, dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman. Ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits tidak hanya menarik perhatian para ulama dan  fuqaha’ dalam beristinbat hukum, menetapkan status hukum berbagai persoalan sosial keumatan, tetapi juga menginspirasi lughawiyyun (para linguis) untuk memformulasikan ilmu nahwu, ilmu Sharaf, ilmu al-bayan,  ilmu al-Ma’ani, Ilmu al-badi’ yang kemudian diintegrasikan menjadi ilmu al-balaghah, ilmu uslub, dan tadawuliyah (pragmatiknya).

Fakta sejarah menunjukkan bahwa para nuhat (ulama nahwu dan sharaf) pada umumnya adalah para qurra’ (penghafal dan pengamal qira’ah tertentu dari berbagai ragam bacaan Alquran). Hal ini menunjukkan bahwa tujuan utama dipelajari dan diajarkannya kaidah-kaidah dasar bahasa Arab adalah untuk mengenal dan memahami ayat-ayat Alquran yang berbahasa Arab, terutama untuk non-Arab. Jadi, tujuan awal pembelajaran bahasa Arab adalah menjadi bahasa Arab sebagai media (kunci pembuka) pemahaman dan pemaknaan ayat-ayat Alquran, terlebih lagi pada masa awal kodifikasi Ilmu nahwu (awal abad kedua hijriyyah) Alquran belum bertitik, berharakat, dan bertanda baca seperti sekarang.

Oleh karena itu, nahwu yang diformulasikan para ulama nahwu pada periode awal bukanlah nahwu ilmi (bercorak akademik dan saintifik), melainkan nahwu ta’limi dan amali (nahwu edukasional dan operasional, praktis dan sederhana, tidak filosofis dan tidak berorientasi kepada I’rab). Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Arab itu pada awalnya merupakan bentuk fasilitasi Muslim non-Arab untuk bisa membaca, memahami, dan memaknai ayat-ayat Alquran, agar mereka tidak salah dalam membaca Alquran, terutama ketika menjadi imam shalat.

Ilmu nahwu (dan sharaf) lalu berkembang menjadi nahwu ‘ilmi, nahwu saintifik yang diformulasikan sedemikian rupa setelah pemikiran logis (kaidah-kadiah logika) mewarnai kajian dan pengembangan ilmu nahwu. Nahwu ‘ilmu semakin mendapat momentum pengembangannya ketika para intelektual Islam bersentuhan dengan tradisi helenistik atau pemikiran filsafat Yunani, sehingga muncullah teori ‘awamil (teori faktor) dalam ilmu nahwu, dengan asumsi dasar bahwa perubahan bunyi akhir kata dalam struktur kalimat itu dipengaruhi oleh ‘amil (faktor penyebab), baik lafzhi (eksplisit) maupun ma’nawi (implisit). Logika berpikir “illiyah” (mencari dan menemukan relasi sebab-akibat) inilah menjadikan nahwu bercorak filosofis, dan kemudian dikesankan rumit dan sulit.

Implikasi dari formulasi kaidah-kaidah nahwu yang cenderung filosofis itulah pembelajaran gramatika bahasa Arab (nahwu dan sharaf) cenderung mengalami reduksi dan disorientasi, dari nahwu edukasional menjadi nahwu rasional dan konseptual, tidak nahwu fungsional dan operasional. Oleh karena itu, pembelajaran gramatika bahasa Arab dipandang perlu dikembalikan kepada orientasi semula, yaitu belajar bahasa Arab untuk kepentingan memahami ayat-ayat Alquran. Nahwu bukan untuk nahwu, tetapi nahwu harus fungsional dan operasional sebagai alat untuk membaca dan memahami teks Alquran.

Dengan demikian, solusi strategis yang diharapkan dapat mengatasi kegundahan dan kerumitan belajar bahasa Arab, khususnya gramatikanya, adalah menjadikan Alquran sebagai basis pembelajaran bahasa Arab. Artinya, pembelajaran bahasa Arab itu pada level pemula dirancang untuk mengenal bunyi bahasa Arab Alquran, kosakata Alquran, struktur dasar bahasa Alquran, berikut pemaknaannya, agar mencapai dua tujuan sekaligus: bisa membaca dan bisa mengerti isi teks yang dibaca. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Arab berabasis Alquran target minimalnya adalah penguasaan keterampilan reseptif (maharat istiqbaliyyah), yaitu membaca.

Pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran juga diinspirasi dan digerakkan oleh 4 ayat dalam surat al-Qamar tersebut, bahwa Alquran (tentu saja termasuk bahasanya) telah dimudahkan oleh Allah untuk dipelajari. Janji Allah ini pasti ditepati, selama pemelajar memiliki kemauan kuat  untuk belajar bahasa Arab. Motivasi utama yang patut dijadikan sebagai penggerak pemelajar adalah bahasa Arab itu bagian integral dari Alquran, sehingga mempelajari dan membelajarkan bahasa Arab mempunyai nilai plus, tidak hanya merupakan proses intelektualisasi pemelajar, tetapi juga spiritualisasi yang membuahkan keuntungan duniawi dan ukhrawi.

Dalam ungkapan Ibn Taimiyah, “Bahasa Arab itu bagian takterpisahkan dari agama. Apabila urusan agama (seperti pemahaman ayat Alquran dan hadits Nabi SAW) tidak dapat terwujud tanpa menguasai bahasa Arab, maka belajar dan membelajarkan bahasa Arab menjadi wajib.” Kesadaran mental spiritual bahwa bahasa Arab itu bagian integral dari Islam penting ditumbuhkembangkan, karena bahasa Arab kerap kali mengalami stigmatisasi buruk dan negatif sebagai bahasa yang sulit dan rumit untuk dikuasai. Stigmatisasi semacam ini kerap diberikan oleh para penjajah, orientalis, dan orang-orang yang membenci Islam dan tidak suka bahasa Arab.

Padahal faktanya tidak demikian. Dalam linguistik, tidak dikenal bahasa sulit dan bahasa mudah, apalagi bahasa unta sebagai ungkapan pejoratif dan stigma negatif terhadap bahasa Arab. Masing-masing bahasa di muka bumi ini memiliki tingkat kerumitan dan kemudahannya sendiri-sendiri. Karena setiap bahasa memiliki sistem bunyi (fonologi), sistem tatakata (morfologi), sistem tatakalimat (sintaksis) dan sistem makna (semantik) yang tidak sama, berbeda satu sama lain. Meskipun demikian, para linguis berpendapat bahwa semua bahasa di dunia memiliki kesemestaan (universalia), kesamaan yang berlaku universal, yaitu sama-sama memiliki kosakata, tatakata, tatakalimat, dan sistem makna.

Pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran tidak semata-mata dirancang untuk mendekatkan tujuan awal diformulasikan dan dikembangkannya ilmu bahasa Arab. Akan tetapi, secara fungsional dan pragmatik, orientasi utama mayoritas pemelajar bahasa Arab itu belajar dan menekuni bahasa Arab adalah untuk pemahiran keterampilan membaca teks, membaca literatur dan sumber-sumber ajaran Islam. Hal ini juga sejalan dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi SAW, yaitu perintah membaca (iqra’) (QS al-‘Alaq/96: 1 dan 3). Perintah ini tidak hanya memberi isyarat terkait pentingnya membaca, baik tertulis (ayat-ayat Qur’aniyyah) maupun yang tidak tertulis (ayat-ayat kauniyyah), tetapi juga menunjukkan signifikansi orientasi maharah al-qira’ah (keterampilan membaca).

Melalui pembelajaran bahasa Arab berbasis Alquran, selain contoh-contoh dari ayat-ayat Alquran dapat dijadikan model dalam penambahan, peningkatan, pengayaan kosakata baru, pengkaidahan nahwu dan sharaf, penghayatan keindahan balaghahnya, kontekstualisasi penerjemahannya, dan latihan-latihan kebahasaaraban lainnya yang memperkuat keterampilan berbasaha Arab. Alquran sebagai basis pembelajaran  bahasa Arab sejatinya membuka  lahan baru berupa pengembangan korpus linguistik Alquran, sehingga  penelitian dan pengembangan keilmuan bahasa Arab.

Akhirul kalam, bahasa Arab itu bukan hanya bahasa identitas budaya Arab dan Islam, tetapi juga menjadi ikon dan poros penelitian dan pengembangan keilmuan Islam dan bahasa Arab. Menista dan menghina bahasa Arab sebagai ciri teroris atau menilai kitab kuning sebagai  sumber kesesatan dan paham radikal merupakan kebodohan yang memalukan. Oleh karena itu, sebagai umat Islam, mempelajari bahasa Arab berbasis Alquran menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak untuk membuka cakrawala berpikir dan melembutkan hati untuk mengapresiasi dan mengaktualisasikan bahasa Arab sebagai bahasa wahyu, bahasa kitab suci Alquran dalam penguasaan dan pengembangan keilmuan Islam dan bahasa Arab.

Sumber: Majalah Tabligh Edisi No. 10/XIX Rabiul Awal 1443/Oktober 2021. (mf)

Share This