Oleh: Dr. K.H. Syamsul Yakin MA,  Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta

Secara sosio-historis, hijrah berarti pindahnya Nabi SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah atas perintah Allah SWT. Namun hijrah dalam konteks masa kini, tidak hanya bermakna pindah secara teritorial dari satu daerah ke daerah lain. Orang yang berubah dari pemberang jadi penyayang  atau dari pemarah jadi pemurah dapat dikatakan sebagai orang yang hijrah.

Lebih jauh, orang yang shalat di masjid setelah sebelumnya shalat di rumah itu juga hijrah. Begitu pula orang yang tak lagi memakan yang haram, tak lagi terjerat riba, dan selalu menutup aurat. Pendek kata, berbagai perubahan yang dilakukan seseorang dari yang tidak baik kepada yang lebih baik dalam hal ibadah atau mualamah adalah hijrah. Pelakunya akan mendapat pahala.

Allah SWT menjanjikan, “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. al-Nisa/4: 100). Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini memberikan motivasi kepada kaum muslim yang berhijrah bahwa mereka akan mendapatkan penghidupan dan tempat berlindung.

Sementara itu, bagi Syekh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir yang dimaksud dengan rezeki yang banyak adalah kebaikan dan nikmat. Dalam sejarah orang-orang yang memusuhi Nabi SAW di Makkah merasa malu menyaksikan keberhasilan beliau di Madinah.

Secara teologis, ayat ini dapat menjadi motivasi dan solusi untuk segera berhijrah agar terbebas dari kesulitan.

Rezeki yang dimaksud dalam ayat ini juga dapat berupa rezeki yang memang sudah dijamin oleh Allah SWT bagi setiap makhluk. Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah yang memberi rezekinya.” (QS Hud/11: 6). Maksudnya, menurut pengarang Tafsir Jalalain, Allah SWT yang menanggung rezekinya.

Selain itu, rezeki yang dimaksud adalah kemudahan berusaha di tempat hijrah. Sebab, Allah SWT menegaskan, “Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu.” (QS Ali Imran/3: 145). Pahala dunia yang dimaksud di sini, bagi Syekh Nawawi Banten, tak lain adalah kepentingan dunia.

Kepentingan dunia itu bisa kebutuhan primer, seperti sandang, pangan, papan. Kemudahan berusaha, seperti berdagang, bercocok tanam, dan menangkap ikan di laut. Bisa juga kebebasan berserikat dan berkumpul untuk menyuarakan aspirasi dan keinginan bersama. Inilah pahala dunia yang dapat dinikmat secara nyata bagi orang-orang yang menghendakinya.

Selanjutnya, orang yang berhijrah adalah orang yang bertakwa. Oleh karena itu, rezeki yang didapat bisa berupa  rezeki yang tak disangka-sangka. Allah SWT memberi informasi, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. al-Thalaq/65: 2-3).

Bagi pengarang Tafsir Jalalain, rezeki yang tak disangka-sangka itu adalah rezeki dari arah yang belum pernah berlintas di dalam hati. Dalam sejarah ternyata setelah sepuluh tahun di Madinah, Nabi SAW dan para sahabat mendapatkan kemajuan yang gilang-gemilang dari berbagai segi, seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan utamanya adalah dakwah islamiyah.

Namun, tampaknya pahala berhijrah itu sangat bersegi banyak. Misalnya,  berdasar riwayat dari Abdullah bin Amr bin Ash yang pernah berkata, “Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah SAW seraya  berkata,  “Aku berjanji setia dengan Anda akan ikut hijrah dan jihad, karena aku menginginkan pahala dari Allah.”

Nabi SAW bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Orang itu menjawab, “Bahkan keduanya masih hidup”. Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?” Jawabnya, “Ya.” Nabi SAW memerintahkan, “Pulanglah kamu kepada kedua orangtuamu, lalu berbaktilah pada keduanya dengan sebaik-baiknya.“ (HR Muslim).

Terbit Kamis, 13 Agustus 2020 di https://republika.co.id/berita/qez98m374/pahala-berhijrah (sam/mf)

Share This