Meski eksistensinya tidak hilang, tetapi pembahasan mengenai modal sosial saat ini tidak sesemarak satu decade sebelumnya. Modal sosial, menurut salah satu teorisinya adalah “norma dan jaringan kerja masyarakat sipil yang melicinkan tindakan kerja sama di antara warga Negara dan institusi mereka (Putnam, 1998). Lebih jauh, Putnam menunjukkan wujud dari modal sosial dalam berbagai organisasi sosial, ikatan atau hubungan sosial, norma dan kepercayaan yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama untuk keuntungan bersama.

Masyarakat kota kadang dianggap sebagai entitas yang kepemilikan atas modal sosialnya rendah. Model-model relasional pragmatis dalam perihidup orang kota, dianggap sebagai bukan dari perwujudan modal sosial. Sebab modal sosial tumbuh karena di dalamnya ada kepercayaan. Kepercayaan itu hadir karena aspek-aspek pragamatis-ekonomis sudah diminimalisir. Sehingga bangunan sosial kemasyarakatannya bisa berubah menjadi berbasis nilai dan kesadaran.

Bisa jadi hipotesis bahwa di modal sosial di kota lemah, harus ditinjau ulang. Sebab, warga kota saat ini, sudah berbeda jauh dengan anggapan itu. Warga kota saat ini bukan generasi yang hadir ketika kota di awal-awal kota dibangun. Mereka adalah generasi ketiga bahkan keempat, yang berinteraksi dengan warga lain dalam suatu bingkai sosial budaya yang heterogen. Mereka juga membaca bagaimana warga jaman dulu membangun masyarakat, yang kemudian sedaya upaya, dihadirkan kembali pada saat ini, meski sebagian masih artifisial.

Contoh sederhana: lembaga-lembaga sosial-kemanusiaan di kota lebih semarak. Bahkan gerakan mereka yang massif, sistematis, terukur, dan manageable. Sehingga berbeda dengan gerakan masa lalu, apa yang dilakukan jauh lebih tepat sasaran, terarah, dan tentu saja terukur dampak dan manfaatnya.

Modal sosial kota terkumpul dalam beragam wujud dan bentuk, menyesuaikan kebutuhan dan aspek strategisnya. Modal sosial ini bisa tumbuh di café, taman kota, trotoar yang nyaman, lingkungan kampus dan sekolahan, bahkan masjid dan ruang kelas.

Kota-kota saat ini terhubung tidak hanya dalam ruang nyata. Tetapi juga dalam ruang maya. Ikatan dan jaringan terbangun tidak hanya karena ada silaturahmi fisik, tetapi juga interaksi di ruang diskusi yang jarak fisiknya berjauhan. Di forum-forum tersebut, sebagai hal didiskusikan. Beragam aksi direncakan. Kopi darat atau temu fisik, kadang dilakukan hanya pas aksi saja. Sisanya diselesaikan di ruang maya.

Modal sosial kota saat ini telah diperkaya oleh infrastruktur lain, yakni internet. IOT (Internet Of Think) yang baru-baru ini digencarkan pemerintah, sesungguhnya secara praktis sudah lama dipakai sebagai tools untuk membangun berbagai gerakan sosial.

Optimalisasi modal sosial kota sejatinya bisa dilakukan dengan beberapa peta jalan berikut: Pertama, partisipasi seluruh kalangan dalam memperkuat isu-isu pembangunan dan kesejahteraan dalam beragam platform. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, harus diajak duduk bersama untuk memperkuat atau memperkaya kesempatan ini untuk meningkatkan modal sosial kota;

Kedua, secara khusus, kalangan perguruan tinggi diberikan peran lebih besar untuk mengisi substansi modal sosial ini, sebelum akhirnya dipergunakan sebagai peta jalan pembangunan; Ketiga, ruang publik yang ada harus dievaluasi aspek fungsionalitasnya. Sebab kontribusi dari ruang publik untuk menghasilkan modal sosial sudah terbukti cukup efektif.

Kota yang berkeadaban, di manapun, eksistensinya akan terasa dan berkelanjutan ketika upaya-upaya meningkatkan modal sosial terus dipelihara, dirawat, dan didifusikan ke seluruh anggota masyarakat. Sehingga, dengan cara pandang seperti ini, modal sosial kota bukan hanya akan memiliki stok yang banyak dan cukup, tetapi juga kuat dan pantas.

Dr Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Sosiologi Perkotaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Rakyat Merdeka, Senin, 9 September 2019. (lrf/mf)

Share This