Basement FIDIK, Berita UIN Online— Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIK) UIN Jakarta gelar Closing Ceremony Islamic Da’wa Celebration Milad MD ke-20 pada, Selasa (24/10) ,bertempat di Basement FIDIK UIN Jakarta.

Kegiatan yang mengangkat tema Pemuda Katanya ini, dihadiri Ketua Jurusan Manajemen Dakwah, Drs Cecep Castrawijaya MA, dan Gus Candra Malik (Budayawan dan Agamawan). Selain itu, acara ini dihadiri pula oleh sivitas akademika Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.

Kepada BERITA UIN Online, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah, Ali Alatas menjelaskan bahwah, rangkaian Milad MD ke-20 telah terlaksana dengan lancar, sejak tanggal 19–24 Oktober 2017.

“Berbagai acara telah kami laksanakan, diantaranya Diskusi Kepemudaan dengan mengangkat tema Sastra dan Dakwah: Peluang dan Tantangan Pemuda, Diskusi Publik dengan tema Pemuda dalam Kacamata Literasi, dan beberapa perlombaan untuk katagori mahasiswa, serta diakhiri dengan Closing Ceremony Mengaji Sastra bersama Gus Chandra Malik,” papar Ali.

Dalam sambutannya, Cecep berharap kegiatan ini dapat menambah khazanah keilmuan mahasiswa Manajemen Dakwah khususnya, serta menambah kecintaannya kepada jurusan.

“Usia 20 tahun itu bukan usia yang muda, dan merupakan usia yang produktif. Maka dari itu, saya berharap mudah-mudahan Manajemen Dakwah UIN Jakarta selalu maju dan menjadi jurusan terunggul dalam berbagai prestasinya,” harapnya.

Di tempat yang sama, Gus Chandra Malik dalam pemaparannya mengutip prakata Luxemburg bahwa sebagai kreasi, sastra tidak ada dengan sendirinya. Sastrawan menciptakan dunia baru, meneruskan penciptaan itu, dan menyempurnakannya.

“Sastra bersifat otonom, karena tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Sastra dipahami dari sastra itu sendiri. Sastra bersifat koheren dalam arti mengandung keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi,” jelasnya.

Sastra, masih menurut Cecep, juga menyuguhkan sintesis dari hal-hal yang bertentangan di dalamnya. Lewat media bahasanya sastra mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan

“Begitulah, sebenarnya karya sastra Indonesia pun (cerpen, novel, puisi, dan drama) sangat kaya dengan tema atau nafas keagamaan,” tandas Cecep menyudahi pemaparannya. (lrf/sf)

 

Share This