Syahida Inn, BERITA UIN Online – Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi Oman Fathurahman atas nama Menteri Agama Lukman Halim Saifuddin membuka resmi penyelenggaraan Konferensi Pertama Internasional Gender dan Gerakan Sosial di gedung Syahida Inn UIN Jakarta, Rabu (16/10/2019). Acara diikuti oleh perwakilan 58 perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di Indonesia, terdiri atas para aktivis Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), dosen, dan peneliti.

Hadir pada pembukaan Kepala Subdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi keagamaan Islam Suwendi, Wakil Rektor Bidang Akademik Zulkifli, dan sejumlah aktivis dari kalangan organisasi perempuan.

Oman menyambut positif diselenggerakannya konferensi tahunan tentang perempuan. Konferensi tersebut penting untuk membahas tentang peran perempuan muslim di ranah publik dan domestik.

Dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah, sebut Oman, peran perempuan secara jelas juga masuk ke dalam agenda pembangunan. Menurut dia, setidaknya ada enam agenda penting dalam RPJMN, yakni pengarusutamaan gender, pengarusutamaan tatakelola good governance, pengarusutamaan tatakelola Sustainable Development Goals (SDGs), pengarusutamaan bencana, pengarusutamaan modal sosial budaya, dan pengarusutamaan transformasi digital.

“Bahkan saat ini Kementerian Agama juga ingin peran perempuan banyak membicarakan mengenai moderasi beragama,” katanya.

Menurut Oman, moderasi beragama harus menjadi perspektif utama dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari itu moderasi beragama juga harus mendorong terciptanya kehidupan beragama yang harmonis dan penuh toleran.

“Semangat moderasi beragama ini yang harus dijadikan agenda dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia,” ucap Guru Besar Bidang Filologi Islam pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta itu.

Konferensi Internasional bertema “Perempuan, Moderasi Beragama, dan Pencapaian SDGs” itu digelar Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Komisi Nasional Perempuan, dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Konferensi di antaranya bertujuan agar ada pemahaman yang adil terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan diskriminasi dalam perspektif moderasi beragama serta adanya gerakan bersama untuk mewujudkan keadilan bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan diskriminasi di Indonesia.

Konferensi yang berlangsung hingga 18 Oktober 2019 itu selain diisi oleh sejumlah narasumber ahli dari dalam dan luar negeri juga menampilkan para pemakalah (call paper) dari peserta dengan beragam tema. Pada konferensi ini ada sedikinya 31 makalah yang akan dipresentasikan dan terbagi ke dalam tujuh klaster. (ns)

Share This