Auditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online– Setiap tahun, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UIN Jakarta menyelenggarakan Pekan Apresiasi Sastra dan Drama ke-4 (Pestarama#4).

Rangkaian acara Pestarama khusus dirancang sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada pegiat sastra khususnya di bidang drama. Tahun ini, Pestarama#4 mengangkat tema “Napak Tilas Danarto” sebagai bentuk apreasi kepada almarhum Danarto.

Acara Pestarama#4 dibuka dengan seminar nasional bertajuk “Pembelajaran Multidisipliner Berbasis Drama sebagai Inovasi Pendidikan di Era Revolusi 4.0” yang dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Selasa (22/4/2019).

Seminar ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Dr Hurip Danu Ismadi MPd, Dramawan dan Pendiri Teater Koma N Riantiarno, Dosen Magister Pendidikan Bahasa Inggris Dr Fahriany MPd, dan Direktur Madrasah Pembangunan UIN Jakarta Dr Bahrissalim MPd.

Riantiarno mengatakan, seminar nasional ini bermula dari adanya keresahan tentang perkembangan zaman di era baru, yakni era revolusi 4.0 yang menuntut masyarakat semakin tidak bisa melepaskan diri dari teknologi. Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat terkadang tidak diimbangi oleh banyak masyarakat.

“Ketidaksiapan masyarakat dalam mengikuti arus perubahan, membawa orientasi ke arah yang negatif dan merugikan. Bahwa budaya lokal, budaya Indonesia, terlebih tentang bahasa semakin tergerus dan ditinggalkan karena modernisasi,” kata N Riantiarno saat memberikan paparan di hadapan ratusan mahasiswa.

Menurutnya, saat ini program-program televisi banyak berdampak pada semakin termarjinalkannya budaya-budaya lokal, termasuk sastra dan dramanya. Makanya, dalam rangka menjawab tantangan zaman tersebut diimplementasikan melalui media seminar dengan harapan membuahkan embrio inovasi perihal pendidikan yang selaras dengan kebutuhan di era revolusi industri 4.0.

Seminar yang di moderatori oleh dosen PBSI UIN Jakarta, Nur Syamsiyah ini sempat membicarakan bahwa drama tidak sebatas seni berperan. Sementara Hurip mengungkapkan, drama merupakan sarana paling cocok dalam mengeksplore imajinasi.

Tak hanya itu, lanjut Hurip, lewat imajinasi dan kelola perasaan dalam berdrama, esensi pendidikan bisa disampaikan dengan berbagai cara yang menarik tanpa mengurangi nilai pendidikan itu sendiri.

Senada diungkapkan Dr Fahriany. Menurutnya, karakter anak-anak milenial tidaklah suka bahkan cenderung menolak hal-hal yang notabenenya membosankan. Begitu juga dalam proses pembelajaran, inovasi-inovasi baru haruslah dimunculkan, termasuk melalui sarana drama dalam berbagai mata pelajaran.

Drama yang merupakan cara pandang hidup, cara berpikir yang dituangkan lewat sebuah sandiwara secara tidak langsung memberikan komunikasi pembelajaran lewat isi dan amanat yang ingin disampaikan.

“Pokok-pokok ide yang dituangkan dalam sebuah drama, dapat membentuk identitas, mentalitas, sehingga mampu meneguhkan masyarakat tetap dalam jati dirinya untuk tidak ikut tegerus arus modernisasi di era revolusi industri 4.0,” terang Fahriany.

Di sisi lain, dua pembicara yakni, Hurip dan Fahriany sepakat bahwa seorang pengajar harus mampu menguasai medan perubahan zaman yang deras ini sebagai peluang baru dalam meningkatkan model pembelajaran. Misalnya, seperti memanfaatkan sarana drama yang sangatlah sukar ditemui dalam pembelajaran-pembelajaran di era sebelumnya.

Dalam seminar tersebut, sejumlah pejabat kampus turut hadir di antaranya, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Dr Zulkifli MA, Dekan FITK UIN Jakarta Dr Sururin, dan Kaprodi PBSI UIN Jakarta Dr Makyun Subuki MHum.

Seminar ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa PBSI UIN Jakarta, tapi juga oleh perwakilan mahasiswa dari kampus lain, seperti Universitas Negeri Padang (UNP), IAIN Tulungagung, dan Unindra. (lrf/mf)

Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1398215/144/menjawab-zaman-pbsi-uin-jakarta-gaungkan-drama-sebagai-inovasi-pendidikan-1556017600

Share This