Pada setiap tahun, khususnya di awal masuk perkuliahan antara September-Oktober, banyak organisasi ekstra kampus yang berdomisili di sekitar kampus UIN Jakarta ramai-ramai merekrut mahasiswa untuk mengikuti pelatihan organisasi dan ‘pembaiatan’ sebagai anggota baru organisasi ekstra kampus.

Cukup banyak jumlah organisasi ekstra kampus yang dapat diikuti oleh mahasiswa baru. Selain jumlahnya yang banyak, organisasi ekstra kampus juga memiliki karakteristik dan ideologi perjuangan yang berbeda-beda, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan lain sebagainya.

Selain organisasi ekstra kampus, ideologis di atas, juga ada organisasi ekstra kampus berbentuk primordial dan alumni asal sekolah atau pesantren, di antaranya Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD), IMMAN Jakarta, Himpunan Mahasiswa Banten (HMB), HIMABO, Permai-Ayu DKI, HIMACITA, KEMKA JAYA, HIMASAL, FORSILA, FORMAL, dan lain sebagainya.

Organisasi tersebut setiap tahunnya berlomba-lomba merekrut anggota baru, khususnya mahasiswa baru UIN Jakarta untuk bergabung, berkader, dan berproses di dalam organisasi mereka. Pada akhirnya anggota baru diproyeksikan menjadi penerus perjuangan dan cita-cita mulia organisasi.

Lantas kemudian muncul pertanyaan dari sebagian mahasiswa baru apakah urgensi dari berorganisasi? Karena diketahui, tugas kuliah dan tuntutan kampus saat ini semakin berat untuk mahasiswa. Mulai dari skor minimal TOEFL dan atau TOAFL, batasan maksimal masa studi, nilai minimal IPK agar dapat diterima di program magister di perguruan tinggi negeri favorit atau memperoleh beasiswa dan lain sebagainya.

Boleh jadi, variabel di atas menjadi salah satu pertimbangan penting mahasiswa baru untuk ambil keputusan apakah akan ikut berorganisasi ataupun tidak. Alih-alih ikut organisasi mendapatkan ilmu dan pengalaman yang tidak didapat selama mereka kuliah, sebaliknya kegiatan organisasi malah jadi penghambat aktivitas perkuliahan dan pada akhirnya organisasi menjadi penyebab kegagalan mereka dalam penyelesaian studi.

Kondisi dan situasi organisasi ekstra kampus saat ini berbeda dengan 10 tahunan yang lalu, organisasi seolah menjadi barang mewah dan kebanggaan untuk mahasiswa. Mahasiswa dulu merasa bangga dan percaya diri saat dilabeli sebagai aktivis kampus, apalagi sampai menduduki jabatan strategis di organisasinya, baik menjabat di organisasi ekstra maupun intra kampus seperti ketua DEMA F, DEMA U, dan seterusnya.

Tetapi, sekali lagi itu cerita masa lalu yang ‘agak’ sulit dijumpai saat ini. Mungkin saja ada di sebagian organisasi ekstra kampus yang sampai saat ini masih survive dengan segala bentuk kegiatan dan aktivitasnya, tetapi jumlahnya sangat sedikit, dapat dihitung dengan jari.

Penyebabnya tentu banyak, mulai dari budaya hedonis yang mulai merasuki mahasiswa, sikap cuek mahasiswa dengan lingkungan sekitar dan issu nasional, dan kebijakan pemerintah dalam pembatasan maksimal waktu studi adalah beberapa faktor penyebab merosotnya gairah mahasiswa untuk berorganisasi dan itu berimbas terhadap proses perkaderan organisasi ekstra kampus di Ciputat, khususnya UIN Jakarta.

Selain penyebab di atas, organisasi ekstra kampus saat ini juga kurang dapat beradaptasi dengan perkembangan dan kebutuhan akademik anggotanya. Program kerja yang ditawarkan masih berkutat kepada kegiatan rutinitas, seperti baksos dan santunan anak yatim. Apakah kegiatan tersebut tidak bermanfaat? Tentu bermanfaat, utamanya menumbuhkan jiwa sosial dan solidaritas untuk anggota organisasi.

Namun, organisasi ekstra kampus lupa dengan kebutuhan anggotanya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik/akademik dan soft skill mereka setelah selesai kuliah, seperti pelatihan wirausaha, pelatihan penulisan karya ilmiah, kursus bahasa asing, khususnya TOEFL dan TOAFL yang tentu dapat menunjang anggota organisasi dalam menghadapi tugas-tugas kuliah dan penyelesaian studi.

Imbasnya, banyak organisasi ekstra kampus yang ramai-ramai ditinggalkan anggota dan tentu saja itu menjadi kerugian besar bagi organisasi. Padahal elemen terpenting dari organisasi adalah terdapatnya anggota yang berkader dan menjadi penerus perjuangan cita-cita mulia organisasi.

Mestinya, pengurus organisasi sadar dan memahami betul akan tuntutan anggota organisasinya. Kegiatan dan program kerja organisasi sekarang harus berorientasi ke arah peningkatan kualitas anggotanya, baik dari segi leadership, soft skill, maupun kompetensi akademiknya.

Pengurus organisasi sudah semestinya tidak lagi memaksakan kehendak pribadi tanpa memperhatikan kebutuhan anggota dan lingkungannya. Sudah waktunya organisasi ekstra kampus menjadi solusi anggotanya dalam meningkatkan kompetensi, baik hard skill maupun soft skill yang akhirnya akan membekali mereka dalam meraih kesuksesan masa depan. Wallahu a’lam.

Muslikh Amrullah MPd, Staf Magister FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: fitk.uinjkt.ac.id, 4 Oktober 2019. (lrf/mf)

Share This