Agenda pemerintahan seluruh dunia pasca Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015 adalah SDGs (Sustainability Development Goals). Bermodalkan kesuksesan program MDGs, negara-negara yang tergabung dalam agenda tersebut mulai mentransformasikan spirit SDGs pada segala bidang, tidak terkecuali Indonesia.

Salah satu agenda SDGs adalah tanggapan atas perubahan iklim. Di mana-mana saat ini berbagai pihak mulai mengkampanyekan kesadaran akan perubahan iklim. Di antara bentuk tanggapannya adalah perilaku hijau. Perilaku hijau bisa diwujudkan dalam beragam bentuk. Memilah dan memilih bahkan mendaur ulang sampah, menghijaukan kawasan, gedung, dan sebagainya, merupakan aksi riil perilaku hijau.

Salah satu agensi penting dalam meningkatkan kesadaran akan bahaya perubahan iklim adalah kota. Kota berkontribusi besar pada perubahan iklim karena habitnya sendiri. Di kota, volume kendaraan dan manusia jauh lebih besar ketimbang di desa. Alhasil, jika agenda perilaku hijau dilaksanakan oleh sebagian kota di Indonesia, niscaya kontribusi pada peningkatan kualitas iklim yang berSDGs sangatlah besar.

Di Kota Bogor, dan mungkin juga di kota lain, saat ini sedang trend gerakan menghijaukan pekarangan. Bukan (hanya) dengan bunga, tetapi oleh tanaman yang lazim ditanam di sawah dan ladang. Kubis, kol, terung, tomat, bahkan Jahe Merah dan bibit lain ditanam di berbagai media: pot, bahan bekas, dan lainnya. Selain di halaman rumah, penghijauan juga dilakukan di rumah dan pekarangan yang rumahnya idle.

Optimalisasi pekarangan dan lahan tidur ini jelas menghasilkan aura positif lingkungan. Secara ekologis, banyaknya tanaman hijau akan menghasilkan oksigen bersih yang menyehatkan. Sedangkan secara sosial, proses ini akan memperkuat keeratan antar penghuni, serta meningkatnya kesadaran sosio-ekologis yang sudah banyak meluruh akibat modernisasi.

Mari kita sedikit kalkulasi. Jika sebuah kota jumlah penduduknya lima juta jiwa. Kemudian 25%nya melakukan gerakan peduli pekarangannya, akan banyak oksigen bersih yang akan dihasilkan kota tersebut. Selain itu, jika tanamannya itu produk-produk harian yang dibutuhkan dapur, maka tidak mustahil mereka bisa menjadi penyuplai utama kebutuhan sayuran warga kota. Tomat, terong, timun, kacang panjang, cabai merah, bahkan sawi dan kol, sangat subur ditanam pada media tanah kompos di pollybag. Dengan sedikit ketelatenan, selain hasilnya bisa dipanen, juga pemandangan hijau pun akan bisa dinikmati.

Dalam konteks makro, seperti agenda SDGs itu, optimalisasi pekarangan itu jelas berkontribusi besar kepada pencapaian program. SDGs yang didalamnya mensyratkan peningkatan kualitas iklim dan juga kehidupan perkotaan, terwujud dengan cukup baik di dalamnya.

Optimalisasi pekarangan perkotaan misalnya, bisa menyebabkan interaksi antar tetangga makin intens. Intensitas relasional berkontribusi kepada menguatnya daya kohesifitas masyarakat. Pada kohesi seperti ini, masyarakat menjadi kuat dan sehat. Bahkan lebih jauh, kesadaran organis yang dihasilkan ini bisa memunculkan komunitas kreatif perkotaan. Komunitas kreatif adalah energi dinamis kota-kota (Hermansah, 2014). Dengan limpahan energi ini, maka tidak mustahil agenda SDGs akan landing dengan lebih indah dan tepat sasaran.

Untuk mencapai target seperti yang dikehendaki SDGs, tentu saja pemerintah harus juga membantu proses ini. Dengan menggunakan pendekatan penta-helix, stakeholders perkotaan (pemkot/pemda, swasta/bisnis, akademisi/ kampus, masyarakat, dan media) bisa menjadi agensi aktif dalam mendesain, merencanakan aksi, sampai kemudian mengeksekusi sebagai bagian dari kebijakan multisektor. Penguatan kota berkelanjutan, dengan demikian bisa dikaitkan dengan agenda global yang tercantum dalam SDGs. (mf)

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam Bidang Ilmu Sosiologi Pedesaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Rakyat Merdeka 17 November 2018.

Share This