Ruang Berita, BERITA UIN Online— Rona bahagia terpancar dari wajah dara manis kelahiran Temanggung, 21 Nopember 1995 itu. Betapa tidak, dirinya baru saja menerima penghargaan sebagai sarjana terbaik pada Wisuda Sarjana ke-106 yang digelar Sabtu-Minggu (4-5/11), di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta.

Sarjana Agama Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) ini, lulus dengan IPK Yusidium 3,94/Kumlaude di tingkat universitas pada Strata 1 (S1) . “Alhamdulillah, keseriusan dan kerja keras ini membuahkan hasil,” ujar sarjana yang memiliki kemauan kuat untuk menghafal al-Qur’an ini.

Nelli, demikian sapaan akrabnya, tak lupa mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada para dosen dan pihak-pihak yang telah mendukung dan memberikan doa restu, terutama kedua orang tua yang selama ini mendorongnya untuk kuliah. Mereka, menurut Nelli, tiada henti mendoakan dan memberi dukungan.

“Saya bahagia mampu membuat kedua orangtua saya merasa bangga. Walau belum seberapa bila dibanding kebaikan yang telah mereka berikan pada saya,” tandasnya.

Putri ketiga dari empat bersaudara pasangan Ahmad Syafi’I dan Maslamah ini menambahkan, kunci keberhasilan dalam prestasi itu tak lain dengan disiplin mengatur waktu agar tidak terbuang dengan sia-sia.

“Belajar dengan giat, gunakan waktu selama kuliah sebaik mungkin, selalu berdoa kepada Allah SWT dan meminta restu dari orang tua. Karena, kita semua merupakan generasi muda yang diberi amanah Allah untuk meneruskan estapeta perjuangan para pendahulu kita,” pesan mahasiswi yang ngefans berat kepada Prof Huzaimah dan Prof Amani Lubis itu.

Nelli Lailiyyatu Alfina berhasil lulus setelah mempertahankan skripsinya di hadapan penguji dengan judul AL-AHADIS AN-nabawiyah Haula Al-Adzkar Al-Maktsurah Ba’da As-Shalawat AlMafrudhah (Takhrijan Dirasatan Tahliliyatan). Skripsi itu ia tulis dilatarbelakangi kebiasaan masyarakat secara turun-temurun membaca lafadz zikir setelah shalat, akan tetapi belum mengetahui dasar dan sumber dari lafadz tersebut.

Sarjana yang bercita-cita menjadi penerjemah ini, juga memaparkan kesan-kesannya selama menimba ilmu di kampus UIN Jakarta, khususnya FDI. “Saya bersyukur bisa menempuh pendidikan di kampus yang memiliki banyak guru besar ini. Selain itu, secara keilmuan, UIN Jakarta menjadi pilihan yang tepat untuk memperkaya diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan,” jelasnya.

Saat diwawancara BERITA UIN Online, Nelli menuturkan bahwa dirinya berniat melanjutkan studinya ke jenjang Strata dua (S2) bahkan Doktor. Namun sebelumnya, Nelli ingin merampungkan hafalan Qur’annya dan menyelesaikan “ngaji” di Pondok Pesantren Darussunah, Ciputat.

“Mohon doa dari semua, semoga dalam waktu dekat saya dapat menyelesaikan hafalan dan ngaji saya. Dengan begitu saya bisa fokus mencari beasiswa kuliah ke Negeri Sudan atau Maroko. Saya memilih negeri tersebut, karena mahasiswa yang berasal dari Indonesia masih dikatakan sedikit, jadi saya berharap peluangnya masih besar,” ungkap Santri lulusan Pondok Pesantren Padang Panjang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat tersebut.

Ketika ditanya tentang harapan untuk UIN Jakarta khususnya FDI, Nelli dengan lugas mengatakan bahwa perlu adanya asrama yang mewajibkan berbahasa Arab bagi mahasiswa FDI. Pasalnya, apabila mahasiwa FDI disediakan asrama, maka bahasa Arab akan selalu terjaga. “Apalagi kampus kita Universitas Islam Negeri, jadi seyogyanya bahasa Arab-nya juga harus selalu terjaga dan bila perlu terbaik,”tandas Nelli. (lrf)

Share This