Zikrullah biasa diartikan kontemplasi secara mendalam sambil menyebut atau mengingat (nama) Allah. Zikrullah memiliki beberapa jurus dan tingkatan. Yang paling standar dan populer ialah zikir, yaitu mangingat atau menyebut nama Allah SWT tanpa ketentuan dan persyaratan.

Kapan saja seseorang akan melakukannya dan apa pun yang akan dibaca, termasuk Alquran atau Asma al-Husna, dan amalan-amalan zikir lainnya yang diperoleh dan guru spiritual.

Jika zikir sudah dilembagakan, misalnya, ditentukan bacaan yang harus dibaca, jumlah distandarkan, dan cara serta waktu pembacaannya diatur, maka zikir itu meningkat menjadi wirid. Wirid dari akar kata warada berarti “datang mengambil air.”

Seakar kata dengan ward berarti bunga mawar. Makna wird dalam hal ini sama dengan dzikr. Bedanya, yang pertama biasanya tidak ditentukan jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya, sementara yang kedua (wird) biasanya ditentukan jenis, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalannya. Yang pertama biasanya bersitat insidental dan kedua bersifat permanen. Dasarnya dalam Alquran, antara lain, QS al-Ahzab/38: 42, QS al-Ra’d/13:281.

Wirid banyak mendapatkan perhatian khusus para ulama, terutama kalangan sufi, karena secara umum dapat dilaksanakan dan bisa memberikan bekas (atsar) yang mendalam bagi para pelakunya.

lbnu ‘Athaillah mengatakan, “Jangan kita menganggap rendah hamba yang memiliki wirid dan ibadah tertentu karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah.”

la menambahkan, “Jika Engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, tetapi lama ia tidak mendapatkan pertolongan-Nya, maka jangan sampai Engkau meremehkan apa yang Allah telah berikan itu kepadanya, hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang arif ataupun cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid.”

Orang-orang yang sudah memperoleh warid dengan sendirinya orang itu memilki kepribadian zuhud, dalam arti tidak lagi akan didikte oleh kepentingan dunia. Dia sudah diberi kemampuan untuk memilki dirinya sendiri tanpa tergantung pada kekuatan makhluk. Baginya, cukup dengan kasih sayang Allah SWT. Warid sudah menjadi semacam cahaya Tuhan (Nur Allah) yang memantulkan diri dalam batin dan pikirannya, sehingga kekuatan itu meniadi perisai terhadap berbagai kemungkaran.

Kalaupun mereka tergelincir, secepatnya ia akan mengendalikan diri, kembali ke jalan yang benar atau yang lebih benar. Warid tidak perlu dicari, tetapi akan datang dengan sendirinya ketika amalan dan komitmen wird dan zikir hamba-Nya betul-betul dijalankan secara konsisten. Berbahagialah orang yang memelihara zikir dan wiridnya.

Tingkatan benkutnya ialah tafakur, dari akar kata fakkara-yufakkiru berarti berpikir dan merenung lebih mendalam. Sebagaimana halnya zikir dan wirid, tafakur Juga salah satu media pendekatan diri kepada Allah SWT.

Bedanya, yang pertama dan yang kedua, seolah-olah yang aktif adalah manusia, sedangkan yang ketiga (tafakur) seolah-olah manusia pasif, bahkan vakum, tidak ada lagi kata-kata, yang ada hanya kebisuan dan keheningan. Tafakur biasanya merupakan kelanjutan dari zikir dan atau wind. Rasulullah bersabda (dikutip dalam kita Hadaiq al-Haqaiq karya al-Razi) bahwa, “Tafakur sejam lebih baik daripada setahun ibadah.” Dasar tafakur dalam Alquran, antara lain: QS al-Ra’d/13: 3, QS Ali ‘lmran/3: 191.

Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Quran Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Khazanah Ramadhan Republika, Selasa, 5 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This