Kota dengan para pengemis bisa dikatakan seperti dua sisi mata uang. Ada dan saling melengkapi. Meski pemerintah tidak pernah menganggap mereka sebagai citizen, tetapi dalam program-program kerja, mereka “diakui” eksistensinya. Istilah “gepeng” yang merupakan singkatan dari: Gelandangan dan Pengemis menunjukkan bagaimana pengakuan itu ada, meski pada tataran negatif.

Kehadiran pengemis pada suatu kawasan perkotaan cukup rumit untuk dijelaskan. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah korban dari “kegilaan” deru pembangunan dan modernitas. Mereka adalah kelompok yang “tidak sanggup” untuk tetap ada pada mesin yang tengah menderu tersebut. Akibatnya, mereka ini terpental secara eksistensial dalam berbagai ranah kehidupan.

Penjelasan lain adalah mengemis merupakan profesi yang tidak berbeda dengan yang lain, seperti kuli bangunan, tukang gali gorong-gorong, bahkan sales yang memasarkan produk tertentu. Penjelasan ini juga sama masuk akalnya dengan penjelasan pertama. Sebab hampir tidak ada beda signifikan antara bekerja sebagai pengemis atau profesi lain.

Jika ingin mendapatkan hasil yang bagus, mengemis memang memerlukan kecakapan dan skill tersendiri. Selain muka tembok dan eksplorasi mimic wajah agar mampu mengetuk hati para penyedekah, seorang pengemis juga harus punya modal untuk menunjang performance-nya ketika ada pada ‘panggung’ tempat ia mendulang pemberian. Maka tidak heran di antara mereka ada yang membawa anak bayi, penunjang kaki, dan sebagainya.

Pernah suatu ketika, saya melihat sendiri seorang pengemis yang (sebelumnya) berjalan dengan menggunakan tongkat, justru ia tengah berlari cukup kencang menuju ke titik lain di kawasan mall tersebut. Tentu saja ini tidak berarti bahwa pengemis itu semuanya seperti itu. Tetapi bahwa profesi ini membutuhkan skill dan ketangguhan tertentu sungguh nyata adanya.

Kehadiran pengemis di kota-kota besar tidak bisa dilepaskan dari beragam pemantiknya. Visualisasi kemakmuran ekonomi orang kota merupakan satu di antara magnetism bagi para pengemis mencoba peruntungannya; selain itu, sikap dermawan dari orang kota pada mereka yang membutuhkan menyebabkan profesi ini akan ada peminatnya selalu.

Apakah para pengemis ini bisa “dihilangkan”? Jelas tidak. Mereka seperti bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Yang bisa dilakukan oleh masyarakat itu adalah melakukan gerakan bersama untuk mengubah mereka mulai dari perspektifnya, cara hidup, dan visinya.

Gerakan seperti tidak memberikan apapun kepada mereka, bisa menjadi awalan yang baik. Sebab, selain tidak mengedukasi entitas ini untuk berubah, juga tindakan-tindakan dermawan yang kurang tepat ini hanya akan memicu yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Namun gerakan seperti itu harus diikuti proses rehabilitasi pikiran, sikap, dan tatacara hidup mereka. Tetapi di atas semua itu, hal besar yang bersangkutpaut dengan produksi kelompok pengemis juga harus secara gradual diselesaikan.

Contoh, jika ada pihak (bisa pemerintah, atau komunitas non-pemerintah) yang berkampanye melarang kita “bersedekah” kepada pengemis dan mengalihkannya ke masjid atau lembaga resmi, maka harus segera dipikirkan, mereka akan hidup dari apa dan di mana. Sebab tidak jarang, mereka kita eliminasi dari aktivitas berderma, tetapi solusi yang nyatanya tidak dihadirkan.

Ada pengalaman menarik di Bangladesh. Para pengemis diubah dengan cara mengunci perspektifnya dulu secara perlahan. Pelakunya seorang akademisi: Muhammad Yunus. Ia bertahun-tahun menjadi pemberdaya kaum gepeng ini dengan memulai mengajukan pernyataan yang bersifat pemikiran kepada mereka.

Dimulai dengan mengembalikan rasa percaya dirinya. Sampai-sampai Yunus mengatakan: “ Jika bosan menjadi pengemis, mulailah berjualan di tempat kalian mangkal. Jika kemudian bosan jualan, coba saja mengemis lagi ”.

Formula ini kemudian menjadikan ribuan pengemis menjadi wiraswasta. Sebab Yunus membimbing mereka dengan jalan hidup baru yang lebih nyata dan terasa. Yunus melakukan dua hal besar bagi gepeng itu: menjadikan para gepeng ini sebagai subyek manusia kembali, dan, membangunnya agar menjadi bagian utuh dari masyarakat.

Dr Tantan Hermansah SAg MSi, Pengampu Mata Kuliah Sosiologi Perkotaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: RMco.id, Jumat, 22 Maret 2019. (lrf/mf)

Share This