KEJATUHAN Adam dan Hawa dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan sesungguhnya bagian dari drama kosmos. Drama ini terungkap di dalam kitab suci Abrahamic Religion. Di dalam Alquran pun dikisahkan di dalam empat surah yang berbeda. Di antaranya ialah selama berada surga Adam dan Hawa hidup dalam kemewahan. Semua bisa dinikmati kecuali satu, yaitu mendekati pohon keabadian (khuldi).

“Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim.” (QS al-A’raf/7:19).

Ketenangan Adam dan Hawa terus-menerus mendapatkan godaan dari iblis dengan berbagai dalih, antara lain, Adam dan Hawa dilarang memakan buah pohon keabadian itu karena jika engkau memakannya, engkau akan hidup abadi di surga. Padahal, Allah SWT bermaksud memindahkanmu ke bumi penderitaan.

Disebut pohon keabadian (khuldi) karena jika dimakan buahnya, akan abadi di dalam surga. Adam dan Hawa dilarang Tuhan memakannya karena Tuhan punya program untuk mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga ke sebuah tempat yang menyengsarakan dan penuh tantangan.

Sebagian ulama tafsir mengatakan ayat di atas sebagai ayat metaforis. Yang sesungguhnya dilarang itu ialah berhubungan sebagaimana layaknya suami-istri yang kemudian melahirkan keturunan. Ini bisa dipahami dari ayat berikutnya; “Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (QS al-A’raf/7:20). Setelah keduanya melakukan pelanggaran, reaksi pertama yang mereka sadari ialah, “Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (QS al-A’raf/7:22).

Setelah itu, keduanya baru sadar bahwa mereka sudah tertipu oleh iblis. Keduanya sadar dan terus memohon maaf kepada Allah SWT dengan doa yang diabadikan di dalam Alquran, “Ya, Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf/7:23).

Akibat lanjutan dari pelanggaran itu, keduanya jatuh ke bumi penderitaan meninggalkan surga kenikmatan. Allah berfirman, “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS al-A’raf/7:24). Dalam kegalauan dan penyesalannya, anak manusia ini terus memohon ampun kepada Allah SWT agar dinaikkan kembali ke kampung halamannya di surga.

Keduanya juga memohon rumah pertobatan sekaligus rumah ibadah kepada Allah SWT seperti Baitul Ma’mur yang pernah diberikan kepada malaikat. Akhirnya Allah SWT mengabulkan doanya dan malaikat diperintahkan untuk membangunkan rumah pertobatan di bumi bernama Kabah di Mekah, sebagaimana dijelaskan di dalam QS Ali ‘Imran/3:96, ”Sesungguhnya rumah mula-mula dibangun untuk (untuk tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah)yang diberkahi dan menjadi penunjuk bagi semua manusia).” Bangunan suci ini merupakan ‘surat undangan’ Tuhan untuk kembali ke surga. Wajar jika orang yang mendapatkan hidayah khusus selalu menikmati ibadah haji meskipun penuh dengan tantangan.

Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini, harian Media Indonesia edisi , Kamis 02 Agustus 2018 (lrf)

Share This