Oleh: Dr. K.H. Syamsul Yakin MA,  Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Maulid dan maulud dalam bahasa Indonesia sama saja, bahkan muludan sudah jadi bahasa lokal. Secara gramatika Arab, maulid adalah isim zaman dan isim makan (nomina waktu dan  tempat). Sedangkan maulud adalah isim maf’ul (nomina obyek)  atau yang dilahirkan. Ketika dibilang maulid maka yang diagungkan adalah hari kelahiran Nabi SAW.

Namun, kemudian ketika dibilang maulud, maka yang  diagungkan adalah Nabi SAW. Ketika dibilang muludan berarti ajaran agama didekati dengan budaya Nusantara. Termasuk kalau  dibilang milad berarti diadopsi budaya Arab modern yang searti dengan ulang tahun. Namun semua diksi ini, berasal dari derivasi kata wa-la-da yang artinya lahir.

Secara teologis, muludan memiliki basis argumentasi berdasar sabda Nabi SAW. Misalnya bersumber dari Qatadah, Nabi SAW ditanya tentang puasa pada hari Senin. Nabi SAW menjawab, “Di hari itu aku dilahirkan , dan di hari itu diturunkan kepadaku (Alquran).” (HR. Muslim). Jadi jelas, Nabi SAW sendiri memperingati kelahiran beliau.

Hanya saja, cara Nabi SAW memperingati hari kelahiran yang jatuh pada hari Senin itu dengan berpuasa sebagai lambang syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai lambang  cinta kepada Nabi SAW, muludan dapat dilangsungkan kapan saja. Dalam bentuk yang paling sederhana muludan adalah pembacaan riwayat hidup Nabi SAW (rawi).

Di Indonesia, umumnya kitab yang dibaca adalah Maulid Syarafal Anam karya Ibnu Jauzi, Maulid Barzanji karya Syaikh al-Barzanji, Maulid Diba’i karya Imam al-Diba’i, Maulid Simthud Durar karya Imam Habib al-Habsyi, dan yang lainnya tergantung komunitas dan daerahnya.  Semua isi kitab maulid ini adalah berupa puji-pujian kepada Nabi SAW.

Berdasar informasi di atas, maka pahala yang didapat seseorang dari muludan adalah, karena ia mencintai  Nabi SAW melebihi cinta kepada orangtua, anak, dan istri sendiri. Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orangtuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Alasan lainnya, karena muludan adalah ekspresi dari rasa taat kepada Nabi SAW. Nabi SAW menjelaskan, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh dialah yang tidak mau (masuk surga).” (HR. Bukhari). Di antara mentaati Nabi SAW adalah meneladani beliau sebagai teladan terbaik

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab/33: 21). Menurut pengarang Tafsir Jalalain, di antara yang diteladani dari Nabi SAW adalah keteguhan dan kesabaran beliau.

Dalam berbagai kitab maulid disebutkan bahwa Nabi SAW adalah manusia biasa, tapi tidak seperti layaknya manusia biasa. Secara fenomenal, Syaikh Nawawi Banten dalam Fathush Shamad al-‘Alimi menuliskan sisi keistimewaan Nabi SAW yang hari lahirnya layak untuk diperingati oleh para pengikutnya. Pertama, Nabi SAW lahir dalam keadaan sujud.

Kedua, Nabi SAW terlahir dalam keadaan sudah terputus  tali pusatnya dan sudah dikhitan. Ketiga, api yang selama seribu tahun disembah oleh orang-orang Majusi tiba-tiba padam pada malam ketika Nabi SAW akan dilahirkan. Keempat, pada malam Nabi SAW akan lahir, istana kaisar Romawi di Barat dan kisra Persia di Timur bergetar.

Bahkan dalam sebuah hadits yang ditulis Imam Bukhari, kelahiran Nabi SAW disambut Abu Lahab dengan penuh cinta dan suka cita. Disebutkan sampai-sampai dia memerdekakan seorang budak yang bernama Tsuwaibah. Jadi kalau orang yang paling membenci Nabi SAW saja merayakan muludan, masa umat Nabi Muhammad SAW sendiri menolaknya.

Terbit Sabtu, 12 September 2020 di https://republika.co.id/berita/qgin3v374/pahala-mauludan (sam/mf)

Share This