Mengapa orang tetap “mengantri” untuk menjadi popular. Salah satunya karena pilihan ini sangat dan patut dikejar. Bayangkan, melalui media ini, jika kebetulan, seseorang yang hidup biasa saja, ditempat yang juga jauh dari pusat kota misalnya, bisa “mendadak seleb” karena sesuatu yang ditulis atau diunggah pada media sosialnya.

Bagi sebagian orang, popularitas adalah obat mujur eksistensi. Karena hal ini, ia bisa mendapatkan pengormatan, dimuliakan, dan kekaguman orang-orang yang kemudian bisa dikonversi menjadi kapital ekonomi. Maka menjadi wajar jika kemudian sebagian orang siap “bekerja” dan “berinvestasi” dalam ranah ini.

Bagaimana dengan yang tidak memiliki modal cukup? Akhirnya mereka inilah yang kemudian hidup di bawah bayang-bayang. Mereka larut dalam pembicaraan dan (kadang) diskusi tidak produktif pada grup-grup kecil yang bertebaran pada gawai yang mereka genggam.

Inilah kecerdasan adaptatif dari masyarakat kota. Ketika daya jangkau cita-cita dan harapan yang tidak bersambungan dengan kenyataan, mereka dengan kreatif membangun ruang lebih kecil agar tetap bisa menikmati aktualisasi harapan yang bagus mengenai fenomena seperti ini. Katanya ada sekelompok tawanan yang hidup dalam sebuah gua yang mendapatkan penerangan dari api yang menyala di depan gua tersebut. Cahaya api itu menghasilkan bayangan bayangan dari mereka yang lalu lalang didepannya. Bayangan tersebut adalah kebenaran, sehingga tatkala ada yang mengetahui bahwa kebenaran itu ada di luar gua dengan cahaya yang sejati, mereka marah karena menganggu pandangan ilusifnya.

Lalu apakah “biar tekor asal kesohor” itu mengancam fondasi-fondasi kehidupan sosial budaya kita? Tentu saja bisa panjang diskusinya. Tapi secara sederhana, frasa tersebut bisa menggangu kehidupan seseorang karena sifat residu yang melekatinya.

Contoh, seseorang yang karena ingin tetap menjaga popularitasnya sebagai “sesuatu”, padahal kehidupan riilnya sedang mengalami goncangan, akan menutupinya dengan kebohongan. Jika ini terus berulang, maka orang tersebut akirnya akan hidup dengan penuh kebohongan dan kepalsuan.

Reproduksi kebohongan inilah yang kemudian dinikmati oleh sebagian orang sebagai kebenaran. Ini juga yang kemudian berkontribusi kepada suburnya hoaxs di sekitar kita, sehingga pada level ini, kebohongan yang dianggap sebagai kebenaran, tentu merupakan ancaman besar bagi sistem kehidupan kita sehari-hari, juga masa depan.

Disinilah kita butuh pedang kejujuran yang ditebaskan oleh seseorang yang kuat untuk mengupas kembali kehidupan agar kembali ke jalurnya. Kulit-kulit kepalsuan ini harus diluruskan. Agar kita kembali bisa mendapatkan cahaya kebenaran. Tentu harapan ini tidak bisa dibebankan secara tunggal kepada institusi pendidikan, institusi keagamaan, maupun secara seorang. (mf)

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam Bidang Ilmu Sosiologi Pedesaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Sumber: Koran Rakyat Merdeka, Edisi Jumat, 19 Oktober 2018.

Share This