Menyelesaikan VUCA Negatif dengan VUCA Positif di Era Disrupsi

Menyelesaikan VUCA Negatif dengan VUCA Positif di Era Disrupsi

Dr. Abdul Rozak M.Si

Setiap manusia adalah penumpang perahu besar kehidupan yang mengantarkan dirinya menjelajahi lautan lepas nan penuh ombak dan terpaan angin di lautan lepas dari hulu masa lalu ke samudera masa depan melalui aliran sungai masa kini yang dilaluinya.  Maka, ingatlah selalu bahwa mitra eksistensial manusia bukan hanya sesama penumpang perahu saat ini yang sedang menjalani kehidupan di tengah lautan, tetapi juga leluhur di masa lalu yang telah menorehkan peta jalan dan keturunan di masa dating yang memerlukan Kompas kehidupan yang cerah, penuh kebahagian dan keharmonisan dalam menjalani gerak perahu berlayar ke lautan lepas (adaptasi dari tulisan Yudi Latif, Jauh Pandang, 14-06-2023).

Salah satu kelebihan manusia dari hewan adalah kemampuannya melakukan penjelajahan waktu (time-travel): mengenang jauh ke masa lalu dan membayangkan jauh ke masa depan. Dengan kemampuan itu, gerak tumbuh pohon kehidupan harus senantiasa mengingat dari mana kita bermula, di mana kita berjejak, karunia potensi apa yang kita miliki, dari akar tradisi-kesejarahan seperti apa kita tumbuh. Gerak kehidupan juga harus bisa membayangkan kemungkinan mendatang dengan mengantisipasi perubahan, menyesuaikan diri dengan perkembangan, berwawasan kosmopolitan dengan kesiapan belajar pada praktik terbaik dari sumber mana pun, menyiapkan perencanaan dan haluan ke masa depan. Tren perkembangan global menuju otomatisasi, ekonomi pengetahuan, perampingan  pemerintahan, perubahan iklim, penggunaan energi hijau, penyebaran pandemi, dan perluasan kesenjangan sosial, memerlukan perencanaan jangka panjang berkesinambungan untuk meresponnya (Yudi Latif, Jauh Pandang, 14-06-2023).

Saat ini di tengah era digital sebagai produk dari kemajuan teknologi 4.0, gelombang kehidupan manusia dalam kondisi dan situasi perubahan disruptif, dahsyat dan fenomenal yang melahirkan VUCA. VUCA merupakan akronim dari empat kata dalam bahasa Inggris, yaitu Volatility (V)  yang artinya perubahan yang tidak menentu, fenomenal dan disruptif; Uncertainty (U) yang artinya ketidakpastian, ketidakajegan dan ketidakstabilan; Complexity (C) yang berarti rumit, kompleksitas dan bertalian dengan berbagai aspek dan Ambiguity (A) yang artinya ambigu, samar, mendua, problematic. Selain adanya VUCA, ancaman besar yang dihadapi manusia saat ini dalam wajah kecenderungan pragmatisme, jebakan pandangan waktu jangka pendek (short-termism), menguatnya primordialisme  yang mengabaikan profesionalitas menjadi hal yang menguji kesejatian dan keberlangsungan cara pandang dan pikir manusia dalam menjalani roda kehidupannya.

Memahami Disrupsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disrupsi adalah suatu hal yang tercabut dari akarnya. Dari pengertian tersebut, disrupsi dapat diartikan sebagai suatu fenomena ketika terjadi perubahan atau lompatan besar yang menyebabkan seluruh tatanannya berubah. Dalam dunia bisnis, disrupsi bisa disebabkan oleh adanya perubahan zaman. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan yang cukup berat bagi perusahaan agar terus melakukan inovasi yang relevan dengan perubahan zaman.

