Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW berdoa, “Ya Allah, berikan diriku ini takwanya. Sucikanlah diri ini karena Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikan diri ini. Engkau adalah pelindung dan penolongnya. Ya Allah, berilah aku inspirasi jalan kebenaran, dan jagalah (jauhkanlah) aku dari keburukan diriku” (HR Ahmad dan at-Turmudzi).

Mengapa beliau berdoa seperti itu? Bukankah beliau itu maksum (dijaga oleh Allah kesucian dirinya dari berbuat dosa) dan digaransi oleh-Nya bahwa dengan rahmat-Nya beliau pasti masuk surga? Nabi SAW memang pandai “merasa” berdosa dan memandang perlu berdoa seperti itu, meskipun sebagian umatnya terkadang belum memiliki kedalaman dan kekuatan iman yang sama dengan beliau.

Setidaknya ada empat pelajaran penting dari doa beliau tersebut. Pertama, sebagai uswah hasanah, beliau merasa perlu memberi contoh doa terbaik bagi umatnya dalam memohon kepada Allah untuk penyucian dan penakwaan dirinya. Jika Nabi Muhammad SAW yang maksum saja berdoa seperti itu, sudah semestinya kita harus lebih rajin berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah SWT agar tidak larut dalam kemaksiatan.

Kedua, penyucian diri (tazkiyat an-nafsi) menurut Imam al-Ghazali, hukumnya adalah fardhu ain (wajib individual). Karena tidak ada manusia yang luput dari perbuatan salah dan dosa. Setiap manusia pasti pernah mengidap penyakit hati sekecil apa pun, seperti nifaq, riya, dengki, sum’ah, dan sebagainya. Dengan penyucian diri, manusia bisa berubah menjadi lebih sehat ruhani dan lebih bersih secara spiritual.

Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang-orang yang selalu bertobat dan menyukai orang yang menyucikan dirinya” (QS al-Baqarah [2]: 222). Oleh sebab itu, merasa diri paling suci itu bertentangan dengan sifat Allah yang Mahasuci.

Ketiga, sifat-sifat positif dan sifat-sifat negatif dalam diri manusia itu cenderung “tarik-menarik” dalam sebuah “konflik batin” dan terus berebut pengaruh dalam diri setiap manusia. Jika hawa nafsu dan bisikan setan dominan, ia cenderung berperilaku seperti binatang. Sebaliknya, jika kekuatan hati nurani dan pendekatan diri kepada Allah itu lebih dominan, spirit tazkiyat an-nafs itu dapat melapangkan jalan kebenaran dan pendakian menuju pendekatan diri kepada Allah.

Keempat, dengan penyucian diri dari dosa dan sifat-sifat tercela, iman tahqiqi (keyakinan aktual) dan kesadaran spiritual Muslim akan menyuburkan sifat-sifat terpuji dan mulia. Penyucian diri merupakan jalan iman yang membawa keberuntungan dan kebahagiaan. “Demi jiwa dan yang menyempurnakannya, Allah lalu memudah kan jalan kemaksiatan dan ketakwaan baginya. Sungguh beruntung orang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syams [91]: 7-10).

Dengan demikian, merasa diri tidak suci lalu melakukan penyucian diri merupakan sifat dan tindakan terpuji. Karena Allah SWT sangat menyukai orang-orang yang menyucikan diri dengan selalu bertobat, berbuat baik, memperbaiki masa lalu dengan amal kebaikan, dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Oleh sebab itu, Allah SWT melarang orang-orang beriman untuk merasa paling suci atau merasa tidak memiliki dosa karena semua manusia pasti pernah berbuat salah dan melakukan dosa. Namun, sebaik-baik orang yang pernah berbuat salah dan dosa itu adalah orang yang mau bertobat, kembali kepada jalan yang benar, jalan Allah yang mengantarkan kepada surga-Nya.

Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertakwa” (QS an-Najm: 32). Merasa paling bersih dan suci hanyalah asumsi dan prasangka subyektif terhadap diri sendiri yang pasti keliru, karena Allahlah yang Maha Mengetahui semua yang pernah diperbuat manusia. Merasa paling suci merupakan sebuah kesombongan dan sikap berlebihan, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah SWT. (mf)

Dr Muhbib Abd Wahab, Kepala Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta. Sumber: Republika.co.id, Kamis, 10 Januari 2019.

Share This