Mengisi pergantian tahun, dari 2018 ke 2019, tidak ada hal istimewa yang saya lakukan. Pukul 21.00 sudah memejamkan mata. Pukul 24.00 lebih sedikit terbangun karena mendengar suara kembang api. Saya buka tirai jendela. Dari lantai dua, di dalam kamar saya melihat keluar. Kembang api warna-warni menghiasi langit malam itu. Suara khasnya memecah kebisuan malam. Pijar warna-warninya menerangi gelap malam. Indah sungguh malam itu.

Saya turun ke lantai satu. Mengambil wudu. Salat. Setelah zikir saya menulis. Kemudian kembali terpejam di lantai dua. 1 Januari 2019 saya habiskan dengan main badminton. Hobi saya. Tempatnya tidak jauh dari rumah saya. Biasanya, Sabtu dan Minggu saya paksakan bermain olahraga ini.

Hidup adalah tentang mengisi waktu. Kemarin, hari ini, dan esok hari. Tepatnya mengisi sisa waktu yang diberikan Tuhan pada manusia. Pergantian tahun adalah momentum kontemplasi tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bakar ikan, pesta duren, meniup terompet, atau meluncurkan kembang api adalah tradisi zaman.

Masa lalu tidak mungkin terulang lagi. Ada lembaran pahit dan manis. Tidak perlu disesali dan diratapi. Tidak perlu air mata berlebih. Ada hal-hal yang dalam kendali diri, ada juga yang di luar kemampuannya. Sudah suratan takdir. Sudah menjadi sejarah hidup manusia.

Masa lalu adalah cermin perjuangan manusia tentang mewujudkan mimpi dan tanggung jawab sebagai diri dan makhluk sosial. Kadang sesuai harapan, kadang tidak. Kadang membahagiakan, kadang menyedihkan. Semuanya saling melengkapi dan mengisi setiap helai hidup manusia.

Masa lalu merupakan titik tolak untuk melangkah di masa kini, yang kurang diperbaiki, yang sudah bagus ditingkatkan. Dia adalah tangga pertama untuk meniti tangga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Kita perlu waktu menyendiri untuk menyadari kelemahan dan kekurangan diri.

Masa lalu adalah cermin baik dan buruk amal manusia. Dia penanda siapa diri kita sebenarnya di mata Tuhan. Sebelum waktu tiba menghadap Tuhan, perbaikilah amalan sekuat kemampuan agar hidup tenang. Kebaikan membawa kedamaian. Keburukan melahirkan kegelisahan.

Masa kini adalah hari ini. Detik ini. Menit ini. Kita jalani dengan hal-hal positif dan berarti. Jauhkan semua pikiran negatif. Bersihkan hati dan pikiran dari kebencian, dendam, dengki dan iri. Kerjakan tugas kantor, tugas rumah, tugas masyarakat dengan baik dan seimbang. Jangan lupa bahagia. Kerjakan hobi agar tidak stres. Bahagiakan orang lain dan diri sendiri. Jalani semuanya dengan senyuman dan penuh kebahagiaan.

Syukuri apa pun yang ada dalam diri. Berbagilah rezeki dengan orang lain. Sekecil apa pun. Hari ini adalah peluang beramal. Jangan menunda-nunda kebaikan. Sabar terhadap ujian, besar maupun kecil. Tidak ada orang yang luput dari ujian. Tetap melangkah dengan senyum adalah pilihan. Setiap ujian punya peluang: meluluskan atau menggagalkan. Mendewasakan atau mengerdilkan.

Masa depan itu tak pasti. Entah kapan tiba saat kita menghadap Tuhan. Saat kita tidak bisa beramal kebaikan. Saat kita menyesal. Kita menangis sedih. Telah menyia-nyiakan waktu berharga pemberian Tuhan. Tidak peduli nikmat besar yang telah dilimpahkan atas kehidupan. Lalai dan lalai. Menunda dan menunda.

Berapa lama kita masih punya waktu? Mengukir sejarah kita. Satu hari , satu minggu, satu bulan, atau satu tahun? Ini rahasia Tuhan untuk menguji manusia. Siapa sajakah yang sadar tentang waktu. Waktu yang sempit dan sementara. Waktu menanam kebaikan. Tetaplah berada dalam jalur kebaikan, meski rintangan menghadang.

Tidak usah risaukan masa depan. Isilah hari ini dengan kebaikan. Esok dan lusa tetap melakukan kebaikan. Kebaikan bagi orang lain, juga diri kita sendiri. Selamat tahun baru 2019. Semoga lebih baik dari 2018. Tuhan membimbing orang-orang yang berbuat baik. Orang-orang yang bahagia melihat yang lain bahagia karena kebaikannya. Apa yang telah kita berikan kepada mereka dan kepada bangsa ini? 

Dr Jejen Musfah MA, Kepala Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Jakarta. Diterbitkan pada 8 Januari 2019.(lrf/mf)

Share This