Nabi Muhammad SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awwal tahun 571 M. Kelahirannya disambut penuh sukacita dan bahagia. Beliau lahir dan dibesarkan di keluarga Bani Hasyim yang sederhana, mulia, dan terhormat.

Darah dan trah kepemimpinannya mengalir dalam diri dan kepribadiannya. Kakeknya, Abdul Muthallib adalah pemimpin suku Quraisy yang sangat disegani. Dia diberikan kepercayaan menjaga dan mengelola Baitullah, Ka ‘bah dan sumur zamzam.

Sejak kecil, karena ayahnya sudah meninggal. Muhammad dirawat dan dididik kakeknya lalu pamann.ya, Abu Thalib. Masa remaja dan pemuda dilalui dengan aneka pelajaran kehidupan yang menempanya menjadi pribadi mandiri, bersih,jujur, ulet, sabar, dan simpatik.

Meskipun masyarakat jahiliyah saat itu berperilaku amoral, seperti mencuri (korupsi), minum (miras), main judi, madon (berzina, prostitusi), dan madat (mengonsumsi narkoba), membunuh bayi perempuan, melecehkan perempuan. dan sebagainya. Muhammad muda sama sekali tidak terpengaruh dekadensi moral masyarakatnya.

Akhlak beliau sungguh mulia, bersih, jujur, amanah, supel dalam bergaul, tidak pernah berbohong, suka menolong, tidak peah melakukan perbuatan amoral yang dilakukan kaumnya.

Oleh kakek dan pamannya, Muhammad dididik mampu menyelesaikan masalah sosial. Melalui profesi pertamanya, menggembala binatang ternak, beliau dilatih dapat merawat dan menjaga keutuhannya.

Dengan ikut berdagang, beliau dididik untuk melayani pembeli dengan jujur, ramah, dan simpatik sekaligus belajar berkomunikasi, bernegosiasi, dan berinteraksi sosial ekonomi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Prestasi terbaiknya sebelum diangkat menjadi Rasul adalah kesuksesannya mendamaikan konflik antarsuku saat peletakan kembali Hajar Aswad (batu hitam) akibat terhempas banjir bandang yang melanda Ka’bah.

Saat itu, hampir semua pemimpin suku bersitegang dan nyaris terjadi konflik berdarah. karena masing-masing pemimpin suku mengedepankan egonya untuk menjadi orang yang mendapat kehormatan meletakkan kembali Hajar Aswad itu pada tempat asalnya.

Di tengah situasi yang memanas itu, muncul usulan agar ditunjuk seorang mediator sebagai juru damai. Disepakatilah orang pertama yayang masuk Masjidil Haram adalah mediatornya. Muhammad ditakdirkan sebagai orang pertama yang masuk Masjidil Haram.

Semua representasi suku di Makkah, sepakat mendapuk Muhammad sebagai penengah mereka. Resolusi konflik yang dilakukan beliau sungguh cerdas dan sangat akomodatif. Genuin Solution yang ditawarkan kepada semua kepala suku diterima secara bulat.

Beliau kemudian menggelar serban lalu meletakkan Hajar Aswad itu di atasnya. Semua kepala suku diberi kesempatan memegang dan mengangkat Hajar Aswad itu secara bersama-sama, lalu diletakkannya di tempat asalnya.

Semua puas dengan solusi cerdas, dialogis, dan akomodatifnya, sehingga beliau mendapat “al-Amin Award,” penghargaan paling bergengsi sebagai tokoh paling dapat dipercaya dari masyarakatnya. Konflik berdarah dapat dicegah, sehingga kehidupan masyarakatnya tetap damai dan harmoni.

Edukasi Harmoni

Sebagai pemuda cerdas dan tepercaya, Muhammad telah memainkan peran sosial sangat penting dalam mendamaikan konflik antarsuku. Beliau memahami betul karakter masyarakatnya yang mudah marah dan bersitegang, hanya karena persoalan sepele.

Beliau selalu mengedepankan spirit kekeluargaan, kebersamaan, persaudaraan, persatuan, dan perdamaian. Pesan damai dan harmoni dari resolusi konflik antarsuku tersebut merupakan bukti bahwa sejak muda Muhammad itu antikekerasan dan permusuhan.

Jalan damai dan harmoni dalam berinteraksi sosial diyakini sebagai solusi efektif untuk transformasi sosial menuju masyarakat yang bersatu, bersaudara, dan berkeadaban.

Maka itu, Maulid Nabi Muhammad SAW sejatinya sarat dengan edukasi harmoni, sebuah model pendidikan keberagamaan yang mengutamakan kerukunan dan kedamaian sosial.

