Mengajak orang bersabar itu gampang,tetapi menjalani sendiri kesabaran itu ternyata amat berat. Kita sering mengajak orang bersabar, tetapi begitu kita berhadapan suatu masalah, malah lebih mabuk dari pada orang lain yang pernah diajak bersabar.

Sabar daklam Alquran bertingkat-tingkat. Ada shabir, mashabir, dan shabur  yang penjelasannya akan diuraikan nanti. Kisah tentang sulitnya meraih predikat shabur sering dilukiskan di dalam Alquran.

Salah satu diantaranya ialah kisah Nabi Ayyub  A.S. yang dikenal paling sabar di dalam Alquran. Ia dicoba oleh Allah SWT dengan penyakit aneh. Sekujur tubuhnya hancur dan membusuk. Bukan hanya itu, luka di sekujur tubuhnya membusuk dan dikerumuni belatung.

Akibatnya, ia dikucilkan oleh masyarakat, termasuk oleh istri yang selama ini mendampinginya. Ia dibuang jauh diluar perkampungan disebuah pegunungan. Ia hidup di dalam sebuah gua yang gelap dan merasa sedih.

Suatu ketika, ia termenung dan memandangi belatung yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia tiba-tiba berubah pandangan terhadap belatung-belatung yang menggerogoti tubuhnya.

Ia menjadikan belatung-belatung tersebut sebagai teman dan mengatakan, wahai para belatung, sahabatku, makanlah sepuas-puasnya dagingku karena kalian semua sekarang sudah menjadi sahabatku.

Kalau hari-hari yang lampau kalian kuanggap musuhku, kemana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkan kalian, sekarang satu-satunya yang bersedia menemaniku di kegelapan malam di dalam gua ini hanyalah kalian.

Semua orang, termasuk anggota keluargaku, membuang aku di tempat yang jauh ini. Setelah sekian lama Allah SWT menguji nabi Ayyub AS, suatu ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk melakukan sesuatu, “Hantamkanlah kakimu; iilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.“ (QS Shad [38]: 42).

Setelah Nabi Ayyub memukul kan kakinya ke tanah, tiba-tiba mencuak aliran air jernih dan sejuk dari bekas tumit Nabi Ayyub. Navi Ayyub minum dan mandi dari air itu dan tiba-tiba ia merasakan perubahan yang amat besar di dalam dirinya.

Ia tidak menyaksikan lagi luka di dalam dirinya dan sahabat-sahabat belatungnya tiba-tiba menghiang entah kemana. Bahkan bekas-bekas luka pun tidak tampak pada diri Nabi Ayyub. Ia lalu sembah sujud kepada Allah SWT dan bersyukur atas diakhirinya seluruh cobaan pada dirinya.

Ketika Nabi Ayyub masuk kembali ke perkampungan di dalam kota dengan wajah tampan seperti semula, semua orang memujaya, termasuk istrinya.

Namun, ketika sudah telanjur bersumpah, akan mencambuk istrinya, kalau ia kembali sembuh, ia diminta Allah SWT untuk menunaikan sumpahnya tampa menimbulkan rasa sakit pada istrinya.

“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS Shad [38]: 44).

Hal menarik untuk di perhatikan dari kisah ini ialah, AllahSWT menyebut Nabi Ayyub sebagai orang yang shabir, bukan mashabir atau shabur. Di dalam Alquran ada tiga istilah yang sering di gunakan Allah, yaitu shabir, mashabir, dan shabur.

Kata shabir menunjukan kepada orang yang sabar, tetapi kesabarannya masih temporer, masih memberi batas, dan sewaktu-waktu masih bisa lepas kontrol, sehingga kesabarannya menjadi lenyap.

Sedangkan kata mashabir berarti orang yang sabar dan kesabarannya bersifat permanen tanpa batas. Kalau ada orang yang membatasi kesabaran dalam kurun waktu tertentu, seperti ungkapan “tapi kesabaran kan punya batas”, maka orang itu belum masuk kategori mashabir.

Sedangkan shabur hanya berlaku untuk Allah SWT. Karena itu, salah satu sifat Allah yang di tempatkan dalam asma yang terakhir ialah al-Shabur.

Allah SWT disebut al-Shabur karena Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ulah dan tingkah laku hamba-Nya. Sekufur dan sezalim apa pun hamba-Nya Ia tetap tidak bergeming dan tetap bersedia untuk memaafkannya.

Ini bukti bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih-Penyayang dari pada Tuhan Maha Penyiksa dan Pendendam.

Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Koran Republika, 27 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This