Oleh: Dr. K.H. Syamsul Yakin MA,  Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Salat Subuh keliling adalah salat Subuh berjamaah. Diadakan secara priodik dari masjid ke masjid. Jamaahnya datang dari berbagai lapisan masyarakat. Ada ulama, pejabat, profesional, petani, buruh. Ada orang tua, paruh baya, remaja, bahkan tak  sedikit anak-anak yang sengaja diajak orangtunya. Sepertinya salat Subuh keliling mencapai momentumnya saat ini.

Salat Subuh keliling diawali dengan salat Subuh berjamaah. Seusai itu jamaah berzikir bersama. Terkadang dilanjutkan dengan membaca riwayat Nabi SAW, seperti Rawi Syarafal Anam. Dalam kesempatan itu, dihadirkan seorang penceramah yang memberi motivasi. Umumnya, acara ditutup dengan sarapan pagi bersama dalam suasana yang penuh keakraban dan cinta.

Terkait hal ini, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang melaksanakan salat Subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan salat dua rakaat, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah”. Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Turmudzi).

Hadits ini memberi rekomendasi acara bagi pegiat salat Subuh keliling agar mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah. Pertama, acara diawali dengan salat Subuh berjamaah. Kedua hendaknya jamaah berzikir. Termasuk berzikir adalah mendengarkan tausiyah agama hingga matahari terbit. Ketiga, sebelum sarapan pagi, kegiatan diakhiri dengan salat Isyraq.

Salat Isyraq adalah salat sunah dua rakaat yang dilaksanakan di awal waktu Dhuha. Dalam fikih klasik, waktunya tatkala matahari telah lebih dari setombak tingginya. Atau kira-kira 15 menit setelah matahari terbit. Agama melarang salat di tiga waktu, yakni saat matahari terbit, saat matahari tepat di atas kepala, dan pada saat matahari akan tenggelam ditelan cakrawala.

Secara sosiologis, salat Subuh keliling dapat menyambung silaturahim. Selain itu, secara psikologis, mampu  mengisi hidup jadi lebih hidup. Gerak ritmis manusia yang hidup laksana mesin sesaat menemui jeda. Perlahan manusia hologram yang kering-kerontang menjadi berisi dan segar lagi. Inilah pahala sosial-psikologis yang didapat di dunia dari salat Subuh keliling.

Dalam konteks komunikasi antarbudaya, salat Subuh keliling menjadi sarana memperkenalkan budaya Islam. Diharapkan budaya Islam mampu menjadi fasilitator akulturasi dan asimilasi masyarakat Indonesia yang beragam budaya. Secara ideal, salat Subuh keliling menjadi bola salju yang terus menggelinding untuk revivalisasi Islam Tanah Air.

Secara teologis, sepanjang jamaah salat Subuh keliling berada di masjid mereka dihitung juga mendapat pahala i’tikaf. Dengan syarat apabila ada yang batal wudhu,  diperbolehkan keluar masjid untuk berwudhu dan memasukinya lagi. Jadi salat Subuh keliling mendapatkan pahala tertingkat-tingkat dari berbagai segi, baik yang dirasakan saat ini atau di akhirat nanti.

Terakhir, salat Subuh keliling juga diharapkan mampu membuat orang yang lapar jadi kenyang, yang menangis jadi tertawa, dan yang bodoh dapat bersekolah. Caranya dengan mengumpulkan sumbangan yang hasilnya bisa langsung diserahkan kepada yang berhak menerimanya di sekitar masjid. Inilah dimensi filantropi Islam dalam ranah ritual.

Nabi SAW memberi informasi, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak”. Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang tidak mau bersedekah” (HR. Bukhari dan Muslim). Kian lengkap saja pahala rangkaian salat subuh keliling, semoga kita meraihnya.

Terbit di https://republika.co.id/berita/qd69vu374/pahala-subuh-keliling (sam/mf)

Share This