Dikutip dari catatan perjalanan riset Dosen Perbandingan Fakultas Ushuludin UIN Jakarta Dr Media Zainul Bahri MA ke Jerman, yang dituangkan di dinding FB saat meluangkan waktu kali ketiganya berziarah ke makam Annemarie Schimmel, Sabtu, (18/8/2018), Bonn, Jerman. Berikut kutipannya:

“Ini yang ketiga saya ziarah ke sini. Dan selalu kangen. Letaknya di atas bukit kota Bonn, entah berapa hektar, dan di antara ratusan makam dengan Salib, hanya makam ini dihiasi tulisan Arab. Untuk mahasiswa milenial yang tidak mengenal Annemarie Schimmel, ia–semasa hidupnya– salah satu juru bicara Islam yang paling fasih di Eropa, dan mungkin satu-satunya di Jerman.

 

Dulu pada 1990-an ketika kuliah, pertama kali saya baca bukunya “Dan Muhammad Adalah Utusan Allah” (Mizan), rasanya mau mewek, edan! Keagungan nabi Muhammad SAW bisa digambarkan secara hidup, bukan oleh penulis Muslim, tapi oleh sarjana Jerman yang jatuh cinta kepada Islam ini.

 

Pada masa itu pula, kenapa orang Jawa percaya primbon: ada hari baik dan hari kurang baik untuk suatu urusan, saya malah temukan penjelasannya dari buku Schimmel yang lain ketika ia menjelaskan ayat Quran bahwa “dalam pergantian siang dan malam, bulan dan matahari ada “tanda-tanda” bagi orang yang faham. Hanya yang punya ilmu yang paham tanda-tanda itu.

 

Dalam bukunya yang lain, “Jiwaku Adalah Wanita” (Mizan), Schimmel meyakini betul bahwa kekayaan sastra India, yang kemudian jadi industri Bollywood yang bikin termehek-mehek itu, mereka berhutang kepada sastra sufisme cinta Irak dan Persia. Tak diragukan lagi kata Schimmel. Coba Anda baca “Akulah Angin, Engkaulah Api”, Rumi digambarkan Schimmel sebagai manusia biasa yang indah, kreatif dan jenius.

 

Pada tahun 2001, Schimmel diundang Presiden Gus Dur ke istana. Gus Dur tentu tahu betul siapa wanita yg diundangnya ini. Besoknya, bersamaan dengan foto Headline Kompas Gus Dur dan Schimmel di depan istana negara, Budhy Munawar Rachman menulis satu artikel bagus tentang Sufisme Cinta Annemarie Schimmel.

 

Di Jumat sore, 18 Agustus yang sejuk dan sangat sepi, sambil mengenang jasa-jasa Schimmel untuk studi Islam dan dunia Muslim, saya baca Fatihah, Qulhu, Mu’awwidatain, ayat Kursi, dua ayat terakhir Al-Baqarah, shalawat dan berdoa. Cukuplah bagi Schimmel. Mungkin disana dia “selalu hidup” seperti ungkapan favoritnya dari Sayyidina Ali RA yang tertulis di nisannya “Manusia tidur. Ketika mati, barulah mereka bangun.” (mf)

Share This