Ciputat, BERITA UIN Online— Kemajuan teknologi komunikasi di era digital membuat arus informasi makin mudah didapat, termasuk informasi peluang beasiswa kuliah. Tidak hanya di universitas dalam negeri, kemajuan teknologi memungkinkan informasi kuliah di luat negeri juga makin berlimpah. Artinya, peluang juga makin luas.

Tak hanya itu, era digital juga makin mematangkan generasi milenial untuk berpikir lebih kritis dan eksploratif, terbuka untuk mempelajari hal baru, dan berpartisipasi aktif dalam perkembangan zaman. Perbedaan gender tak lagi harus jadi kendala untuk berfikir kritis dan eksploratif, mempelajari hal baru, dan aktif dalam perubahan.

Risa Dwi Ratnasari, salah satunya. Lulusan Fakultas Psikologi UIN Jakarta tahun 2017 ini adalah sarjana perempuan lulusan UIN Jakarta yang mau berfikir kritis, eksploratif, mempelajari hal baru, dan terlibat aktif dalam perkembangan zaman. Beberapa waktu selepas lulus sarjana, ia  lebih tertarik mencari informasi beasiswa kuliah. Bidang Neurosains jadi incarannya.

“Sejak masih duduk di bangku kuliah, saya memang sudah tertarik mempelajari bidang faal atau biopsikologi. Saya betul-betul tertarik mendalami bidang ini,” katanya.

Untuk meluluskan minatnya, Risa menuturkan, ia harus berjuang keras. Beberapa saat setelah diwisuda, Risa langsung mengambil kursus Bahasa Inggris . Selain harus berjuang keras dengan peningkatan skill bahasa, Risa mau tak mau harus bekerja keras membagi waktunya sebagai staf di divisi sumber daya sebuah perusahaan e-commerce di bilangan Jakarta.

Di sela-sela kursus bahasa Inggris, sesekali ia bekerja paruh waktu dan jadi relawan bencana sebagai tim Psychological First Aid di daerah-daerah bencana. Lombok, Palu, dan pesisir barat Banten yang terdampak musibah gempa dan tsunami adalah beberapa daerah Risa bekerja sebagai relawan. “Saya jalani semuanya dengan niat belajar dan lillahi ta’ala,” tambahnya.

Namun di sela kesibukannya meningkatkan kemampuan bahasa, bekerja, dan menjadi relawan, Risa juga berusaha mencari informasi penerimaan mahasiswa di universitas yang menyediakan beasiswa. Akhir pekan biasanya ia isi dengan datang ke pameran-pameran pendidikan.

Selain Amerika, Eropa, dan Australia, Risa juga tidak mengharamkan diri untuk kuliah di universitas-universitas Asia. “Banyak juga yang masuk ranking dunia,” terangnya.

Setiap peluang betul-betul Risa manfaatkan. Puluhan aplikasi studi dan beasiswa kuliah ia ajukan. Akhirnya perjuangannya pun berbuah hasil. Dua universitas cukup bergengsi di Asia, Universitas Mahidol di Thailand dan Taipei Medical University di Taiwan menerima aplikasinya dalam waktu hampir bersamaan.

Akhir Maret 2019, Universitas Mahidol menginformasikan bahwa aplikasinya untuk melanjutkan studinya di program Neuroscience – Institute of Molecular Biosciences, Mahidol University diterima. Tak hanya lulus, Universitas Mahidol di negeri gajah putih ini menawarkan beasiswa penuh.

April berikutnya, jawaban serupa juga diberikan Taipei Medical University. Universitas yang masuk dalam ranking tinggi di Asia ini menyatakan status aplikasinya “addmitted”, diterima. Seperti halnya Mahidol, Taipei Medical University juga mengganjarnya dengan beasiswa studi sekaligus living cost senilai 10.000 NTD per bulan bulan.

Surprise banget pokoknya. Alhamdulillah. Usahaku tak sia-sia,” syukurnya.

Dari penerimaan kedua universitas ini, Risa berbagi cerita. Sepanjang seleksi yang dilakukannya, prosesnya sangat menguras waktu dan energinya. Ia harus meyakinkan betul pihak universitas tentang motivasinya melakukan studi tentang kesehatan mental dan neuroscience. Ia  juga menjelaskan topik bahasan yang bakal jadi fokus risetnya jika terpilih jadi mahasiswa program tersebut.

Diterima di dua universitas juga menjadi hal sulit bagi Risa. Ia harus memilih salahsatunya. Namun, setelah pada akhirnya ia berketetapan hati memilih kuliah ke Taipei Medical University pada program Graduate Institute Mind Brain and Consciouness atau GIMBC.

Universitas ini dipilihnya karena kurikulum yang ditawarkannya menyajikan proporsi psikologi yang lebih banyak pada fokus pembelajaran  pikiran, otak dan kesadaran. “Insya Allah saya memilih Taipei Medical University,” ujarnya mantap.

Dipilihnya Taipei Medical University juga tak lepas dari hasil diskusinya dengan Philip Tseng Ph.D, Direktur program GIMBC. Melalui surat elektroniknya, Philip menjelaskan jika GIMBC hanya menerima 20-40% dari total seluruh pendaftar untuk setiap tahunnya.

Tahun ini program menerima banyak aplikasi dengan  kualitas sangat baik. Setelah berusaha membuka kesempatan semaksimal mungkin bagi para pelamar akhirnya program hanya dapat menerima lima internasional mahasiswa internasional dan dua mahasiswa negara Taiwan untuk program Master dan dua mahasiswa program Ph.D. Salahsatu dari lima mahasiswa internasional adalah Risa sendiri.

Dalam penjelasannya, Philip menjelaskan kriteria pelamar dititikberatkan pada motivasi dan ketertarikan bidang penelitian. “Terdapat banyak pelamar yang tidak dapat kami terima karena kami menilai program ini tidak cukup pas bagi pelamar tersebut. Selain itu juga kami mempertimbangkan kecocokan dan ketertarikan dengan para ahli yang ada pada program kami,” sebut Philip dalam surat elektroniknya.

Risa merasa bersyukur dengan kesempatan yang didapat ini karena menjadi salah satu mimpinya mempelajari ilmu neuropsikologi secara komprehensif di program strata dua. Risa yang juga anggota Institute Neuroscience Indonesia ini berharap dengan program studi magister yang diambilnya dapat membantu perkembangan Neuroscience, khususnya pada bidang kelimuan kesehatan mental di Indonesia.

“Mohon doa dari semua agar Risa bisa menempuh studi dengan lancar,” pintanya. (zm)

Share This