Suku Uighur adalah penduduk mayoritas (80 persen) Turkistan Timur yang kemudian oleh Pemerintah RRC sejak 1949 dijadikan Daerah Otonomi Khusus Xinjiang Uighur. Pada 1953 sensus penduduk pertama kali dilakukan; etnis Uighur terutama bermukim di wilayah tenggara Xinjiang adalah suku mayoritas –75  persen dari total penduduk sekitar 4,8 juta jiwa.

Suku Han (Cina) hanya delapan persen pada 1953. Tetapi, sejak 2000 setelah peningkatan eksodus massal etnis Han (Cina) ke Xinjiang, penduduk Uighur tinggal 45 persen dari hampir 22 juta seluruh populasi Daerah Otonomi Khusus ini.

Eksodus besar-besaran etnis Han dari kawasan timur Cina secara signifikan mengakibatkan perubahan lanskap ekonomi, sosial, dan politik Xinjiang-Uighur. Etnis Han menjadi penduduk mayoritas di wilayah urban. Di wilayah ibu kota Urumqi, yang didiami sekitar sembilan persen warga Xinjiang secara keseluruhan, etnis Uighur hanya 12,8 persen. Urumqi menjadi kian “Chinese karena sekitar 80 persen penduduk adalah suku Han.

Dalam eksodus suku Han secara sistematis, warga Uighur dan kelompok etnis Muslim lain tersingkir. Sektor ekonomi Xinjiang-Uighur terus kian dikuasai orang Han yang berpendidikan jauh lebih baik dan memiliki akses lebih besar pada ekonomi dan perdagangan. Mereka berpendapatan jauh lebih besar dibandingkan orang Uighur yang bekerja di sektor informal dengan penghasilan pas-pasan.

Hasilnya adalah terciptanya segregasi kian meluas di Urumqi dan kota-kota lain. Segregasi terlihat dalam pemukiman terpisah satu sama lain. Juga ada segregasi karena perbedaan agama, budaya, dan status sosial-ekonomi. Semua perkembangan ini berakibat pada peningkatan kejengkelan sosial ekonomi dan politik di kalangan warga Uighur. Dengan sejarah panjang perlawanan untuk kemerdekaan, tidak heran kalau terus terjadi peningkatan radikalisasi di kalangan Uighur.

Mengapa ada kalangan Uighur yang memiliki kecenderungan lebih kuat menjadi radikal dan terlibat aksi terorisme. Hal ini terkait dengan hubungan dan jaringan kelompok etnis ini dengan dunia lebih luas. Wilayah Xinjian-Uigur memiliki keterkaitan kuat dalam jaringan ulama cosmopolitan yang berpusat di Makkah dan Madinah. Jaringan ulama ini –yang juga melibatkan ulama Nusantara– mulai menemukan momentum sejak abad ke-16 dan 17 serta abad-abad sesudahnya sampai 1990-an.

Salah satu ulama besar yang membawa Xinjiang-Uighur ke dalam jaringan ulama kosmopolitan itu adalah Muhammad Emin atau Aziz yang dalam sumber Cina disebut Ma Mingxin (1719-1781). la belajar selama 16 tahun dengan sejumlah ulama besar jaringan ulama di Yaman dan Makkah yang juga mencakup murid/ulama ‘Jawi’ –asal Nusantara.

Ma Mingxin –juga mursyid tarekat Naqsyabandiyah Jahriyah– memainkan peran penting dalam kemunculan gerakan reformis yang dikenal sebagai tajdidiyah di Asia Tengah. la tidak hanya mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah Jahriyah yang lebih setia pada syariah dan fikih, juga melakukan pemurnian Islam dari percampuran dengan tradisi lokal.

Tradisi reformis Ma Mingxin dilanjutkan keturunannya, seperti Ma Hua Long yang pada 1860-an memimpin pemberontakan besar Hui (Muslim) di wilayah barat laut Cina atau Asia Tengah yang mencakup Xinjiang, Shaanxi, dan Gansu.

Sebaliknya, dengan hubungan intens dengan berbagai wilayah Dunia Muslim lain, khususnya Turki, Muslim Uighur mengorientasikan dinamika lslam ke arah politik. Mengalami konflik, perang, dan ketertindasan panjang dengan Cina, kalangan radikal Uighur pada 1933-34 melakukan perlawanan bersenjata untuk membentuk Republik Turkistan Timur atau Republik Islam Turkistan Timur. Gerakan bersenjata ini dipadamkan militer Cina. Tetapi, perlawanan bersenjata untuk tujuan yang sama kembali meletus pada 1944-49, yang sekali lagi dilumpuhkan militer Cina.

Dengan sejarah panjang aksi militer, tidak heran kalau kalangan radikal Uighur relatif mapan. Karena itu, ketika gejolak radikalisme dan terorisme menemukan momentum melalui Taliban, Alqaidah, ISIS, dan semacamnya di berbagai penjuru dunia, sel-sel radikal Uighur juga bergerak. Mereka pun secara terbuka memaklumkan ‘Jihad Global’ bersama kelompok dan sel teroris lain atas nama Islam. (mf)

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Resonansi Republika, Kamis, 3 Januari 2019.

Share This