Auditorium, BERITA UIN Online – UIN Jakarta akan terus mendorong terimplementasikannya kehidupan moderasi beragama di kampus. Bahkan moderasi beragama harus menjadi ruh dalam kegiatan dan kultur akademik di UIN Jakarta.

Hal itu dikatakan Rektor UIN Jakarta Amany Lubis saat melantik 985 sarjana baru pada Wisuda Sarjana ke-114 di Auditorium Harun Nasution, Ahad (1/12/2019).  “Mengingat pentingnya moderasi beragama bagi kehidupan berbangsa, UIN Jakarta berkomitmen mendukung terimplementasikannya sikap moderasi beragama. Ia harus menjadi ruh dalam kultur akademik di lingkungan UIN Jakarta,” ujarnya.

Menurut Rektor, argumentasi sosio-historis pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa, umat dan bangsa Indonesia telah terlahir dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang begitu plural. Bangsa Indnoesia terdiri dari berbagai macam etnis, bahasa, budaya, dan agama.

Dengan kata lain, keragaman merupakan keniscayaan yang tak bisa dipungkiri dan di saat yang sama keragaman sendiri menyimpan potensi gesekan atau konflik yang bisa memunculkan ketidakseimbangan.

“Untuk itulah, moderasi beragama menjadi begitu relevan untuk bisa dihadirkan sebagai bagian dari penciptaan kehidupan berbangsa yang seimbang,” tandas Rektor.

Rektor mengatakan, untuk mengimplementasikan moderasi beragama, hal pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dari sikap keterbukaan dalam kajian keilmuan dan partisipasi pendidikan dari masyarakat berbeda latar belakang (keagamaan), keterbukaan untuk bekerja sama dalam pengembangan akademik, termasuk mendirikan Rumah Moderasi Beragama sebagai bagian dari kontribusi UIN Jakarta dalam mendorong moderasi beragama di Indonesia.

Keseimbangan lain yang menjadi isu penting dalam moderasi beragama, menurut Rektor, pentingnya pengarusutamaan gender di lingkungan UIN Jakarta. Pengarusutamaan gender menjadi narasi yang begitu penting dalam menciptakan keseimbangan, sejalan dengan penumbuhan moderasi beragama.

Keseimbangan dimaksud adalah dengan memberikan ruang cukup terbuka bagi kelompok sosial perempuan untuk lebih banyak terlibat aktif sehingga dapat memaksimalkan kontribusinya bagi kemaslahatan hidup keluarga dan masyarakat.

Pentingnya keseimbangan peran yang dikontribusikan perempuan tidak lepas dari sejumlah fakta sosial yang benang merahnya adalah masih minimnya partisipasi keterlibatan perempuan di wilayah aktivitas sosial. Padahal secara populasi, di mana pun kuantitas perempuan selalu akan lebih banyak.

Pada wisuda ke-114 ini misalnya, jumlah wisudawati mencapai 687 orang, sedang jumlah wisudawannya hanya 298 orang. Bahkan jika ditelusur ke belakang, jumlah wisudawati lebih banyak dibanding jumlah wisudawan dalam wisuda sepanjang satu tahun terakhir.

Sejak wisuda sarjana UIN Jakarta ke-111 hingga ke-114 ini, total wisudawati-wisudawan mencapai 4.285 orang dimana komposisi terbesarnya adalah wisudawati sebanyak 2.612 orang atau 60.96 persen, lebih tinggi dibanding jumlah wisudawan 1.673 orang atau 39.04 persen terhadap total jumlah peserta wisuda.

Di lingkungan sosial yang lebih luas, ketertinggalan perempuan dalam mengakses pendidikan hingga masih adanya angka kematian ibu saat melahirkan menjadi cerita lain yang melatari pentingnya pengarusutamaan gender secara massif. Bahkan di kawasan perdesaan, ketertinggalan perempuan masih sangat terbuka lebar.

Alih-alih terlibat berkontribusi di wilayah publik, perempuan masih berjibaku dengan tekanan kultural yang menempatkannya sebagai kelompok sosial nomor dua.

“Ini artinya, perempuan perlu didorong untuk terus meningkatkan partisipasi sosial kemasyarakatannya secara lebih proporsional sesuai jumlah kuantitatifnya,” ujar Rektor.

Berangkat dari fakta-fakta ini, kata Rektor, UIN Jakarta berkomitmen mendorong pengarusutamaan gender dengan mendorong perempuan yang lebih berdaya, terlibat aktif dalam kehidupan sosial. Sebab bagaimana pun, perempuan memikul tanggungjawab penting dalam menyiapkan generasi bangsa.

Mengingat pentingnya peran perempuan –kita yang terlahir dalam tradisi Islam meyakini bahwa al-Umm Madrasat al-Ula, perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anak, generasi umat-bangsa. Ini menandakan pentingnya peran perempuan secara optimal.

Terlebih Islam sendiri tidak memberikan keistimewaan pada kelompok tertentu berdasarkan kekuatan fisik dan sebagainya. Dalam Islam, perbedaan justru diletakkan dalam kadar ketakwaannya seperti disebutkan dalam  al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13.

Wisuda Sarjana ke-114 dengan tema “Pengarustamaan Gender dan Moderasi Beragama untuk Keadilan dan Kebahagiaan” ini digelar selama dua hari pada 30 November- 1 Desember. Wisuda diikuti oleh 985 peserta, terdiri atas Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebanyak 187 orang, Fakultas Adab dan Humaniora (75 orang), Fakultas Ushuluddin (40 orang), Fakultas Syariah dan Hukum (131 orang), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (119 orang),  Fakultas Dirasat Islamiyah (23 orang), dan Fakultas Psikologi (59 orang).

Kemudian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (80 orang), Fakultas Sains dan Teknologi (97 orang), Fakultas Ilmu Kesehatan (83 orang), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (50 orang). Sedangkan Sekolah Pascasarjana meluluskan sebanyak 41 orang, terdiri atas program magister 26 orang dan program doktor 15 orang.

Selain Rektor, acara wisuda sarjana dihadiri para wakil rektor, para guru besar, dan para orang tua wali peserta. Pada wisuda hari pertama, Sabtu (30/11/2019), acara dibuka Ketua Senat Universitas Abuddin Nata. Sedangkan pada hari kedua, Ahad (1/12/2019), wisuda dibuka Sekretaris Senat Universitas Armai Arief. (ns)

Share This