Kampanye pemilihan presiden 2019 memanas seiring dimulainya aksi-reaksi di antara kubu Jokowi dan Prabowo. Contoh aktual adalah gaduhnya perbincangan publik merespons candaan Prabowo Subianto saat berkampanye di Boyolali, akhir Oktober lalu. Seketika potongan ucapan “tampang Boyolali” dalam pidato Prabowo menular di media sosial dan ramai-ramai menjadi pembahasan media arus utama. Tim kedua kubu saling melaporkan sambil sibuk mengkonstruksi makna masing-masing sehingga menyebabkan narasi “tampang Boyolali” menjadi perbincangan masyarakat. Pun demikian, diksi “sontoloyo” yang diucapkan Jokowi ramai menjadi gunjingan khalayak dan dikritik kubu oposisi sebagai pilihan kata yang tak patut disampaikan presiden.

Dalam perspektif komunikasi politik, dapat dibedakan antara argumentasi dan serangan verbal. Dominic Ifanta dalam Argumentativeness and Verbal Aggressiveness (1996) membedakan keduanya. Argumentasi selalu bersandar pada alasan, nalar, logika berpikir, dan tautan data atau fakta yang bisa menjadi penguatnya. Sedangkan agresivitas verbal menyerang ide, keyakinan, ego, atau konsep diri orang lain. Dari sisi narasi komunikasi yang dipilih, satu bulan lebih masa kampanye yang sudah dijalani masih didominasi oleh pilihan agresivitas verbal yang mengarah ke emosi ketimbang pertarungan gagasan dan program yang membutuhkan argumentasi. Persoalan yang mengemuka dan ramai menjadi narasi kegaduhan tidaklah substansial, melainkan baru sekadar memalingkan perhatian khalayak kepada polemik dan kontroversi.

Prabowo pada ragam kesempatan memang lebih banyak membangun narasi kontroversial. Contohnya tagline “Indonesia First, Make Indonesia Great Again” sangat mirip dengan “America First, Make America Great Again” milik Donald Trump.Pernyataannya soal tidak akan mengimpor dan kritik pedas Prabowo bahwa pemerintah Jokowi lebih condong ke Cina juga dipersepsikan sebagai pilihan politik asosiatif dengan gaya proteksionisme Trump. Beberapa pihak menilai pilihan diksi dan muatan narasi Prabowo identik dengan strategi Trump saat memenangi pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Model kampanye Trump dikenal sebagai pendekatan propaganda ala Rusia, yakni firehose of falsehood. Biasanya, firehose of falsehood ini memiliki empat karakteristik utama. Pertama, memanfaatkan kontroversi untuk membanjiri kanal-kanal warga dengan narasi yang dikehendakinya. Kedua, pesan yang sama atau serupa diulang secara terus-menerus sehingga persepsi khalayak lama-lama akan terkonstruksi seperti yang dikehendaki. Ketiga, tidak terlalu peduli akan akurasi dan etika. Keempat, sering kali tidak konsisten antara narasi di satu kesempatan dan kesempatan berbeda.

Singkatnya, strategi firehose of falsehood menempatkan seseorang menjadi sangat kontroversial, licik, rasis, ataupun stigma buruk lainnya. Tapi, pada saat bersamaan, dia juga bisa meraup keuntungan elektoral dari rakyat yang secara diam-diam ataupun terbuka berada di pusaran arus kontroversinya, menikmati, dan bahkan bisa saja akhirnya berharap perubahan justru dilakukan oleh figur tersebut.

ADVERTISEMENT

Strategi propaganda serupa yang kerap dimainkan selama musim kampanye adalah false flag operation. Modus propaganda ini adalah dengan mengkambinghitamkan pihak lawan atas suatu kasus atau kejadian. Tujuan utamanya, agar opini khalayak mempercayai apa yang telah mereka lakukan dan katakan.Inilah sebabnya, jika ada suatu peristiwa mengemuka, masing-masing pihak sibuk membangun narasi kegaduhan yang sifatnya mencari kambing hitam siapa yang salah. Kedua kubu, baik tim Jokowi maupun Prabowo, kerap berjibaku menggunakan teknik ini di setiap kesempatan jika ada peluang kesalahan di kubu lawan. Salah satunya dengan memanfaatkan prinsip kerja Teori Agenda Setting, yakni jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, media akan mempengaruhi isu tersebut yang diperingkat sebagai isu penting oleh khalayak. Selain pemeringkatan isu di media massa, strategi lainnya adalah membanjiri informasi dan perbincangan di media sosial lewat pasukan cyber (cyber army).

Narasi kegaduhan tidak selalu menguatkan kualitas demokrasi. Gelembung isu politiknya sering kali sekadar menjadi permainan panggung yang temporer. Seharusnya kampanye pemilihan presiden bergerak ke arah yang lebih substansial, yakni tawaran program dan gagasan. Jangan biarkan narasi kegaduhan menjadi dominan dan membuat elite dan publik sama-sama lupa daratan.

Gun Gun Heryanto 

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Artikel ini telah dimuat pada Kolom Opini harian Tempo, edisi Senin, 12 Nopember 2018 (lrf)

Share This