Dr. K.H. Syamsul Yakin MA: Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pahala ikhlas adalah ditolong oleh Allah SWT. Nabi SAW menegaskan, “Allah akan menolong umat ini karena sebab orang miskin, karena doa orang miskin tersebut, karena shalat mereka dan karena keikhlasan mereka dalam beramal” (HR. Nasa’i). Ikhlas adalah beramal semata diniatkan karena Allah SWT, bukan juga karena mengharap pahala.

Secara psikologis, kondisi batin orang yang ikhlas serupa benar dengan firman Allah SWT, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. al-Hadid/57: 23).

Dzun Nun al-Mishri berkata, seperti ditulis oleh Imam al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiah, bahwa ada tiga tanda ikhlas. Pertama, tatkala seseorang merasakan pujian dan celaan manusia tidak ada bedanya. Artinya, pujian manusia tidak dapat membuatnya bahagia dan merasa mulia. Begitu juga celaan orang tak membuatnya jadi berduka dan terhina.

Kedua, tatkala dia mengerjakan perbuatan baik, dia tidak menyadarinya bahwa dia  mengerjakan perbuatan baik itu. Ketiga, dia lupa begitu saja bahwa dia kelak akan mendapatkan pahala di akhirat karena perbuatan  baik yang dilakukan. Kalau diamati apa yang dikatakan oleh Dzun Nun al-Mishri ini membagi orang ikhlas menjadi dua, yakni mukhlis dan mukhlas.

Kita mukhlis apa sudah jadi mukhlas? Kita baru pada posisi mukhlis apabila kita masih menyadari bahwa yang kita  kerjakan itu ikhlas. Namun kita beranjak jadi mukhlas manakala kita tak lagi menyadari bahwa kita sedang melakukan sesuatu secara ikhlas. Tegasnya mukhlas tak lagi mengejar derajat mukhlis karena seorang mukhlas pasti mukhlis, dan tidak sebaliknya.

Jadi mukhlas adalah karakter alamiah seorang mukhlish.  Mukhlas adalah respons spontan seorang mukhlis untuk berbuat kebaikan tanpa syarat,  tanpa harap. Namun keduanya adalah orang-orang yang memahami titah Allah SWT, “Katakanlah, “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” (QS. Ali Imran/3: 29).

Hampir serupa dengan Dzun Nun al-Mishri adalah apa yang ditulis oleh Syaikh Nawawi Banten dalam Nashaihul Ibad tentang tiga tangga ikhlas. Tangga paling tinggi adalah orang yang memurnikan perbuatan baik dari perhatian makhluk. Berdasar dua kategori di atas, yang pantas meraih tangga tertinggi ini adalah mukhlas, bukan mukhlis.

Tangga kedua, orang yang berbuat baik karena Allah, namun dengan tujuan agar Allah memberinya keuntungan akhirat. Tangga ketiga, berbuat baik karena Allah, namun dengan tujuan agar Allah memberinya keuntungan dunia. Dalam realitas, tak dapat disangkal bahwa secara umum kita berada pada tangga kedua dan ketiga ini yang disebut dengan mukhlis.

Namun kita tetap harus merasa gembira, karena masuk dalam kategori ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa menjadikan kehidupan dunia sebagai dambaannya, Allah akan menjauhkannya dari tujuannya itu dan menjadikan kehidupannya dalam kekurangan. Kehidupan dunia tidak akan diperolehnya kecuali yang hanya telah ditetapkan baginya.

Sebaliknya, siapa saja yang menjadikan akhirat sebagai niat yang melatarbelakanginya, maka Allah akan memenuhi semua urusannya dan juga menjadikan kecukupan di dalam hatinya dan dunia menghampirinya dan dunia itu adalah sesuatu yang hina (di matanya).” (HR. Ibnu Majah). Insya Allah, pahala dalam hadits ini untuk orang yang mukhlas dan juga mukhlis.

Terakhir, tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti seseorang itu mukhlis atau mukhlas. Karena Nabi SAW bersabda, “Amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan menurut Syaikh Salim bin Sumair dalam Safinah al-Naja, “Tempat niat itu di dalam hati”. Siapa yang dapat menyelami kedalaman hati manusia selain Allah SWT?

Terbit di https://republika.co.id/berita/qcrkiq374/pahala-ikhlas (sam)

Share This