oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Allah SWT berfirman, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Sesembahan (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad/47: 19).

Menurut Syaikh Abdullah bin Umar al-Hadhramiy dalam Safinah al-Shalat, makna “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah” adalah “Aku mengerti”. Termasuk, “Aku meyakini dengan hatiku, dan aku bisa menjelaskan atau mengikrarkan di hadapan orang lain bahwa tidak ada tuhan yang pantas disembah secara benar dalam realitas, kecuali Allah”.

Mengapa begitu? Karena, lanjut Syaikh Abdullah, “Ssebab Allah tidak membutuhkan apapun selain diri-Nya”. Apalagi, “Selain diri-Nya, Allah adalah Zat yang setiap makhluk membutuhkan-Nya”. Berbagai hal yang terkait dengan kesempurnaan di dunia ini, hanya Dia yang pantas mensifatinya. Karena selain Allah tidak ada yang sempurna.

Namun Allah tidak dapat disifati dengan segala kekurangan. Karena Allah adalah “Zat yang disucikan dari segala kekurangan”. Kekurangan hanya milik manusia yang selama ini mengaku sempurna. Menurut Syaikh Muhammad Nawawi Banten dalam Syarah Sullam al-Munajat, “Kekurangan bagi Allah adalah mustahil”.

Mengapa begitu? Kata Syaikh Nawawi, “Sebab sesuatu yang kurang itu membutuhkan yang lain yang lebih, untuk menyempurnakan dan menghilangkan kekurangan tersebut”. Oleh karena itu yang kurang itu pasti adalah makhluk, yang lemah, yang dikasih hidup, diberi makan, diminumi air, dan setiap saat diberi oksigen agar kehidupannya dapat terus berlangsung.

Tidak seperti manusia, tulis Syaikh Abdullah, “Allah tidak membutuhkan teman, tidak beranak”, dan sudah barang tentu tidak diberanakkan. Kata Syaikh Nawawi Banten, “Nabi Isa bukan anak Allah. Allah telah menjadikan Nabi Isa tanpa seorang ayah”. Bagi Allah semua itu mudah. Apa saja yang dikehendaki-Nya tidak membutuhkan peran manusia.

Eksistensi Allah berbeda dengan eksistensi manusia. Eksistensi manusia semu dan menipu, seperti fatamorgana. Eksistensi Allah tidak ada yang dapat menandingi dan menyerupai. Mengapa? Sebab, tulis Syaikh Abdullah, “Tidak ada (apapun dan seorang pun) yang menyerupai Allah, baik Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun semua perbuatan Allah”.

Selanjutnya makna, “Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah” adalah “Aku mengetahui dan aku meyakini dengan hatiku dan aku bisa menjelaskan atau mengikrarkan di hadapan orang lain bahwa penghulu kita, Nabi Muhammad SAW yang anak Abdullah adalah seorang hamba Allah. Beliau adalah utusan Allah kepada seluruh makhluk”.

Menurut Syaikh Abadullah, Nabi Muhammad SAW adalah “Orang yang benar ihwal apa saja yang disampaikannya”. Oleh karena itu, “Semua manusia beriman wajib membenarkan kerasulan beliau”. Bahkan mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad SAW adalah jalan menuju surga. Karena, dalam bahasa Arab, kata “sunah” itu secara leksikal berarti “jalan”.

Syaikh Abdullah berpesan, agar manusia tidak mendustai Nabi Muhammad SAW. Alasannya, “haram hukumnya bagi siapa saja mendustai dan melanggar beliau”. Agar tidak dihukumi sebagai orang yang zalim dan kafir, seorang muslim harus senantiasa berkata benar tentang Nabi Muhammad SAW dan menjalankan sunah-sunah beliau.

Menurut Syaikh Abdullah, “Barangsiapa yang tidak mematuhi Nabi Muhammad SAW, maka dia adalah pendurhaka yang merugi”. Semoga saja kita termasuk orang-orang yang diberi pertolongan dan kemampuan untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW secara sempurna. Bagitu juga Allah anugerahi kita kemampuan berpegang teguh kepadanya secara sempurna.

Kita mohon kepada Allah agar kita termasuk orang yang menghidupkan syariat Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan sedang memperjuangkan agama-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita, orangtua kita, anak kita, saudara kita, semua yang kita cintai, dan kaum muslimin dalam kelompok Nabi Muhammad SAW.

(mf/sam)

Share This