Secara garis besar, disrupsi disebabkan oleh adanya perubahan secara masif yang dapat mengubah seluruh tatanan. Dalam hal ini, ada dua penyebab utama terjadinya disrupsi. Pertama, hadirnya inovasi yang dibawa oleh perusahaan-perusahaan baru. Dalam hal ini, mereka menawarkan model bisnis baru yang belum pernah ditawarkan sebelumnya. Sementara perusahaan-perusahaan lama lebih fokus pada model bisnis yang sedang dijalani untuk mempertahankan pasarnya. Celah inilah yang kemudian menjadi pangsa pasar bagi perusahaan baru untuk masuk dan menawarkan inovasi yang belum ada sebelumnya. Kedua, munculnya keinginan untuk saling mempertahankan target pasar. Perusahaan-perusahaan baru cenderung memiliki pondasi dan pengetahuan bisnis yang cukup kuat. Hal inilah yang kemudian menjadi celah yang berbahaya bagi perusahaan-perusahaan lama. Pasalnya, mereka tidak akan mengira bahwa pasar mereka akan diubah oleh para pendatang baru yang memiliki inovasi dan sumber daya yang baru.

Disrupsi tentu memiliki dampak yang cukup signifikan dalam berbagai sektor kehidupan manusia seperti dalam dunia bisnis. Banyak perusahaan yang meskipun sudah mapan, tetap harus beradaptasi terhadap perkembangan zaman dengan melakukan inovasi dalam hal teknologi. Ketika mereka tidak mampu melakukan hal itu, maka akan berdampak buruk bagi kelangsungan bisnisnya. Beberapa contoh bisnis yang paling berdampak dalam hal ini adalah bisnis retail, media cetak, taksi konvensional, dan lain masih banyak lagi.

Problem pandangan dan pola pikir manusia karena rabun dan remang-remang membuat manusia cenderung mengabaikan pelajaran dan pengalaman sejarah sebagai sesuatu yang telah dilalui tetapi juga melemahkan untuk membangun daya antisipatif-responsif dalam menghadapi masa depan. Tidaknya adanya cara kerja future practice dengan pola kerja berdasarkan visi masa depan yang rasional dan antisipatif melalui pemahaman masa lalu dengan menjadikannya sebagai pijakan masa depan, Menyusun agenda dan program dengan penuh kejelasan.

Mengatasi VUCA Negatif dengan VUCA Positif

Dalam bukunya mengenai kepemimpinan yang berjudul Leaders Make the Future : Ten New Leardership Skills for Uncertain World, Robert Johansen mengusulkan bahwa dalam situasi seperti ini seorang pemimpin baik sebagai pemimpin bagi diri sendiri maupun dan utamanya pemimpin publik harus bisa dan mampu menangkal kondisi VUCA negatif (VolatilityUncertainty, Complexity dan Ambiguity)  dengan VUCA positif yang merupakn akronim dari Vision (V), Understanding (U), Clarity (C), dan Agility (A). Berikut VUCA positif sebagai langkah dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan akibat dari perubahan disrupsi dan dampak negative kemajuan teknologi era teknologi 4.0 yang disebut dengan era digital.

  1. Vision

Visi merupakan ide, gagasan, semangat dan cita-cita masa depan yang rasional, terukur dapat dijalankan untuk mencapainya. Untuk itu dalam menghadapi situasi yang tidak menentu, setiap manusia terutama bagi seorang pemimpin perlu memiliki vision atau visi. Dengan memiliki visi, setiap individu dan seorang pemimpin akan dapat memproyeksikan diri dalam melangkah ke masa depan dalam membawa organisasi mencapai capaian unggul dan berdaya saing sehingga tidak terperangkap dalam kekhawatiran yang dihadapi saat ini.

Cara yang tepat untuk beradaptasi dengan perubahan yang disruptif ini adalah dengan dengan membangun pola pikir dan sikap yang menggambarkan adanya fleksibilitas sebagai bagian dari penterjemahan visi yang dirumuskannya. Setiap individu dan seorang pemimpin harus memiliki dan mengasah kemampuan menjadi seorang yang fleksibel dan mudah beradaptasi dengan situasi yang berbeda. Ketika Setiap individu dan seorang pemimpin menjadi seorang yang fleksibel, tidak kaku, mengikuti perubahan drastis dan dramatis yang terjadi saat ini bukanlah hal sulit. Untuk itu jangan lagi mempertahankan pendirian dan menerapkan konsep lama yang sudah tidak lagi relevan.

  1. Understanding

Understanding yaitu pengertian dan pemahaman terhadap sesuatu yang dapat mengatasi sebuah ketidakpastian. Reaksi umum terhadap ketidakpastian adalah ketakutan, yang biasanya mengarah pada perlawanan. Di era digital saat ini, teknologi menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran. Ini dapat dilakukan secara tepat dan baik dalam banyak cara sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan dapat membantu mengurangi rasa takut dan bahkan stres.

