Dalam suatu riwayat, diceritakan ketika Nabi Musa di dalam mimpiya diminta Tuhan untuk mencari hamba kesayangannya yang meninggal dan mayatnya belum diurus.

la juga diperlihatkan gambaran alamat kekasih Tuhan itu di sebuah dusun yang agak jauh dari perkampungan. Keesokan harinya, Nabi Musa mendatangi tempat itu untuk mencari mayat kekasih Tuhan yang belum terurus itu.

Dari rumah ke rumah di dusun itu, ditanya perihal mayat kekasih Tuhan, tetapi tak seorang pun yang tahu. Dalam suasana putus asa, Nabi Musa kembali ke kotanya. Di tengah perjalanan, ia menjumpai seorang tetua di dusun itu.

Nabi Musa kembali menanyakan perihal mayat kekasih Tuhan yang meninggal dan belum dikebumikan. Pak Tua juga tidak tahu kalau ada orang saleh meninggal dan mengatakan dirinya adalah penduduk paling tua di dusun ini.

Pasti dirinya tahu kalau ada yang meninggal, apalagi orang baik seperti yang Nabi Musa ceritakan. Pak Tua menceritakan, memang kemarin ada orang yang meninggal, tetapi kebalikan sitat-sifat dengan yang Nabi Musa ceritakan.

Orang itu sumber keonaran dan suka mengambil barang-barang orang. Kini mayatnya masih terbaring di pinggir dusun sana. Tidak ada yang mengurusnya karena tercitrakan sebagai orang jahat. Nabi Musa bersama Pak Tua datang ke tempat mayat itu.

Ternyata mayat yang dianggap kekasih Tuhan itu si tukang onar, yang suka mengambil barang orang. Pak Tua dan Nabi Musa bingung, namun Nabi Musa memastikan wajah orang ini tidak salah. Persis yang diperlihatkan Tuhan di dalam mimpinya.

Nabi Musa penasaran, setelah mayat itu dimakamkan, ia berusaha mencari tahu siapa sesungguhnya orang yang dianggap sahabat Tuhan itu. Akhirnya ditemukan salah seorang yang mengenal dekat almarhum dan di situ ia membeberkan rahasia sahabatnya.

Sesungguhnya almarhum yang menjalankan misi rahasia itu adalah orang baik. Penguasa di dusun itu sangat zalim dan kejam. Masyarakat juga sangat egois, yang kaya makin kaya dan yang miskin dibiarkan makin miskin.

Banyak sekali warga yang hidupnya terancam karena kehabisan makanan, kedinginan karena tidak punya selimut, kehujanan karena tidak punya tempat berteduh, dan dibiarkan sakit tanpa ada usaha memberinya obat-obatan.

Almarhum selalu membantu untuk menyambung hidup mereka meskipun dengan cara mengambil sebagian harta orang-orang kaya yang pelit untuk disalurkan kepada mereka. Bertahun-tahun melakukan usaha itu meskipun risiko yang amat berbahaya dan mengancam jiwanya.

la melihat, satu-satunya cara membantu mereka yang hidupnya terancam dengan cara memindahkan sebagian harta orang kaya kepada mereka yang betul-betul membutuh-kannya.

Almarhum mengambil barang-barang orang kaya sama sekali bukan untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk warga yang hidupnya terancam. Kisah ini mencontohkan adanya sebuah kenyataan malaikat berjubah iblis.

Kebalikan dari artikel terdahulu ada juga orang yang seperti iblis berjubah malaikat. Pelajaran penting bagi kita, jangan kita terkecoh dengan penampilan fisik atau jangan terlalu cepat memvonis orang lain itu iblis. Siapa tahu di mata Tuhan itu malaikat.

Kita juga diminta untuk menampilkan sejujurnya diri kita sebagai apa adanya. Kedua kisah nyata yang dicontohkan bukanlah yang paling ideal secara umum untuk kita lakukan. Agama kita menganjurkan untuk menampilkan diri sebagai manusia ideal.

Yakni, satunya kata dengan perbuatan dan satunya penampilan dengan isi hati yang sebenarnya, sehingga orang lain tidak gampang terkecoh. Hidup dengan apa adanya akan menjanjikan ketenangan hidup daripada menampilkan kepura-puraan dan kemunafikan.

Kisah ini iuga mengingatkan kita agar jangan terkecoh seseorang yang menggunakan “jubah malaikat” karena boleh jadi isinya adalah iblis. Jangan memandang enteng orang yang menggunakan “jubah iblis” karena boleh jadi isinya adalah malaikat. Allah SWT Mahapintar menguji hamba-Nya.

Prof Dr Nasarudin Umar MA, Guru Besar Ilmu al-Quran Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Khazanah Ramadhan Republika, 16 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This