Napak tilas Andalusia, Spanyol, Tampaknya kini harus dimulai di Malaga, ibu kota Provinsi Malaga, Komunitas del Sol, bandara keempat tersibuk di Spanyol yang melayani hampir 19 juta orang (2018). Malaga adalah kota besar keenam di Spanyol dengan penduduk sekitar 580 ribu jiwa. Sedangkan untuk cakupan wilayah Andalusia, Malaga adalah kota terbesar kedua setelah Sevilia (berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa) yang menjadi kota terbesar keempat di Negeri Matador.

Jejak Islam di Andalusia bermula di wilayah Malaga (bahasa Arab, Maalaqah); kota ini terletak sekitar 100 kilometer ke arah timur Jabal al-Tarik (Gibraltar), tempat pertama Tarik bin Ziyad dan pasukannya mendarat pada 711. Malaga juga hanya berjarak sekitar 130 kilometer dari ujung terdekat Afrika Utara ke daratan Eropa.

Memiliki sejarah panjang berupa permukiman kecil sejak 770SM, Malaga mencapai kejayaannya setelah berada di bawah kekuasaan Muslim. Sejak abad ke-8 Malaga menjadi pusat perdagangan; dan menjadi bagian kesultanan Kordoba. Setelah jatuhnya kekuasaan Kordoba, Malaga menjadi ibu kota kekuasaan Taifa (sub-kabilah) sampai ditaklukkan Keamiran Granada pada 1239. Sejarah Kekuasaan Muslim Malaga mengisyaratkan konflik berkelanjutan di anatara faksi-faksi atau tawaif yang ada.

Meski begitu, Malaga adalah kota Muslim yang bertahan paling lama di semenanjung lberia dari Reconquista (penaklukan kembali) yang dilakukan koalisi balatentara Katolik. Ketika kota-kota Muslim lain di Andalusia telah jatuh ke tangan pasukan Reconquista, Muslim Malaga baru akhirnya takluk pada 18 agustus 1487.

Pengembara terkenal Ibn Battutah pernah menyinggahi Malaga sekitar 1325. Dia memberikan testimoninya bahwa Malaga adalah salah satu kota terbesar dan tercantik di Andalusia, dengan buah-buahan dan makanan yang melimpah ruah. Masjid kota Malaga juga besar dan indah, dengan pohon-pohon yang tinggi dan rindang di pekarangannya.

Kini apa yang bisa ditemukan dalam napak tilas Islam di Malaga, Andalusia? Sejumlah peninggalan monumental yang kini menjadi pusat kunjungan pariwisata dapat ditemukan.

Yang terpenting, pertama; benteng La Alca-Zaba (bahasa Arab, al-Qasbah, benteng). Mulai dibangun Abdurrahman I, La Alcazaba di bukit Gibralfaro berdiri kokoh mengawasai Laut Tengah dan wilayah Andalusia lain. Kedua, Cathedral (sejak 1940) yang pada masa kekuasaan Muslim disebut Masjid al-Jama, berlokasi sekitar lima menit jalan kaki dari La Alcazaba.

Tidak diketahui pasti berapa jumlah Muslim di Malaga dan kota-kota lain di Andalusia (Sevilia, Kordoba, dan Granada). Menurut perkiraan resmi pemerintah Spanyol (2016), ada sekitar 1.919.141 Muslim di seluruh negara lain. Lebih dari separuhnya (58,7 persen) adalah imigran yang belum memiliki kewarganegaraan Spanyol. Sebagian besar Muslim Spanyol adalah migran yang dalam waktu dua dasawarsa terakhir; hanya 23.624 warga asli Spanyol yang menjadi mualaf karena berbagai alasan.

Malaga lebih beruntung dibandingkan kota-kota lain dalam hal masjid atau mezquita (bahasa Spanyol). Malaga sejak 2003 memiliki Mezquita Mayor de Malaga. Masjid ini salah satu dari 13 masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah di seluruh Spanyol. Menurut kantor EL Observatorio del PluraLismo Religoso, sampai Mai 2018 ada 1588 tempat ibadah yang sebagaian besarnya adalah mushala kecil.

Napak tilas selanjutnya di Sevilia menemukan mushala cukup besar di ruang ruko sewaan, sehingga dapat digunakan untuk ibadah Jumatan, pengajian akhir pekan, dan madrasah bagi anak-anak Kaum Muslim Sevilla melalui Fundacion de Mezquite de Sevilla tengah berjuang untuk membangun masjid representatife yang permanen. Pimpinan Yayasan, Ibrahim Hernandez dan Luqman Nieto (keduanya pribumi Spanyol) telah beberapa kali datang ke Indonesia dan Malaysia, dalam rangka menggalang dana untuk pembangunan de Mezquita de Sevilla.

Fundacion de Mezquita de Sevilla juga aktif dalam Dialog Antarbudaya dan Antaragama, yang kali ini disebut Intercambio Cultural Entre Espana e Indonesia (21/3/2019). Dialog dalam dua sesi menampilkan para pembicara dari Indonesia: Profesor Syafiq Mughni (UKP-DKAAP), Hermono (Dubes RI untuk Spanyol), Nadjamuddin Ramli (Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kemendikbud), Pdt Jack Manuputty (Institute Antaragama Maluku), dan penulis Resonansi ini.

Sedangkan para pembicara dari pihak Spanyol: Jose Manuel Carvera (Direktur Yayasan Tiga Budaya Mediteranean), Jalid Nieto (professor dan pendiri Komunitas Islam Spanyol), dan Isabel Romero (direktur Kluster Halal Spanyol yang berbicara bersama Hizrian Raz, Kadin Sumut).

Dialog diakhiri dengan pementasan Concierto de Musica Fusion Indonesia-Espana. Musik Fusi yang heboh ini ditampilkan bersama Riau Rhytm Chamber Orchestra Gruppo de Bejazz ESpana.

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Opini Republika, Jumat, 5 Maret 2019.(lrf/mf)

Share This