Setiap manusuia terutama seorang pemimpin perlu mengerti masalah dan problematika sederhana maupun komplek yang dihadapinya untuk kemudian mengambil langkah secara tepat dalam mencari dan menemukan solusi terhadap masalah tersebut. Selain itu, setiap manusia atau seorang pemimpin juga perlu mengerti kemampuan dirinya dan potensi anggota yang dipimpinnya untuk mengetahui cara yang sesuai dan terukur dalam menyelesaikan masalah.

  1. Clarity

Clarity adalah kejelasan dan keterukuran langkah dan strategi yang dirumuskan dan ditetapkan sebagai pendekatan menemukan solusi. Dalam menghadapi kerumitan, seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan clarity atau kejelasan terhadap kondisi tersebut. Setiap individu dan utamanya seorang pemimpin hapus dapat mengatasi hambatan dengan membuat koneksi dan jaringan kerja yang dapat membangun kohesi sosial. Dengan cara ini, setiap kita menjadi lebih mudah untuk berbagi informasi berharga, menemukan jawaban, dan mendapatkan bantuan dan saran dari orang-orang yang mampu memberikan jawaban. Ketika cara kerja ini diterapkan dalam sebuah organisasi, secara tidak langsung seorang pemimpin sedang membangun kompetensi organisasi yang dibutuhkan dalam mengatasi masalah yang kompleks. Dalam hal ini, setiap individu dan setiap pemimpin perlu mencari langkah yang jelas untuk mencapai visi sehingga tidak kewalahan saat mulai berjalan dan menghadapi problematika yang terjadi.

  1. Agility

Agility merupakan langkah cepat, tangkas dan efektif yang didasarkan atas dasar rasionalitas, data dan informasi yang valid dan terukur. Ketika terjadi sebuah keraguan, setiap individu dan seorang pemimpin perlu membangun langkah agility atau ketangkasan. Setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda tentang suatu hal. Perbedaan penafsiran ini sering kali menimbulkan kekacauan. Bagaimana kekacauan ini dapat diatasi? Jika Anda merupakan seorang pemimpin, tetaplah fokus dan menjadi teladan bagi pengikutnya dalam memimpin dan menavigasi.

Dalam situasi disruptif dan perubahan fenomenal akibat kemajuan teknologi 4.0 banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Kondisi tersebut bukan dihindari dan dijauhkan akan tetapi perlu dijawab dengan langkah tangkas (agility) dan mampu membangkitkan semangat, spirit, kemampuan diri bertahan, dan optimistik dengan penuh keyakinan untuk tetap dapat membuat kemajuan dan capaian sebagaimana yang menjadi tujuan dan targetnya. Seorang pemimpin harus membangun perubahan dengan menyadari kondisi kesiapan organisasi setiap saat. Gunakan survei untuk menilai kesiapan perubahan dan belajar bagaimana itu akan berdampak pada anggota organisasi Letakkan sasaran yang melebar, buat iklim dan kultur organisasi itu dengan menyenangkan, dan berikan penghargaan kepada anggota organisasi yang telah mengerjakannya.

Penutup

Itulah pengertian VUCA yang bermuatan kondisi negatif yang harus dihadapi dan diatasi dengan VUCA yang bermuatan positif dalam memasuki kehidupan di era disrupsi dan digital ini. Kehidupan manusia memang nampak terlihat seperti roller coaster yang dapat membawa nya berputar di atas dan di bawah. Dengan terus mengembangkan VUCA positif dalam berbagai sektor kehidupan setiap individu dan seorang pemimpin diperkirakan dapat mengatasi berbagai fenomena dan perubahan disruptif secara tepat, terukur dan produktif serta bermakna bagi kehidupan manusia. Salah satu unsur dari VUCA positif yang dapat menavigasi dalam langkah selanjutnya adalah visi. Sebagai suatu hal yang sangat penting, Yudi Latif menegaskan bahwa tanpa visi jangka panjang tak akan pernah kita warisi Borobudur, yg pembangunannya memakan waktu nyaris satu abad. Ingatlah, negeri yang kita huni ini bukan hanya warisan dari leluhur kita, melainkan juga titipan dari generasi mendatang (Yudi Latif, Jauh Pandang, 14-06-2023).

Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta