Keterasingan dan Kesepian

Ketika gawai menjadi jembatan komunikasi, aplikasi menjadi “guru” belajar, dan ruang di dunia maya menjadi tempat “kongkow” yang paling diminati banyak orang, masih layakkah kita mengidealisasikan indahnya “keluarga”?

Paradigma tentang keluarga kontemporer, terlebih pada masyarakat kota yang sudah kadung terindoktrinasi frasa “kerja” telah menyurut menjadi sekumpulan orang-orang yang diikat administrasi perkawinan.

Perkawinan mengalami peluruhan makna dari gerbang awal membangun keluarga yang akan menopang peradaban dan keberlangsungan umat manusia. Menjadi ikatan formal agar sepasang manusia bisa hidup serumah (saja).

Dalam khazanah sosiologi, keluarga adalah unit sosial yang menjadi ranah. Ranah tempat mengeksplorasi modal, aksi, nilai, dan tentu saja harapan. Persenyawaan antara berbagai modal dengan aksi dan nilai yang kemudian dibingkai harapan inilah, yang berkontribusi pada kelanggengan masyarakat dan peradaban.

Peradaban ditegakkan oleh masyarakat; masyarakat disokong komunitas; fondasi komunitas adalah keluarga. Jika keluarga merapuh, alamat peradaban pun bisa mengalami kebangkrutan.

Kembali ke pembahasan paragraf awal, tentu jawabannya tidak mudah. Bukan soal bahwa paradigma keluarga yang tertanam sejak kecil di taman pikiran kita tidak pernah mengalami kontekstualisasi. Namun implementasi yang lebih rill dari konsepsi keluarga ideal pun, agak susah menemukan pengalaman empirisnya.

Akhirnya yang terjadi adalah “gap” antara indah dan mewahnya definisi keluarga dengan realitas empiris yang terjadi dalam keseharian sejarah keluarga.

Dalam konteks terdegradasinya nilai-nilai keluarga ideal, apa yang terjadi dalam “ruang” kota bisa dideskripsikan lebih “hebat” lagi. Banyak keluarga di kota yang teralienasi dengan frasa hegemonik kerja itu.

Ayah, ibu, dan anggota keluarga lainnya dituntut memahami secara sama dengan definisi kerja yang mekanistik tersebut. Kerja adalah pergi pagi pulang malam. Kerja akhirnya mengalami destruksi makna dari ibadah yang didasarkan kepada pengabdian, menjadi kewajiban kepada pemberi pekerjaan, sehingga banyak rumah tempat unit keluarga di kota mengalami keterasingan, kesepian, karena penghuninya pergi. Mereka datang malam dengan tetap membawa “semangat” kerja itu ke rumah, ke meja makan, ke ruang depan, bahkan ke halaman rumah. Jika demikian halnya, bagaimana masa depan keluarga kota? (mf)

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Pengembangan Masyarakat Islam Bidang Ilmu Sosiologi Pedesaan, Sumber Koran Rakyat Merdeka, Edisi Jumat, 28 September 2018 Dimuat Ulang oleh Redaksi Berita UIN Online 1 Oktober 2018

Share This