Oleh Prof. Dr. Asep Saepudin Jahar, MA

Permasalahan yang sedang dihadapi perguruan tinggi, khususnya Pascasarjana, adalah kontribusi akademik dan kebijakan terapan bagi masyarakat. Posisi penting ini adalah suatu keniscayaan bagi Pascasarjana. Namun demikian, pada kondisi saat ini tradisi pembelajaran (teaching) masih dominan dibanding bidang riset dan publikasi ilmiah. Oleh karena itu rekognisi Pascasarjana di tingkat internasional masih rendah. Penyebab utamanya adalah kontribusi risetnya rendah dan belum menjadi rujukan bagi lembaga akademik di dunia. Upaya mencapai ke arah itu kemudian dirumuskan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan konsep “Kampus Merdeka” dan “Merdeka Belajar”.

Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta memiliki posisi penting dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Arah SPs UIN Jakarta juga dituntut untuk menghasilkan riset, publikasi ilmiah, dan kontribusi konkret dalam merespons kebutuhan masyarakat, baik dalam konteks sosial, ekonomi, teknologi maupun budaya. Keunggulan SPs UIN Jakarta akan terlihat dengan baik jika berhasil memberikan inovasi orisinal bagi kebutuhan masyarakat. Sebab itu kehadiran pascasarjana di perguruan tinggi di dunia sebagai pusat inovasi, pembaruan dan produktivitas sumber daya manusia adalah suatu hal yang urgen untuk segera dilakukan.

Jika kita melihat pada kondisi saat ini, apakah harapan ideal atau posisi strategis pascasarjana telah menunjukkan hasil yang diharapkan. Bagaimana hambatan yang muncul dalam pengembangan pascasarjana saat ini? Pertanyaan ini dapat dijawab dan diamati dengan menelusuri bukti-bukti atau hasil yang telah dicapai. Jika pencapaian itu masih belum menunjukkan hasil yang diharapkan, berarti perlu upaya langkah-langkah strategis untuk mencapai hal itu. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan, skala prioritas dan sistem monitoring yang baik. Salah satu poin penting dalam Permendikbudrisdikti No. 3 Tahun 2020, yaitu Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN PT). SN PT ini perlu diterapkan di pendidikan tinggi, yaitu budaya akademik dan kontribusi hasil riset.

Untuk memperkuat budaya akademik sekolah pascasarjana atau pascasarjana secara umum membutuhkan sistem dan lingkungan yang kondusif. Paling tidak, ada tiga aspek penting yang perlu diperkuat di pascasarjana. Pertama, penguatan budaya riset dan publikasi ilmiah. Tradisi ini perlu diperkuat oleh sivitas akaemika pascasarjana. Riset tidak bisa dilakukan secara parsial dalam pola kerjanya. Mahasiswa, misalnya, sebagai aset dan sumber daya yang bisa berkembang atau mendorong perubahan tradisi riset perlu diberdayakan dengan optimal.  Karya inovasi ilmiah akan hadir dari pertisipasi mahasiswa.

Sebab itu interaksi akademik secara formal dan informal antara dosen dan mahasiswa menjadi prasyarat penting. Tradisi ini memang tidak secara otomatis terjadi, tetapi perlu sistem kerja yang hidup antara mahasiswa dan dosen sebagai partner dan sekaligus mentor. Pemahaman yang masih menguat saat ini, yaitu adanya jarak antara dosen dan mahasiswa. Atau dengan kata lain, dosen ditempatkan serba tahu dan menguasai bidang keilmuan, sementara mahasiswa belum tahu atau masih menggali keilmuan. Di sinilah letak ketimpangan yang berakibat pada lemahnya budaya akademik.

Kedua, di perguruan tinggi yang mapan di dunia seperti Eropa dan Amerika, mahasiswa adalah aset dan sumber daya dalam pengembangan riset. Sebab itu hasil riset yang dikerjakan bidang ilmu tertentu dikerjakan secara kolaboratif. Di sinilah tradisi yang baik dan perlu dikembangkan untuk menghasilkan tradisi dengan mapan. Pembimbingan dosen kepada mahasiswa adalah riset secara kolaboratif, bukan beban bagi dosen. Output riset mahasiswa adalah hasil kerja kolaborasi yang bisa dipublikasikan atau hak cipta suatu karya dan hak paten adalah bagian dari kerja bersama. Keunggulan hasil riset mahasiswa tidak serta merta hasil kerja mahasiswa sendiri, tetapi juga bagian dari gagasan dosen.

Ketiga, aspek yang mendasar untuk pengembangan pascasarjana, yaitu internasionalisasi. Aspek internasionalisasi mengandung arti rekognisi, sistem kerja dan sumber daya. Pada aspek rekognisi, pengembangan pascasarjana perlu mengarah pada tuntutan dan pengembangan yang berlangsung di dunia. Sebab itu keunggulan utama dari kajian pascasarjana adalah distingsi kajian yang menjadi ciri khas. Contohnya, studi Islam adalah bagian penting di SPs UIN Jakarta. Keunikan yang dibutuhkan untuk ciri khas kajian Islam, yaitu keunikan dalam konteks Islam, keidonesiaan dan kemanusiaan. Keunggulan kajian ini akan menjadi ciri dalam setiap pembelajaran dan risetnya. Perbedaan kajian dari perguruan tinggi lain akan menjadi keunggulan tersendiri dan berbeda dari perguruan tinggi lain di dunia.

Bagaimana pengalaman akademik internasional bisa menguat di suatu Lembaga akan ditentukan oleh tingkat kerja sama yang dibuat. Pengalaman akademik pascasarjana tidak mungkin dicapai secara optimal tanpa belajar atau sharing dengan dunia luar. Pertukaran dosen dan mahasiswa, atau tepatnya menghadirkan dosen dan mahasiswa asing, adalah proses penguatan akademik, di samping saling memperkuat lembaga. Pola interaksi ini akan terbangun jika ditetapkan dalam rancangan yang baik, ke arah mana pascasarjana akan dikembangkan. Di sinilah mahasiswa dapat belajar atau memperkuat wawasan luar negerinya dalam menangkap perubahan.

Beberapa aspek yang dijelaskan di atas adalah sebagian kecil bagaimana pascasarjana perlu dikembangkan. Penguatan ini bisa tercapai bila dibangun komunikasi aktif antara dosen dan mahasiswa, pengelola lembaga dan stakeholders. Kemajuan ini perlu didasarkan pada standar yang telah dibuat dan dilakukan evaluasi untuk pengembangan dan membuat standar baru sebagai target berkelanjutan. Demikian pola dan strategi pengembangan pascasarjana yang memerlukan kerja sama dan keterlibatan semua stakeholders. (ns)

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Share This