Edukasi harmoni yang diteladankan Nabi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menunjukkan pentingnya aktualisasi nilai-nilai kasih sayang, harmoni, integrasi, toleransi, dan hidup damai.

Edukasi harmoni melalui Maulid Nabi sangat penting diaktualisasikan dengan mengembangkan rasa saling memahami, tidak hanya dalam bentuk hidup berdampingan secara rukun dan damai, tetapi juga saling menerima dan menghargai perbedaan dan kebinekaan dalam bingkai NKRI.

Aktualisasi edukasi harmoni dapat dilakukan dengan komitmen kuat dan tulus untuk menjadikan Nabi sebagai teladan terbaik (uswah hasanah) sepanjang masa dalam merajut tali persaudaraan dan persatuan kebangsaan.

Teladan kenabian dalam edukasi harmoni merupakan pelajaran profetik yang pernah diteladankan Nabi ketika melakukan pembebasan kota Makkah (Fathu al-Makkah).

Dengan jiwa besar dan kesatria, Nabi memaafkan dan memberikan pengampunan massal kepada penduduk Makkah yang pernah memusuhi, mengusir, bahkan hendak membunuhnya.

Edukasi harmoni saat Fathu al-Makkah ini merupakan model pendidikan penuh kearifan yang dicatat sejarah peradaban Islam dengan tinta emas, karena berlangsung aman dan damai. tidak setetes darah pun menetes.

Tidak ada politik balas dendam, permusuhan dan kekerasan, karena semua diperlakukan adil, dilindungi, dijamin keselamatan dan keamanannya. Dengan edukasi harmoni, mayoritas yang dahulu memusuhi Nabi berbalik masuk Islam dan menjadi pcngikut setianya.

Keadaban Digital dan Sosial

Edukasi harmoni memang sarat dengan nilai-nilai keadaban, kemanusiaan, dan kebangsaan. Nilai keadaban dewasa ini mulai tergerus oleh oportunisme, pragmatism, dan egoisme sosial politik.

Padahal, edukasi harmoni menghendaki pengarusutamaan keadaban digital dan sosial melalui prnsip wasathiyyah, jalan moderasi, sikap keagamaan tengahan.

Maulid Nabi hendaknya mengedukasi warga bangsa yang plural untuk senantiasa mengedepankan keadaban digital dan sosial dengan mengaktualisasikan tujuh pesan Islam Wasathiyyah (Bogor Message, 1-3 Mei 2018).

Pertama, tawassuth, sikap moderat, tidak ekstrem dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Kedua, i’tidal (berlaku adil dan proporsional) dalam segala aspek kehidupan, sehingga semua diperlakukan adil di depan hukum.

Ketiga, tasamuh (toleransi) dengan menghargai perbedaan dan kebinekaan dalam sistem demokrasi berbasis nilai dan nilai hukum. Keempat, syura (gemar bermusyawarah) dalam memecahkan persoalan dan mencari solusi terbaik bagi kemaslahatan umat dan bangsa.

Kelima, islah (rekonsiliasi dan mewujudkan perdamaian) sesama warga bangsa dan masyarakat dunia. Keenam, qudwah hasanah (keteladanan utama dan terbaik) dengan akhlak mulia, integritas moral, dan karakter positif dalam bermasyarakat. berbangsa, dan bernegara.

Ketujuh, muwathanah (keberbangsaan) dengan komitmen sepenuh hati menjadi warga negara yang baik (good citizen), kontributif, dan konstruktif dengan tidak mudah menebar hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan provokasi yang berpotensi mengadu domba dan memecah belah kesatuan bangsa.

Edukasi harmoni melalui peringatan Maulid Nabi sesungguhnya merupakan pesan utama Alquran.

“Dan demikian pula Kami telah mcnjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….” (QS al-Baqarah [2]:143).

Jika nilai-nilai moderasi tersebut dapat disemai, dikembangkan, dan dibudayakan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, niscaya keadaban digital dan sosial bisa menjadi solusi strategis dalam meredam potensi konflik sosial politik.

Jadi, edukasi harmoni dalam spirit Maulid Nabi harus membuahkan keadaban digital dan sosial yang positif dan preventif, meskipun dihadapkan pada jalan terjal dan mendaki, karena memang edukasi dan habituasi hidup harmoni adalah solusi. Allahumma shalli ala Muhammad. (mf)

Dr Muhbib A Wahab MA, Dosen Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Republika, Rabu, 21 November 2018.

Share This