Auditorium, BERITA UIN Online – Nadyatul Hikmah Shuhufi, mahasiswi Jurusan Dirasat Islamiyah Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, memperoleh penghargaan Student Achivement Award (SAA) 2018 sebagai penghafal al-Qur’an (tahfidz) sebanyak 30 juz dari UIN Jakarta. Acara pemberian penghargaan dilakukan di Auditorium Harun Nasution, Senin (31/12/2018), serta dihadiri Rektor UIN Jakarta Dede Rosyada, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Yusron Razak, dan sejumlah wakil dekan bidang kemahasiswaan.

Nadya, demikian wanita ini biasa disapa, merupakan satu dari 14 mahasiswa penghafal al-Qur’an lain yang memperoleh penghargaan serupa di kategori tahfidz 30 juz. Penghargaan juga diberikan kepada para mahasiswa yang berprestasi di bidang non akademik dalam berbagai kategori, seperti sebagai relawan, karya inovatif, dan partisipasi aktif, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta kelompok maupun perseorangan. Atas penghargaan tersebut, Nadya pun memperoleh uang pembinaan sebesar Rp 2 juta ditambah sertifikat.

Nadyatul Hikmah Shuhufi lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 1 April 2000. Ia merupakan putri sulung kesayangan dari pasangan Muhammad Shuhufi dan Fatmawati Hilal, keduanya dosen di UIN Alauddin Makassar.

Mahasiswi semester 3 itu mengaku telah menghafal al-Qur’an sejak duduk di bangku madrasah aliyah, tepatnya di Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Ia menghafal al-Qur’an selain karena ada program tahfidz di pesantren, juga diniatkan semata untuk beribadah kepada Allah SWT.

“Saya menghafal al-Qur’an hanya semata untuk beribadah kepada Allah SWT. Insya Allah saya akan berusaha terus menjaganya agar tidak hilang atau lupa,” ujar gadis cantik yang kini aktif sebagai anggota Gerakan Pramuka UIN Jakarta itu.

Konon, bagi Nadya, menghafal al-Qur’an sebanyak 30 juz itu tidak instan. Butuh waktu cukup lama agar hafalan lebih kuat. Karena itu tak heran jika ia sendiri menekuni hafalan Kalam Ilahi itu selama kurun waktu dua tahun.

“Hafalan al-Qur’an 30 juz saya tempuh sekitar dua tahun, yaitu antara 2014-2016. Saya menghafal sedikit demi sedikit di bawah bimbingan seorang ustadz,” ujarnya menerangkan.

Nadya juga mengatakan, menghafal al-Qur’an itu sebenarnya beban dan memiliki tanggung jawab tidak ringan. Namun, karena niatnya untuk beribadah, ia lakukan semua itu dengan penuh ikhlas dan demi kemaslahatan diri.

Untuk menjaga agar hafalannya tetap kuat, Nadya selalu sempatkan diri mengingat-ingatnya di berbagai kesempatan. Misalnya di sela-sela jeda kuliah atau di saat tidak sibuk kegiatan organisasi. (ns)

Share This