Jamaliyah secara harfiah berarti keindahan dan jalaliyah berarti keagungan. Jamaliah dan  jalaliyah di ambil dari nama-nama indah Tuhan (al-Asma al-Husna). Dalam tulisan ini, yang dimaksud jamaliyah ialah sifat-sifat keindahan, kelembutan, kasih sayang, dan feminim Tuhan; sedangkan jalaliyah ialah sifat-sifat keagungan, ketegaran, dan maskulin Tuhan.

Kedua nama ini merupakan simbol dualitas sifat-sifat Tuhan. Dualitas ini merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain. Keduanya ibarat dua sisi dari satu mata uang. Kedua sifat ini juga berubungan dengan relasi antara Khaliq dan Makhluq. Sifat-sifat jamaliyah lebih berhubungan dengan sifat-sifat keserupaan (similarity),  sedangkan jalaliyah lebih berhubungan dengan sifat-sifat ketakterbandingan (incomparability) antara keduanya.

Kelompok nama-nama yang termasuk nama-nama keserupaan (simmilarity name) antara lain: al-Jamal (Maha Indah), al-Lathif (Maha Lembut), al-Rahman (Maha pengasih), al-Rahim (mana penyayang), al-‘Afuw (Maha Pemaaf), al-Gafur (Maha Penganpun), al-Halim (Maha penyantun), dan al-Shabur (Maha Sabar). Sedangkan, golongan ketakterbandingan (incomparability name) antara lain: al-Jalal (Maha Agung), al-Qahhar (Maha Keras), al-Muntaqim (Maha Pendendam), al-Jabar(Maha Pemaksa), al-Quddus (Maha Suci), dan Al-Izzah (Maha Takterjangkau).

Yang lebih dominan pada diri Tuhan ialah sifat-sifat jamaliyah, sebagaimana dapat di lihat di dalam kitab-kitab suci-Nya. Sebagai contoh di dalam kitab suci Alquran, nama al-Rahim (Maha Penyayang) terulang sebanyak 114 kali; bandingkan dengan al-Muntaqim (Maha Pendendam) hanya terulang sekali. Nama al-Rahman (Maha Pengasih) terulang sebanyak 57 kali; bandingkan dengan nama al-Mutakabbir (Maha Angkuh) hanya terulang sekali di dalam Alquran.

Halaman demi halaman kitab suci Tuhan bertaburan nama-nama jamaliyah, bukan nama-nama jalaliyah-Nya. Itulah sebabnya, Tuhan lebih menonjol sebagai Tuhan Maha lembut, Maha Penyayang,  dan Maha Pencinta ketimbang sebagai Tuhan Mahakeras, Mahaangkuh, dan Maha Pembenci. Dengan demikian, Tuhan bukan sosok yang Maha Mengerikan untuk ditakuti, melainkan Sosok Mahalembut yang lebih tepat untuk dicintai.

Pencerminan sifat-sifat Tuhan yang di perkenalkan di dalam kitab suci Alquran diimplementasikan oleh Rasul-Nya, Muhammad SWT. Aisyah RA pernah melukiskan, akhlaknya Rasulullah Saw ialah Alquran (kana khuluquhu Alquran).

Nabi Muhammad SAW adalah teladan kita, maka sejatinya umat Islam juga meniru sifat-sifat utama ini, lebih mengedepankan kelembutan (jamaliyah) ketimbang sifat-sifat kejantanan (jalaliyah). Inilah makna sabda Rasulullah, “Berakhlaklah seperti akhlak Allah” (takhallaqu bi akhlaqillah). Jika Allah SWT Maha Kreatif (al-Khaliq), Maha Pemaaf (al-Afuw), Maha Sabar (al-Shabur), dan Maha Penyayang (al-Rahim), maka kita sebagai hamba sejati juga seharusnya menjadi hamba yang kreatif, pemaaf, penyabar, dan penyayang.

Agak aneh memang, mengapa Allah SWT Sang Maha Pencinta dan begitu lembut dan santun, serta para Nabi-Nya pun mencontohkan sifat-sifat terpuji itu, tetapi umat kita menampilkan kebalikannya. Umat kita didominasi oleh emosi, sehingga kekerasan terjadi dimana-mana. Mengapa umat kita mendemonstrasikan prilaku kasar dan keras di depan kitab sucinya yang lembut?

Mengapa di antara umat kita begitu tega membangun istana di atas puing-puing kehancuran orang lain? Mengapa di antara umat kita begitu tega mendemonstrasikan kemewahannya di depan saudaranya yang serba kesulitan? Mengapa jiwa kita tidak lagi tergetar menyaksikan tayangan penderitaan umat di depan pelupuk mata kita? Mengapa kita masih diam?

Prof Dr Nasaruddin Umar, MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Republika, 14 Juni 2019. (lrf/mf)

Share This