Oleh: Dr. K.H. Syamsul Yakin MA,  Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Secara etimologi bershalawat itu artinya berdoa. Oleh karena itu, secara terminologi bershalawat kepada Nabi SAW artinya seseorang memohon agar Allah SWT senantiasa memberikan kasih sayang dan keselamatan kepada Nabi SAW. Bershalawat adalah ungkapan cinta  kepada Nabi SAW secara verbal yang terpancar dari lubuk hati yang paling dalam.

Shalawat ibarat air di dalam wadah yang sangat besar. Luberan air  itulah yang didapat bagi orang yang bershalawat. Tatkala seseorang bershalawat, sejatinya bukan Nabi SAW yang membutuhkan doa itu. Tapi secara filosofis, orang itulah yang membutuhkan syafa’at (pertolongan) Nabi SAW nanti di akhirat. Tak pelak banyak orang yang kontinu bershalawat.

Bahkan tak hanya manusia, Allah SWT dan para malaikat juga bershalawat kepada Nabi SAW. Allah SWT memberi informasi, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab/33:56).

Dalam pandangan Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir,  ada perbedaan makna shalawat manusia kepada Nabi SAW dan shalawat Allah SWT dan para malaikat. Allah SWT bershalawat kepada Nabi SAW artinya Allah SWT memujinya. Begitu pula malaikat bershalawat kepada Nabi SAW, artinya mereka mendoakannnya. Namun secara umum, artinya memberikan keberkahan.

Jadi pujian dari Allah SWT, keberkahan, dan doa-doa dari malaikat dan manusia tertuju dan berhimpun pada diri Nabi SAW. Maka masuk akal kalau orang yang bershalawat kepada Nabi SAW memperoleh  pahala hebat.  Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Pahala bershalawat kepada Nabi SAW yang menggegarkan adalah seseorang akan mendapat kabar bahwa ia akan masuk surga. Nabi SAW menginformasikan, seperti dikutip Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Hadits, “Barangsiapa bershalawat kepadaku seribu kali, maka ia tidak akan mati hingga diberikan kabar gembira bahwa ia akan masuk surge.”

Inilah makna paling fundamental dari adagium tentang “Islam agama cinta”. Cinta Allah SWT dan para  malaikat kepada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW memperkenalkan cinta tersebut kepada manusia. Kemudian manusia membalas cinta tersebut dengan bershalawat kepada Nabi SAW. Ujungnya, Nabi SAW memberikan syafaat kepada siapa saja yang mencintainya.

Secara generik, di antara sesama manusia juga dapat saling menebar cinta. Misalnya saling menasehati, saling mengajarkan, saling mengingatkan. Dalam kehidupan nyata, bukti cinta itu adalah membuat orang yang menangis jadi tertawa, membuat orang yang kelaparan jadi kenyang, membuat orang yang berputus asa jadi bersemangat kembali, dan lain sebagainya.

Terakhir, ada kabar gembira yang dikutip oleh Syaikh Nawawi Banten dalam Tanqih al-Qaul al-Hatsits. Bersumber dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik, ia berkata, “Aku pernah berada di dekat Nabi SAW, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jumat sebanyak 80 kali, maka dosanya 80 tahun akan diampuni oleh Allah SWT.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepadamu?” Nabi SAW menjawab, “Ucapkanlah,  “Allahumma Sahlli Ala Muhammadin Abdika Wa Rasulikan Nabiyill ummiyi”. Hari ini adalah Jumat yang penuh berkah. Insya Allah berlimpah ilmu dan hikmah. Mari kita bershalawat  sebanyak 80 kali, seperti yang diajarkan Nabi SAW.

Terbit di https://republika.co.id/berita/qd8h9g374/pahala-bershalawat (sam/mf)

Share This