Oleh: Dr. K.H. Syamsul Yakin MA,  Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Secara sangat popular, ayat kursi adalah ayat ke-255 dalam surah al-Baqarah. Diyakini, membaca ayat kursi itu berpahala surga. Menurut Nabi SAW, waktu membacanya setiap selesai shalat fardhu, “Barangsiapa yang membaca ayat kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.” (HR. Nasa’i).

Hadits ini, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, maksudnya adalah apabila orang yang membaca ayat kursi itu meninggal dunia, maka ia langsung masuk surga. Orang yang menjadikannya sebagai wirid secara kontinu adalah seorang ahli ibadah yang membenarkan ketuhanan Allah SWT dan kenabian Muhammad SAW.

Ayat kursi dianjurkan juga dibaca sebelum tidur. Nabi SAW bersabda, “Jika kamu akan tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai, yaitu bacaan,  “Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum”. Sesungguhnya kamu akan selalu berada dalam penjagaan dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, tulis Syaikh Nawawi Banten, barangsiapa yang membaca ayat kursi manakala hendak pergi ke tempat tidur, maka Allah SWT akan memberikan rasa aman kepadanya. Termasuk juga bagi tetangganya, lalu kepada tetangga dari tetangganya, kemudian kepada penghuni rumah yang berada di sekelilingnya, insya Allah.

Syaikh Nawawi Banten juga mengutip sabda Nabi SAW lainnya, “Ayat kursi yang dibacakan di dalam rumah, maka pasti setan akan meninggalkan rumah itu selama tiga puluh hari. Rumah itu (juga) tidak akan dapat dimasuki oleh penyihir laki-laki dan penyihir perempuan selama empat puluh malam.”  Inilah serangkaian pahala membaca ayat kursi

Dalam praktik kehidupan bermasyarakat yang ada di Indonesia, membaca ayat Alquran termasuk di dalam ayat kursi pada saat akan menempati rumah baru mendapatkan sandaran argumentasi dari hadits ini. Kumpul bareng keluarga lalu duduk bersila seperti membuat suatu upacara adalah budaya, tapi berdoa dengan ayat kursi adalah ajaran agama.

Seperti halnya memiliki sebuah rumah yang nyaman untuk isteri dan anak-anak adalah budaya manusia sejak waktu yang sangat lama. Namun menjadikan rumah berfungsi sebagai mushalla (tempat shalat) dan berfungsi sebagai madrasah (tempat belajar agama) adalah bagian dari ajaran agama yang sangat penting.

Dari rumah ini seorang ayah bisa mengajarkan anak-anaknya membaca ayat kursi di pagi dan petang. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang membacanya (ayat kursi) ketika pagi, maka ia akan dilindungi (oleh Allah SWT dari berbagai gangguan) hingga petang. Barangsiapa yang membacanya ketika petang, maka ia akan dilindungi hingga pagi.” (HR. Hakim).

Secara lebih rinci inilah makna ayat kursi itu yang teks aslinya bisa kita baca sendiri, “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. al-Baqarah/2: 255).

Ayat kursi ini memuat pengakuan bahwa Allah SWT adalah yang berhak disembah secara riil karena Maha Memiliki eksistensi. Dia Mahahidup dan secara konsisten dan kontinu mengurus makhluk-Nya. Dia tidak memiliki sifat dan perbuatan seperti manusia. Dia Maha Berkuasa atas apa saja yang ada, baik yang tampak maupun tidak.

Terbit Jum’at, 11 September 2020 di https://republika.co.id/berita/qgh5j8374/pahala-membaca-ayat-kursi (sam/mf)

Share This