Musuh pertama ilmu pengetahuan adalah fanatisme, termasuk fanatisme agama yang konyol, yang hari-hari ini sering kita lihat secara vulgar. Tetapi, ilmu pengetahuan juga punya banyak anak kandung yang fanatik, termasuk fanatik menolak agama.

Saintis, jika sains kita masukkan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, bukan hanya memandang agama sebgai irasional, penuh dongeng dan takhayul, tetapi juga menolak keras jika agama bicara ilmu pengetahuan. “Sudahlah” kata Richard Dawkins, agama jangan berbicara biologi, fisika, dan astronomi. Sama sekali salah! Itu bukan sains! Kalaupun disebut sains, itu hanya sekedar bad science atau false science” kata Dawkins dalam buku terbarunya, Science in the Soul.

Semua di alam ini sudah bisa dijelaskan secara saintifik menggunakan sains. Hukum Termodinamik Kedua sudah menjelaskan bahwa seluruh kompleksitas alam, seluruh hidup yang penuh sedih dan gembira, akhirnya akan berujung pada “kehampaan yang dingin” (cold nothingness).

Kita semua yang hidup di planet bumi yang sangat kecil ini dari struktur semesta yang sangat agung, sedang meluncur menuju abyss of uniformity (semacam lubang atau neraka yang seragam/satu). Sains sudah menjelaskan kata Dawkins, apa pun yang terjadi dengan semesta ini, matahari baru akan redup sinarnya 60 juta tahun lagi dari sekarang. Sains pasti! Agama tidak mungkin bisa menjelaskan fenomena ini. Dengan kata lain, sudahlah agama tidak mungkin bertemu dengan sains. Kalau sains berarti modern, agama tidak bisa jadi modern!

Almarhum Nurcholish Madjid, yang 29 Agustus 2018 besok kita haul-kan wafatnya, sebagian besar dalam hidupnya mendialogkan agama, nalar, filsafat, kemodernan, dan ilmu pengetahuan. Mereka tidak perlu dipertentangkan, kata Cak Nur. Mereka semua bersahabat. Yang irasional, yang rasional, yang logis, dan empiris menyatu dalam agama dan nalar.

Yang jelas, kata Cak Nur, maqam tertinggi beragama itu “kepasrahan total” (al-Islam). Agama yang benar di sisi Allah adalah “kepasrahan total” itu kepada Tuhan kata Cak Nur, terserah saja apakah agama itu mau dirasionalisasi atau tidak.

Kepasrahan total kepada Tuhan itu melahirkan kerendah-hatian. Orang-orang beragama dan saintis seringkali terjebak ke dalam “arogansi”. Kalau Tuhan saja Maha Kontradiksi: Maha Awal sekaligus Maha Akhir, Maha Terang sekaligus Maha Tersembunyi, maka menjadi muslim tradisionalis sekaligus modern, menjadi rasional sekaligus irasional, ya biasa saja. Bukan sesuatu yang aneh, kata Cak Nur.

Sekarang, di tengah fanatisme agama, politisasi agama, dan arogansi sains, kita terkenang Cak Nur yang lembut, santun, rendah hati, tapi memiliki pandangan-pandangan keagamaan yang cerdas dan relevan.

Alfatihah untuk Cak Nur, Allah yarham…

Dr Media Zainul Bahri MA, Dosen Studi Agama-agama Fakultas Ushuludin UIN Jakarta (mf)

Share This